Hukum Melafazhkan Niat

0
119

Hukum Melafazkan Niat

Niat tempatnya dihati, bukan diucapkan dengan lisan. Hal ini berdasarkan kesepakatan para imam kaum muslimin dalam seluruh amal ibadah, seperti bersuci (thaharah), shalat, zakat, puasa, haji, membebaskan budak serta berjihad dijalan Allah dan lainnya. Kalau lisannya mengucapkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang diniatkan dalam hatinya, maka yang diperhitungkan adalah apa yang diniatkan, bukan dilafazhkan. Walaupun ia mengucapkan dengan lisannya bersama niat, sedangkan niat belum sampai kedalam hatinya, maka hal itu tidak mencukupi menurut kesepakatan para Imam kaum muslimin. Karena sesungguhnya niat itu jenis tujuan dan kehendak yang pasti.

Al-Qadhi Abu ar-Rabi’ Sulaiman bin Umar asy-Syafi’i Rahimahullahu berkata: “Melafazhkan niat dibelakang imam (shalat) bukanlah perkara yang Sunnah, bahkan hukumnya makruh. Sedangkan jika sampai mengganggu orang lain, maka hukumnya haram. Barangsiapa yang mengatakan bahwa melafazhkan niat termasuk Sunnah, maka ia salah dan tidak halal bagi siapapun berkata tentang agama Allah tanpa ilmu.”1

Abu Abdillah Muhammad bin Qasim at-Tunisi al-Maliki Rahimahullahu berkata: “Niat termasuk amalan hati dan melafazhkan niat adalah bid’ah. Di samping itu juga dapat mengganggu orang lain.”2

Talaffuzh (melafazhkan) niat tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membaca nawaitu raf’al hadatsil ashghar ketika wudhu. Beliau tidak membaca nawaitu raf’al hadatsil akbar ketika mandi janabah (junub). Beliau pun tidak melafazhkan niat ushalli fardha Zhuhru arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati dan seterusnya ketika mulai shalat atau ketika memulai puasa dan lainnya.

Melafazhkan niat tidak pernah diriwayatkan oleh seorangpun, baik dengan riwayat yang shahih, dha’if, maupun mursal. Tidak seorang pun dari para Sahabat yang meriwayatkan dan tidak ada seorang pun dari Tabi’in yang menganggap baik masalah ini dan tidak pula dilakukan oleh empat Imam Madzhab yang masyhur: Abu Hanifa, Malik, asy-Syafi’i dan Ahmad.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan talaffuzh niat meskipun hanya sekali dalam shalatnya dan hal ini juga tidak pernah dilakukan oleh para khilafahnya. Ini (tidak melafazhkan niat) adalah Sunnah beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam serta Sunnah para Sahabat dan tidak ada petunjuk yang lebih sempurna melainkan petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau:

“Sungguh, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.”3

Imam Jalaluddin as-Suyuthi Rahimahullahu (wafat th. 921H) berkata: “Diantara perkara yang termasuk bid’ah adalah waswas dalam niat shalat. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak juga oleh para Sahabat beliau. Mereka tidak pernah mengucapkan sesuatu bersama niat shalat, selain hanya takbiratul ihram saja. Allah Subhana wa ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

‘Sesungguhnya, telah ada pada (diri) Rasulallah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah’ (Q.S Al-Ahzab [33]: 21).”

Imam as-Syafi’i Rahimahullahu mengatakan bahwa orang yang waswas dalam niat shalat dan bersuci adalah orang yang bodoh tentang syari’at atau tekah rusak pikirannya.4

Sebab, kekeliruan orang-orang mengikuti madzhab Syafi’i adalah karena kesalahfahaman dalam memahami perkataan beliau Rahimahullahu. Imam asy-Syafi’i Rahimahullahu mengatakan: “Apabila orang berniat haji dan umrah sudah mencukupi meskipun tidak dilafazhkan, berbeda dengan shalat karena shalat tidak sah melainkan dengan ucapan.”

Imam an-Nawawi Rahimahullahu mengatakan: “Telah berkata para sahabat kami (ulama dari madzhab Syafi’i) bahwa orang yang memahami bahwa ucapan itu (dengan mengucapkan ushalli…) adalah keliru, karena bukan demikian maksud Imam asy-Syafi’i. Akan tetapi yang di maksud oleh beliau adalah ucapan mulai shalat, yaitu takbiratul ihram.”5

Jadi, dengan demikian pra ulama memfatwakan bahwa melafazhkan niat adalah bid’ah dan mungkar dan jauh dari petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga bermanfaat.

  1. Al-Qaulul mubin fi Akhta-il Mushallin (hlm. 91).
  2. Ibid (hlm. 91).
  3. Shahih: Muslim (867)
  4. Al-Amru bil Ittiba’ wan Nahwu ‘anil Ibtida’ (hlm. 295-296), tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman.
  5. Al-majmu’ Syarhul Muhadzdzab (III/277).

Disusun oleh Debi Nependi dengan diringkas

Dikutip dari buku Syarah Arba’in An-Nawawi: Memuat 42 Hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam Tentang Fondasi Ajaran Islam dan Faedah-Faedahnya. Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas: Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i. Cetakan ketiga: 2015 (hlm. 28-30)

Facebook Comments
Bagi para pembaca yang Ingin Berdonasi untuk kemajuan dakwah kami

Bisa transfer ke rekening BNI Syariah kantor cabang Surakarta 0454-730-654  

Mohon konfirmasi setelahnya ke  Facebook.com/KamusIslam

LEAVE A REPLY