Dakwah Salafi via Radio Rodja

0
362

Dakwah Salafi via Radio Rodja

INFOGRAFIK HL Gerakan Anti Bidah

Bagaimana sebuah kampung di Bogor menjadi salah satu kantung Salafi di Indonesia, memiliki masjid dan radio, dan diterima oleh warga setempat?

Kampung Tengah adalah sebuah desa di Cileungsi, sebuah kawasan industri di Bogor, tempat ada sebuah kantor polisi, rumah-rumah di sepanjang jalan, dan sekitar 250 meter dari mulut jalan ada sebuah masjid besar bernama Al Barkah. Di sana juga ada kompleks perumahan As Sunnah dan yayasan pendidikan bernama Cahaya Sunnah.

Apa yang menonjol dari Kampung Tengah adalah gambaran aktivitas warga yang mengikat diri sebagai jemaah Salafi atau Salaf al-Shalih (para pendahulu yang saleh), yang mempraktikkan paham Hanbali, mazhab paling ketat dari empat mazhab hukum dalam Islam Sunni. Pengikutnya menjalankan contoh-contoh teladan Nabi Muhammad dan generasi pertama umat Islam. Ajaran Salafi dikembangkan oleh tiga pemikir klasik terkemuka di kalangan Wahabi. Mereka adalah Ibnu Taimiyah (1263-1328), Muhammad Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (1292-1350), dan Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792).

Satu siang awal Maret lalu, menjelang jam pulang sekolah, orang-orang lalu lalang di jalan Kampung Tengah, tempat sebagian besar ruko berdiri di sepanjang gang yang menjual busana muslim, obat herbal, kurma, dan sebagainya. Sejumlah kaum perempuan mengenakan nikab, pakaian terusan berwarna hitam hingga pinggang dengan kain cadar menutupi wajah kecuali mata. Sedang kaum pria berjenggot dan bercelana cingkrang.

Cerita Kampung Tengah menjadi salah satu kantung jemaah Salafi bermula dari dakwah Yahya Badrusalam sepulang dari Universitas Islam Madinah pada 2001. Kampus Madinah, bersama kampus Ibnu Saud di Riyadh, adalah dua institusi pendidikan di Arab Saudi yang menanamkan ajaran Salafi. Para pelajarnya di Indonesia dari alumnus Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, lembaga pendidikan asing pertama di Indonesia yang operasionalnya di bawah langsung pemerintahan Saudi demi menyebarkan paham Wahabi di dunia Islam.

Badrusalam memulai ceramah di masjid Al Barkah setiap pekan sebelum sebesar sekarang. Pada 2005, guna melebarkan dakwah Salafi dan semakin banyak jemaahnya, ia mulai mendirikan Radio Rodja lewat Yayasan Cahaya Sunnah. Rodja singkatan dari Radio Dakwah Ahlussunnah wal Jamaah.

Agus Hasannudin, direktur utama PT Radio Rodja, mengatakan inisiator Rodja adalah para pemuda Masjid Al Barkah, masjid peninggalan wakaf orangtuanya. Pemuda itu gerah karena kajian keagamaan mereka di dalam masjid kerap dituding sesat. Salah satu tudingan itu, misalnya, pengurus masjid melarang orang berselawat.

“Dibilang aliran Masjid Al Barkah enggak boleh selawatan. Padahal bukan itu. Nabi sudah ajarkan cara berselawat. Tidak boleh ditambah-tambahkan,” ujarnya.

Agus mengatakan kesalahpahaman masyarakat terhadap mereka terjadi karena “informasi yang tidak utuh.” Dari situlah ide membuat radio dakwah muncul. Pertimbangannya, radio merupakan media paling efisien dari sisi biaya sekaligus cocok untuk menyasar warga sekitar.

Bermodal uang sekitar Rp3,5 juta, Radio Rodja mengudara untuk kali pertama, Maret 2005. Ketika itu semua masih serba sederhana. Alat pemancar dirakit sendiri. Studio siaran memanfaatkan salah satu ruangan Masjid Al Barkah. Radius jangkauan siarannya pun hanya sekitar 5 kilometer.

