ANAK YANG TIDAK MENGADAKAN TAHLILAN, ITULAH ANAK YANG BERBAKTI

0
109

*ANAK YANG TIDAK MENGADAKAN TAHLILAN, ITULAH ANAK YANG BERBAKTI*

Acara tahlilan dan yasinan kematian, tidak pernah diajarkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, para sahabatnya, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Demikian juga tidak diajarkan oleh para imam madzhab. Andaikan itu baik, tentu mereka sudah mengerjakannya.

Dan tentunya hampir setiap hari ada orang mati di masa mereka. Andaikan ada acara-acara seperti itu, sudah banyak riwayat yang shahih dan jelas yang sampai kepada kita.

Anak yang tidak mengadakan tahlilan dan yasinan atas kematian orang tuanya, sering diejek dan dituduh tidak berbakti kepada orang tuanya.

Sekarang perlu diubah paradigmanya, justru anak yang tidak mengadakan tahlilan, itulah anak yang berbakti.

Kenapa?

Karena dalam hadits dari Umar bin Khathab radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ الميِّتَ يُعذَّبُ ببكاءِ أهلِه عليه

“Sesungguhnya mayit itu diadzab (di dalam kuburnya) ketika keluarganya menangisinya” (HR. Bukhari no. 1304, Muslim no. 929).

Dalam riwayat lain:

المَيِّتُ يُعَذَّبُ في قَبْرِهِ بِما نِيحَ عليه

“Sesungguhnya mayit itu diadzab (di dalam kuburnya) ketika keluarganya melakukan niyahah terhadapnya” (HR. Bukhari no. 1292, Muslim no. 927).

Padahal kumpul-kumpul di rumah duka dan makan-makan termasuk niyahah. Jarir bin Abdillah radhiallahu’anhu mengatakan:

كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ ، وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ : مِنْ النِّيَاحَةِ

“Dahulu kami (para sahabat Nabi) menganggap kumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan di sana, setelah mayit dimakamkan, ini semua termasuk niyahah” (HR. Ahmad no. 6866, Ibnu Majah no. 1612. shahih).

Bahkan Imam Asy Syafi’i mengatakan:

وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ ، فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ ، وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مَعَ مَا مَضَى فِيهِ مِنْ الْأَثَرِ

“Aku melarang ma’tam, yaitu kumpul-kumpul (di tempat mayit). Walaupun tidak menangisinya. Karena perbuatan ini memperbarui kesedihan dan membebani keluarga mayit setelah mereka tertimpa kesedihan” (Al Umm, 1/318).

Perhatikan, justru acara kumpul-kumpul di rumah mayit dapat menjadi sebab disiksanya mayit di dalam kubur.

Maka anak yang tidak mengadakan acara seperti ini justru adalah anak yang berbakti kepada orang tua karena ia berusaha menyelamatkan orang tuanya dari adzab kubur.

Mendoakan orang tua yang meninggal tentu baik, namun bisa kapan pun dan dimanapun. Dengan doa-doa yang Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ajarkan atau doa-doa dengan bahasa sendiri. Setiap saat kita doakan mereka yang sudah wafat terutama di waktu-waktu mustajab doa. Tidak perlu membuat ritual baru yang tidak pernah diajarkan agama.

Semoga Allah memberi taufik.

✍🏻 Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📺 Twitter : salafittiba
🖥 Youtube : salaf ittiba
🌏 Web : salafittiba.com
💻 Facebook : Salaf Ittiba
📱 Instagram : @salaf.ittiba
🌐 Telegram : t.me/salafittiba

Tinggalkan Balasan