HUKUM DAN TATA CARA MEMBAYAR FIDYAH

0
195

HUKUM DAN CARA MEMBAYAR FIDYAH

Simak Video_Pendek On YouTube: https://youtu.be/IEofdq2qdrc

Simak juga artikel berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم

DUA GOLONGAN YANG WAJIB MEMBAYAR FIDYAH

1. Orang tua yang sudah tidak mampu berpuasa, belum pikun (hilang akal) hendaklah membayar fidyah, apabila mampu membayar.
Adapun orang tua yang tidak merasa berat berpuasa, tidak pula puasa membahayakannya dan masih mampu berpuasa, maka wajib berpuasa.
.
Orang tua yang sudah pikun (hilang akal) maka tidak wajib puasa dan tidak pula fidyah
.
Orang tua yang tidak mampu puasa dan tidak pula mampu membayar fidyah maka tidak wajib puasa tidak pula fidyah.
.
2. Orang sakit yang sudah sulit diharapkan kesembuhannya hendaklah membayar fidyah. Adapun orang sakit yang masih dapat diharapkan kesembuhannya maka kewajibannya adalah qodho’ bukan fidyah.

Allah ta’ala berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya hendaklah membayar fidyah, (yaitu): memberi makan orang miskin.” [Al-Baqoroh: 184]

Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,

لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الكَبِيرُ، وَالمَرْأَةُ الكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا، فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

“Ayat ini tidak di-mansukh (tidak dihapus hukumnya) bagi laki-laki tua dan wanita tua yang tidak mampu berpuasa, hendaklah memberi makan untuk setiap hari puasa satu orang miskin.” [Riwayat Al-Bukhari]

Al-Imam Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,

وأجمعوا على أن للشيخ الكبير والعجوز العاجِزَيْن عن الصوم أن يفطرا

“Para ulama sepakat bahwa orang tua dan orang yang tidak mampu berpuasa, boleh berbuka.” [Al-Ijma’, 60, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 123]

DUA CARA MEMBAYAR FIDYAH

1. Membagi bahan makanan mentah kepada orang-orang miskin, untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan memberi makan satu orang miskin, sebanyak 1/2 sho’ (senilai kurang lebih 1,5 kg) bahan makanan pokok di negerinya.[1]

Nilai ½ sho’ berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

لِكُلِّ مِسْكِينٍ نِصْفَ صَاعٍ

“Setiap satu orang miskin setengah sho’.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ka’ab bin ‘Ujroh radhiyallahu’anhu]

2. Menyiapkan makanan jadi dan memberikannya kepada orang-orang miskin, setiap satu porsi untuk satu hari puasa, sebagaimana yang dilakukan Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu,

فَقَدْ أَطْعَمَ أَنَسٌ بَعْدَ مَا كَبِرَ عَامًا أَوْ عَامَيْنِ، كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، خُبْزًا وَلَحْمًا

“Anas bin Malik ketika telah tua, beliau memberi makan selama satu atau dua tahun, setiap satu hari puasa satu orang miskin, roti dan daging.” [Riwayat Al-Bukhari]

BEBERAPA PERMASALAHAN TERKAIT FIDYAH

1. Fidyah hendaklah diberikan dalam bentuk makanan tidak diuangkan,[2] karena Allah ta’ala berfirman,

فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” [Al-Baqoroh: 184]

Dan para sahabat radhiyallahu’anhum membayar fidyah dalam bentuk makanan sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.

2. Kualitas makanan fidyah hendaklah sama dengan yang biasa kita dan keluarga kita makan.[3]

3. Fidyah boleh dibayarkan kepada satu orang miskin karena dalil tidak menentukan berapa orang miskin, berbeda dengan kaffaroh jima’, wajib dibagi kepada 60 orang miskin, sebagaimana akan datang pembahasannya lebih detail insya Allah.

4. Fidyah boleh diberikan di awal, tengah dan Akhir Ramadhan.

5. Bagi yang tidak mampu berpuasa dan tidak pula mampu membayar fidyah maka tidak ada kewajiban apa-apa baginya.

Disebutkan dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah,

ويكفي دفع ذلك إلى فقير واحد، وإن عجزت عن الإطعام سقط عنك

“Boleh membayar fidyah kepada satu orang fakir, jika engkau tidak mampu maka hilang kewajiban membayar fidyah darimu.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/380 no. 15268]

Disebutkan juga dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah,

ويكفي دفع ذلك إلى مسكين واحد أو أكثر في أول الشهر أو أثنائه أو آخره

“Boleh membayar fidyah kepada satu orang miskin atau lebih di awal bulan Ramadhan, atau pertengahan dan akhirnya.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/380 no. 15268 dan 9/128 no. 17029]

APABILA ORANG SAKIT YANG SUDAH TIDAK DIHARAPKAN KESEMBUHANNYA TERNYATA SEMBUH, APA KEWAJIBANNYA?

“Sudah mencukupinya fidyah yang telah ia keluarkan dahulu setiap satu hari puasa yang ia tinggalkan, dan tidak wajib baginya meng-qodho’ puasa selama bulan-bulan waktu sakitnya tersebut, karena ketika itu ia dalam keadaan memiliki udzur dan ia telah melakukan kewajibannya saat itu.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/196 no. 4681]

Adapun sebaliknya, apabila sakitnya masih diharapkan kesembuhannya pada awalnya, kemudian ternyata berlanjut terus sampai tidak diharapkan lagi kesembuhannya, maka hendaklah ia membayar fidyah sebanyak hari-hari puasa yang telah ia tinggalkan tersebut.[4]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

——————————

[1] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/175.

[2] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/183 no. 5750.

[3] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/189 no. 2129.

[4] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/189 no. 2129.

Sumber: Buku MADRASAH RAMADHAN karya Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray, Lc hafizhahullah

Tinggalkan Balasan