Rupanya kehadiran Radio Rodja mendapat respons positif masyarakat, demikian Agus. Warga yang semula antipati mulai datang mengikuti pengajian.

“Dari yang tadinya benci, setelah ada radio, banyak yang tersadarkan bahwa dugaan mereka ini salah,” katanya.

Seiring bertambahnya pendengar, persoalan kemudian muncul. Pada 2007 siaran Rodja tertimpa oleh saluran radio milik Angkatan Laut yang memakai jangkauan frekuensi lebih besar. Gara-gara itu para pendengar protes. Mereka heran radio dakwah seperti Rodja menyiarkan program musik. Akhirnya, sejumlah pendengar berinisiatif menggelar pertemuan di Masjid Al Barkah, tempat Rodja bermarkas.

Agus bercerita, pertemuan dihadiri sekitar 40 orang pendengar. Mereka sepakat Rodja harus diselamatkan. Forum akhirnya memutuskan mengganti frekuensi siaran Rodja dari 107.9 FM menjadi 756 AM. Untuk modal awal, para pendengar mengumpulkan dana.

“Dari 40 orang itu kumpulin duit sampai sekitar 80 juta atau 90 juta,” katanya.

Sejak bermigrasi ke gelombang AM pada Mei 2007, Radio Rodja mengalami kemajuan pesat. Karakteristik sinyal AM memiliki daya jangkau jauh lebih luas ketimbang sinyal FM. Rodja dapat menjangkau pendengar dari pelbagai wilayah, baik dari radio analog (756 AM) maupun radio streaming. Jangkauan frekuensinya merentang dari Jabodetabek hingga ke Cikampek.

Pada 26 Februari 2017, Radio Rodja menggelar acara Tablig Akbar bertajuk “Pilar-Pilar Stabilitas Keamanan Negara” di Masjid Istiqlal. Ia mengundang Abdurrazzaq Al-Badr, dosen akidah dari Universitas Islam Madinah, guru banyak murid pendakwah Salafi di Indonesia termasuk di Bogor. Acara ini berjalan sukses. Jemaah memadati lima lantai Istiqlal. Uang infak yang terkumpul mencapai Rp350 juta.

Agus mengatakan Abdurrazzaq merupakan salah satu narasumber favorit di Rodja. Kajian-kajian keagamaannya di Masjid Nabawi, Madinah, selalu disiarkan langsung oleh Rodja setiap Minggu sore.

“Kami live dari Madinah. Ada yang terjemahkan ustaz kita,” katanya.

Agus melihat salah satu kunci keberhasilan Rodja adalah konsistensi mereka berdakwah dengan pijakan Alquran dan hadis. Mereka juga membuka sesi interaktif bagi para pendengar dengan para pembicara kompeten. Kebanyakan pembicara adalah para sarjana lulusan Madinah.

Aturan Ketat Siaran

Sebagai radio dakwah, Rodja menerapkan aturan ketat dalam siarannya. Konten siaran hanya boleh berisi kajian agama, murotal (membaca) Quran, dan pembacaan hadis. Pengelola melarang keras pemutaran lagu dan bunyi musik. Mereka meyakini musik haram dalam Islam.

“Dosa memainkan alat musik,” kata Agus, “setara dengan dosa berzina.”

Pengelola juga melarang perempuan ambil bagian dalam siaran. “Perempuan itu gambar setan. Membelakangi setan, menghadap setan,” ujarnya.

Tak cuma itu, Rodja juga selektif menentukan narasumber. Agus mengatakan, dari sekitar 10 narasumber yang dimiliki Rodja pada awal siaran, delapan di antaranya pernah menimba ilmu di Madinah. Mereka dipilih berdasarkan hasil rekomendasi sesama narasumber.

“Kami harus sepakat ustaz itu harus bagus. Ente kalau benerin komputer saja ke ahlinya, masak urusan agama asal-asalan,” ujar Agus.

Dituduh Corong Wahabi

Sikap saklek pengelola Rodja dalam menerapkan aturan siaran membuat mereka kerap mendapat pelbagai label. Salah satunya dilabeli “radio corong Wahabi” yang didanai Arab Saudi.

