بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Saudaraku…

Akhir-akhir ini kita temukan banyak dari kaum muslim yang rela meninggalkan perintah Rabb dan RasulNya demi sebuah perkara dunia. Rela untuk menggadaikan aqidahnya, melupakan jaminan SurgaNya, serta meremehkan ancaman NerakaNya, hanya demi untuk membela pihak yang nyata-nyata membenci Islam. Bahkan berani mengingkari, mendustai, serta menghina ayat-ayat suci Al-Quran. Berbagai dalih dan alasan mereka kemukakan, diantaranya alasan karena pihak tersebut telah memberikan berbagai macam kebaikan, kemudahan, dan kesejahteraan bagi masyarakat luas. Bahwa pihak tersebut membawa banyak perubahan bagi masyarakat dari yang dahulu buruk, sekarang menjadi baik. Bahwa pihak tersebut bersih dari berbagai macam masalah dan keburukan seperti yang banyak terjadi pada orang-orang sebelumnya.

Mereka merasa yakin dengan pendiriannya dan terpesona dengan segala bentuk pemberian yang telah mereka peroleh dari sesama manusia. Mereka sungguh lupa bahwa sejatinya Allah ta’ala, Sang Pencipta manusia, memberikan kepada mereka jauh lebih banyak dibandingkan apa yang telah mereka terima tersebut!

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

 “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An Nahl : 53).

Adakah pemberian manusia tersebut senilai dengan dua buah bola mata mereka ?!

Adakah pemberian manusia tersebut senilai dengan sepasang tangan dan kaki mereka ?!

Atau adakah pemberian manusia tersebut lebih berharga dibandingkan oksigen yang mereka hirup setiap hari secara gratis tanpa perlu membayar sedikitpun ?!

Belum lagi nikmat lainnya dari Allah ta’ala yang tidak akan bisa untuk disebutkan satu per satu. Memang sungguh semua nikmat Allah ta’ala tidak akan pernah sanggup untuk dihitung!

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim : 34)

Saudaraku…

Dalam keseharian kita pasti pernah ada atau bahkan banyak orang yang memberikan berbagai macam kebaikan kepada kita dalam perkara dunia. Mungkin itu berupa hadiah, bantuan, pertolongan, atau yang semisalnya. Adalah hal yang wajar jika kita merasa senang, bahagia, atau bahkan terpesona atas kebaikan orang tersebut. Islam melalui Nabi-Nya yang mulia, shalallahu ‘alaihi wasallam, memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Maka berterima kasih kepada sesama manusia adalah merupakan salah satu dari bentuk rasa syukur kita kepada Allah ‘azza wa jalla yang telah memberikan kebaikan tersebut kepada kita melalui orang lain sebagai perantaranya. Sehingga ketika kita menyadari bahwa kepada sesama manusia saja kita harus berterima kasih atas kebaikan mereka, maka tentunya kita dituntut untuk lebih berterima kasih lagi kepada Allah ‘azza wa jalla, Sang Pencipta manusia, atas segala nikmat, kebaikan, dan karunia yang telah Dia berikan kepada kita mulai sejak kita masih berada dalam kandungan hingga detik ini.

Sebagaimana orang yang telah berbuat baik kepada kita lalu kita juga bersikap baik kepada orang tersebut, bersedia memberikan bantuan serta pertolongan kepada dia, dan seterusnya. Maka demikian pula Allah ‘azza wa jalla yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang akan memberikan lebih banyak lagi kebaikan kepada hamba-hambaNya yang pandai bersyukur.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih” (QS. Ibrahim : 7)

Dan diantara bentuk rasa syukur serta terima kasih kita kepada Allah ‘azza wa jalla adalah dengan melaksanakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya secara kaffah atau totalitas. Bukan seperti sebagian orang yang memilih-milih mana yang enak bagi dirinya untuk dilakukan dan mana yang kurang enak untuk ditinggalkan. Seakan-akan agama itu adalah seperti menu makan prasmanan yang bisa dipilih sebagian-sebagian saja.

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah ta’ala berfirman menyeru para hambaNya yang beriman kepadaNya serta membenarkan rasulNya untuk mengambil seluruh ajaran dan syari’at, melaksanakan seluruh perintah, dan meninggalkan seluruh larangan sesuai dengan kemampuan mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/335).

Allah ‘azza wa jalla telah memberitakan kepada kita secara jelas dari mana dan dengan apa kita berpedoman dalam urusan beragama. Bagaimana kehidupan yang kita jalani selama di dunia ini diatur mengikuti petunjuk Sang Pencipta dunia. Dan akhir dari tujuan hidup kita ini agar bisa menggapai tempat di Surga serta terhindar dari kobaran api Neraka. Maka hendaknya petunjuk-petunjuk inilah yang harus jadikan sebagai pegangan hidup kita secara konsisten.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (QS. Al Baqarah : 2)

Dan dalam ayat yang lain Allah ‘azza wa jalla berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Syaikh Salim al-Hilali mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Saudaraku…

Ketika Allah dan RasulNya telah memberikan jalan keselamatan kepada kita berupa petunjuk hidup yang jelas dan tegas, maka hendaknya kitapun harus meyakininya dengan sepenuh hati. Meyakini bahwa petunjuk ini adalah merupakan petunjuk yang haq, berupa sebaik-baiknya petunjuk, dan tidak ada keraguan atasnya atau petunjuk lain yang lebih baik darinya.

Semoga Allah ‘azza wa jalla senantiasa memberikan taufiq dan hidayahNya kepada kita, menjaga hati kita diatas kecintaan serta ketaatan hanya kepada Allah dan RasulNya, serta mematikan kita dalam keadaan tidak membawa dosa syirik sedikitpun.

Aamiin…

Facebook Comments
Bagi para pembaca yang Ingin Berdonasi untuk kemajuan dakwah kami

Bisa transfer ke rekening BNI Syariah kantor cabang Surakarta 0454-730-654  

Mohon konfirmasi setelahnya ke  Facebook.com/KamusIslam

LEAVE A REPLY