Cerita Ringan Penuh Makna Tentang Niat Sholat

0
2014

Cerita Ringan Penuh Makna Tentang Niat Sholat

Ba’da maghrib tadi seorang pelanggan toko kami datang untuk membeli barang. Seperti biasa, selain membeli barang dia juga mengajak ana untuk saling sharing atau tukar pikiran, khususnya masalah – masalah agama, karena dia adalah orang yang mulai mengenal Sunnah, dan masih tahap transisi atau membanding – membandingkan. Hari ini dia kembali mengajak ana untuk berbincang tentang masalah lafazh niat shalat.

Pelanggan : “ Kalau di Ahlus Sunnah seperti kamu, ada gak bacaan ‘Ushalli’ atau niat ketika mau shalat ??”

Ana : “Di kami, niat itu bukan amalan lisan (ucapan), tetapi itu adalah amalan hati. Jadi tidak dilafazhkan atau dirangkai menjadi kata – kata atau kalimat. Cukup menghadirkannya di dalam hati saja.”

Pelanggan : “Jadi bagaimana caranya untuk niat ketika mau shalat ??”

Ana : “Seperti halnya bapak, barusan ini pulang dari kantor. Sebelum bapak pulang ke rumah, bapak berniat mampir ke toko saya untuk membeli beberapa barang. Nah, apakah niat bapak mampir ke toko saya dengan mengucapakan: Saya niat ke toko itu untuk membeli ini dan itu ?? Atau bapak cukup diam saja tanpa melafazhkannya ??”

Pelanggan : “Saya diam saja. Tidak mengatakan seperti itu.”

Ana : “Nahh…Begitu juga halnya dengan niat ketika mau shalat, tidak perlu dilafazhkan. Sama ketika bapak berniat mau ke toko saya, atau berniat mau pergi kerja, dll.”

Pelanggan : “Jadi kalau mau shalat berjamaah atau shalat sendirian, cara membedakan niatnya bagaimana ?”

Ana : “Kalau bapak masih berpikiran seperti itu, berarti bapak masih menganggap niat itu adalah amalan lisan, bukan amalan hati. Niat itu tidak perlu dirangkai menjadi kata – kata atau kalimat, karena itu adalah amalan hati. Amalan hati berbeda dengan amalan lisan.”

Pelanggan : “Jadi cukup shalat saja langsung tanpa mengucapkan ini itu?”

Ana : “Iya. Dulu sudah pernah saya terangkan kalau hadits itu terbagi menjadi beberapa tingkatan/derajat. Ada hadits yang shahih, yang lemah dan yang palsu. Lafazh niat seperti ‘Ushalli…’ atau ‘Nawaitu…” itu tidak ada di dalam hadits palsu atau lemah, apalagi di hadits yang shahih. Jadi tidak kami amalkan. Begitu juga dalam kitab – kitab besar seperti kitabnya Imam Syafi’i sendiri tidak ada penyebutan lafazh niat seperti itu.”

Pelanggan : “Wah saya jadi bingung nih mana yang benar… Teman saya yang dari aliran **** malah mengatakan kalau lafazh niat seperti ‘Ushali’ itu memang tidak ada, tapi diganti dengan bahasa kita sendiri saja sesuai yang kita inginkan, seperti: Saya mau shalat ini berjamaah…dst. Bagaimana itu ??”

Ana : “Hehehe… Itu sama saja dengan melafazhkan niat. Sekarang saya mau tanya. Jika niat itu dilafazhkan, apa lafazh niat ketika mau Thawaf ? atau lafazh niat ketika mau membaca Al Qur’an ??”

Pelanggan : (Terdiam)

Ana : “Tidak tahu kan ?? Karena memang tidak ada. Anehnya, kenapa lafazh niat itu hanya diperuntukkan untuk shalat saja ?? Bukankah ibadah itu banyak ?? Kenapa tidak ada lafazh niat untuk Thawaf, membaca Al Qur’an, Zakat, bersenggama, dll?

Pelanggan : “Kalau kita tetap melafazhkan niat, kenapa ??”

Ana : “Itu termasuk perkara yang diada – adakan dalam agama, dan itu dilarang. Saya mau tanya lagi. Bukankah tidak ada lafazh niat ketika mau membaca Al Quran ?? Iya, karena sebatas pengetahuan saya memang belum ada yang membuatnya. Berhubung belum ada yang membuat lafazh niat membaca Al Quran, sekarang saya mau mencoba membuatnya atau menciptakannya dengan kalimat – kalimat karangan saya sendiri, kemudian mengamalkannya dan menyebarkannya ke manusia agar mereka mengamalkannya. Bagaimana menurut bapak, apakah dibolehkan seperti itu ??”

Pelanggan : (Terdiam. Sepertinya jadi tambah bingung. Tapi itu lebih baik dari sebelumnya, karena sekarang dia sudah mengetahui hujjah atau alasan dari orang – orang yang tidak melafazhkan niat. Tinggal dia memilih mana yang terbaik setelah dia mendapat ilmunya).

Akhirnya pelanggan itu menjawab, tidak boleh seperti itu. Nah, ini kesempatan lagi untuk menjelaskan kembali kepadanya agar dia semakin paham. Namun qadarullah, tiba-tiba datang pembeli ke toko, sehingga ana terpaksa meninggalkannya dan melayani pembeli tersebut. Disaat ana melayani pembeli, pelanggan itu memohon pamit untuk segera pulang dikarenakan diluar sudah mulai turun hujan. Dan perbincangan ana dengannya terpaksa terputus karena keadaan yang tidak memungkinkan.

Semoga di lain waktu bisa dilanjutkan kembali, dan Allah memberinya hidayah diatas Sunnah.

(Kejadian nyata, dengan sedikit perubahan atau penambahan kata).

Sumber : http://gizanherbal.wordpress.com

Facebook Comments
Bagi para pembaca yang Ingin Berdonasi untuk kemajuan dakwah kami

Bisa transfer ke rekening BNI Syariah kantor cabang Surakarta 0454-730-654  

Mohon konfirmasi setelahnya ke  Facebook.com/KamusIslam

LEAVE A REPLY