Menurut Agus, tuduhan ini tidak berdasar. Ia mengatakan, hingga sekarang tidak ada sepeser pun dana asing yang masuk melalui Rodja, termasuk dana dari Saudi. Siaran-siaran Rodja, kata Agus, bisa bertahan berkat sumbangan pendengar.

Ajakan menyumbang diumumkan melalui radio maupun teks berjalan di stasiun Rodja TV. Sumbangan dibagi dalam empat kategori: Rp50 ribu, Rp100 ribu, Rp200 ribu, dan suka rela. Agus mengatakan, dalam sebulan, Rodja bisa menerima uang sekitar Rp150 juta. Dari sumbangan inilah mereka menjalankan operasional harian tanpa iklan.

“Itu yang bikin saya sakit hati. Rodja dibilang radio corong Wahabi. Dana Rodja dibiayai oleh Arab. Tulis: tidak ada bantuan dari luar negeri,” katanya meyakinkan saya.

Tuduhan sebagai radio kaum Wahabi juga datang karena pengurus Rodja menolak Maulid Nabi Muhammad, Isra Mikraj, dan tahlilan bagi orang meninggal. Agus mengaku heran dengan tuduhan tersebut dan baginya itu tidak masuk akal. Sebab, ujarnya, penolakan terhadap maulid dan Isra Mikraj juga dilakukan sejumlah ormas Islam besar lain di Indonesia.

“Tidak boleh maulid Nabi dan Isra Mikraj bukan kami saja. Muhammadiyah dan Persis juga begitu,” katanya, merujuk dua organisasi Islam di Indonesia yang berdiri pada awal abad 20. (Baca: Cap Wahabi dan Dinamika yang Tidak Hitam-Putih)

Kendati begitu, Agus membagi sedikit pandangannya mengenai gerakan Wahabi dan Salafi. Menurutnya, jika yang dimaksud sebagai Wahabi adalah gerakan Islam yang berpedoman pada Alquran dan Sunah—sebagaimana diinisiasi oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, Rodja tidak keberatan dengan tuduhan itu.

“Muhammad bin Abdul Wahahb pendiri di zaman Raja Saud. Itu yang berjuang untuk tauhid. Itu benar. Kalau kami dinisbatkan ke itu, saya bangga karena dia tauhidnya bagus,” ujarnya.

Abdul Wahhab meletakkan paham Wahabisme, doktrin keagamaan resmi Saudi, saat beraliansi dengan Muhammad bin Saud (1710-1765), pangeran lokal di Najd, yang mendirikan negara Saudi pertama pada 1744. Wahabisme menekankan kemurnian ajaran Islam dan melarang praktik atau tradisi masyarakat setempat.

Agus tidak keberatan jika Rodja dianggap kelompok Salafi, yang berarti mengikuti sahabat generasi pertama Rasulullah. “Kalau menisbatkan agama ke mereka kan bagus. Orang-orang terdahulu. Salafi kan bukan organisasi. Itu mah cuma penisbatan saja,” katanya.

Pengelola Rodja tak ambil pusing atas pelbagai tudingan terhadap mereka. Agus mengatakan, Rodja hanya bertugas menyampaikan “apa Islam yang menurut mereka benar.” Dari situ, katanya, masyarakat bisa menilai apakah siar yang dilakukan Rodja sesat atau tidak.

Menurut Agus, penolakan terhadap dakwah Rodja tidak melulu dilandasi alasan teologis. Kadang ada juga faktor ekonomi. Ia mencontohkan dakwah Rodja menentang Maulid Nabi Muhammad, Isra Mikraj, tahlilan yang berpotensi mengganggu para ustaz yang biasa mendapat bayaran dari acara tersebut.

“Marah kan mereka. Bisa enggak ngebul dapur. Nah, bagi mereka, radio itu seperti monster,” ujarnya.

Rodja menentang kekerasan atas nama Islam. Menurut Agus, bom bunuh diri itu haram hukumnya karena tidak sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah. Pandangan ini juga disampaikan Rodja dalam program mutiara hadis. “Bahwa bom bunuh diri bukan jihad,” ujarnya.

Saat ini sinisme masyarakat sekitar terhadap aktifitas dakwah Rodja sudah semakin berkurang. Dalam radius 1 kilometer, Agus memperkirakan, tak banyak lagi masyarakat yang memandang Rodja sebagai aliran sesat. Bahkan kantor polisi terdekat kerap mengundang salah seorang ustaz dari Rodja untuk mengisi materi keagamaan.

“Ada yang semakin benci. Ada yang semakin jatuh cinta. Tujuan kami hanya untuk dakwah yang berdasarkan Alquran dan hadis,” katanya.

Iwan, 40 tahun, Ketua RT 03/RW 03 ialah warga asli Kampung Tengah. Ia mengatakan masyarakat tidak mempersoalkan dakwah Rodja. Sebaliknya, masyarakat justru merasa terbantu dengan kehadiran Rodja.

“Alhamdulillah adanya Masjid Rodja (Masjid Al Barkah) masyarakat merasakan manfaatnya. Misalnya ada sumbangan bansos,” ujarnya.

Perbedaan pandangan (khilafiyah) mengenai ibadah seperti merayakan maulid, Isra Mikraj, dan tahlilan tidak membuat masyarakat antipati. Ini karena, menurut Iwan, meski pihak Rodja tidak sepakat dengan tradisi keagamaan tersebut—lazim dilakukan oleh mayoritas muslim Sunni dari kalangan Nahdlatul Ulama—mereka tidak mempersoalkannya.

“Yang suka maulid dan tahlilan itu masing-masing orang. Rodja istilahnya bodo amat. Mau maulid silakan. Tidak mencampuri secara keras,” katanya.

Ucapan senada disampaikan Samsuddin, Ketua RW 03. Menurutnya, kehadiran Masjid Al Barkah turut membawa nama baik kampung. Sejak Rodja hadir, banyak warga luar Cileungsi yang membeli tanah dan membangun rumah di sini. Sejumlah tokoh tenar seperti artis Tengku Wisnu, Cesar, dan Eva Arnaz juga sering mengaji di sini.

“Kalau orang dekat sama Masjid Rodja tenang pikiran,” ujarnya.

Siaran Favorit

Menurut Agus, direktur utama Radio Rodja, sesi konsultasi keluarga merupakan salah satu program paling diminati pendengar.

“Dari situ problem umat bisa terjawab. [Programnya] ngaji mulai dari fikih, tauhid, tajwid, bahasa Arab, dan baca Alquran. Semua diminati pendengar. Kalau dari pertanyaan, yang banyak soal permasalahan keluarga. Biasanya hari Selasa. Bersama ustaz Kholid Samhudi lulusan Madinah,” ujar Agus, direktur utama Radio Rodja.

Muhammad Basith, penyiar Radio Rodja, mengatakan program favorit di Rodja adalah pembahasan kitab yang disebut kajian subuh. Kitab yang dibahas di antaranya Sahih Bukhari (kitab koleksi hadis yang disusun Imam Bukhari), silsilah hadis sahih, Matan Abu Syuja (kitab fikih ringkas karya Abu Syuja, ahli fikih dari mazhab Syafi’i).

Saat kali pertama Rodja mengudara, ujar Basith, tak ada penyiar maupun narasumber yang dibayar. “Malah masing-masing mengeluarkan kemampuan dari harta maupun skill. Kita perlu profesional baru bikin pengkajian,” katanya.

Tidak semua mereka yang bekerja di Rodja mengandalkan pemasukan dari siaran. Ada sebagian orang Rodja yang bekerja sebagai karyawan, pedagang, dan guru. “Saya pedagang baju busana Muslim,” ujarnya.

Terlepas dari bermacam tudingan yang dialamatkan kepada pihak Rodja, Basith mengatakan tidak ada yang salah dalam dakwah. Menurutnya, kalau pun ada kesalahan, itu datang dari pendakwah bukan dari apa yang didakwahkan.

“Namanya dakwah, ada yang suka dan tidak. Itu sudah lumrah,” ujarnya.

Sumber : Tirto

Tinggalkan Balasan