MEREALISASIKAN MAKNA ITTIBA’ TERHADAP SUNAH DALAM BERBUKA PUASA DENGAN APA YANG ADA DAN YANG LEBIH MENGGUGAH SELERA*

0
116

🍧 🍩 *MEREALISASIKAN MAKNA ITTIBA’ TERHADAP SUNAH DALAM BERBUKA PUASA DENGAN APA YANG ADA DAN YANG LEBIH MENGGUGAH SELERA*
~~~~~~~~~~~~~~~

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, أما بعد :

Telah tetap penyebutannya di dalam sebuah hadis yang sahih dari Abu Hurairah radiallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

للصائم فرحتان ﻳﻔﺮﺣﻬﻤﺎ : ﺇﺫا ﺃﻓﻄﺮ ﻓﺮﺡ ﺑﻔﻄﺮﻩ , ﻭﺇﺫا ﻟﻘﻰ ﺭﺑﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻓﺮﺡ ﺑﺼﻴﺎمه

” bagi seorang yang berpuasa itu dia memiliki dua kegembiraan yang dia bergembira pada keduanya : apabila dia berbuka puasa dia merasa gembira dengan sebab berbukanya tersebut dan tatkala dia berjumpa dengan Allah azza wa jalla dia merasa gembira dengan ibadah puasanya ”

Di bulan Ramadan seperti saat ini kaum muslimin secara keumuman memiliki antusias yang tinggi dalam menyiapkan berbagai macam jenis hidangan takjil buka puasa berupa makanan dan minuman yang beraneka macam, hal tersebut merupakan perkara yang lumrah dan bukanlah suatu cela apabila tidak membuat seorang hamba menjadi tersibukkan dari memperbanyak amalan ibadah di bulan yang penuh berkah ini yang untuk itulah sejatinya tujuan disyariatkannya puasa Ramadan yaitu agar seorang hamba itu menjadi seorang yang bertakwa, Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون)

“wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian *agar kalian bertakwa* ” [Surat Al-Baqarah 183]

di antara sekian banyak jenis takjil yang begitu populer di kalangan kaum muslimin adalah kurma, berbuka dengan kurma kemudian menjadi sebuah ritual khusus di bulan Ramadan yang banyak diyakini oleh kaum muslimin di Indonesia sebagai sebuah amalan sunah, lalu bagaimanakah sebenarnya hukum berbuka dengan kurma dalam tinjauan syariat, apakah hukumnya wajib, sunah, mubah, atau bahkan bisa jadi malah menjadi suatu amalan yang menyelisihi sunah ?!

Telah datang keterangan dalam beberapa riwayat hadis tentang permasalahan berbuka dengan kurma, dalam pembahasan ini kita akan mengkaji 2 riwayat hadis dari riwayat-riwayat yang masyhur dalam permasalahan terkait.

🏷 HADIS PERTAMA

Adalah hadis yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam musnadnya dan juga diriwayatkan pula di dalam as-sunan dari seorang sahabat bernama Salman bin Amir Ad-Dabbi bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

ﺇِﺫَا ﺃَﻓْﻄَﺮَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻓَﻠْﻴُﻔْﻄِﺮْ ﻋَﻠَﻰ ﺗَﻤْﺮٍ، ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺪْ ﻓَﻠْﻴُﻔْﻄِﺮْ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻤَﺎءِ، ﻓَﺈِﻥَّ اﻟْﻤَﺎءَ ﻃَﻬُﻮﺭٌ ”

“Apabila salah seorang kalian berbuka puasa maka hendaklah dia berbuka dengan kurma, apabila dia tidak mendapati kurma maka hendaklah dia berbuka dengan air karena air itu suci”

Hadis tersebut diriwayatkan dari jalur seorang perawi yang bernama Umu Raaih Arrubab bintu Shulai’ dari Salman bin Amir dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

*PEMBAHASAN TENTANG SANAD HADIS*

Pada sanad hadis di atas terdapat kecacatan dari sisi Umu Raaih Arrubab bintu Shulai’ dimana tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Hafshah bintu Sirin dan hal tersebut di dalam kaidah ilmu hadis maka dia teranggap sebagai seorang perawi yang majhul ‘ain / tidak diketahui kredibilitasnya dalam periwayatan hadis, meskipun Ibnu Hibban memasukkan namanya di dalam kitab Ats-Tsiqaat tetaplah yang demikian itu tidak teranggap dikarenakan telah diketahuinya sikap bermudah-mudahan Ibnu Hibban dalam menetapkan penilaian tsiqah terhadap para perawi yang majhul / tidak dikenal kredibilitasnya.

Imam pakar hadis abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah sempat menghukumi hadis di atas sebagai hadis yang sahih dalam kitab beliau shahih al-jaami’ ash-shaghir cetakan pertama hadis nomor 363 namun kemudian beliau rujuk dari pendapat beliau tersebut dan menghukumi hadis di atas sebagai hadis yang daif / lemah, beliau juga memerintahkan untuk menghapus hadis tersebut dari kitab shahih al-jaami’ pada cetakan yang berikutnya dan meletakkan hadis tersebut dalam kitab beliau daif al-jaami’ ash-shaghir hadis nomor 389.

Syaikh kami ahli fikih negeri Yaman di masa ini Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Faqiih Abdurrahman bin Umar bin Mar’i Al-Adeni – rahimahullah – juga mendaifkan hadis di atas.

🏷 HADIS KEDUA

Datang dari hadis Anas yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dahulu berbuka dengan ruthab (kurma basah) dan apabila tidak didapati ruthab maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering) dan apabila tidak didapati maka beliau berbuka dengan air sebagaimana datang dalam lafaz berikut :

ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻔﻄﺮ ﻋﻠﻰ ﺭﻃﺒﺎﺕ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻰ, ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻌﻠﻰ ﺗﻤﺮاﺕ, ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﺗﻤﺮاﺕ ﺣﺴﺎ ﺣﺴﻮاﺕ ﻣﻦ ﻣﺎء

“Dahulu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berbuka dengan beberapa buah ruthab (kurma basah) sebelum beliau salat, apabila tidak didapati maka beliau berbuka dengan beberapa buah tamr (kurma kering), apabila tidak dengan beberapa buah kurma maka beliau berbuka dengan meminum air”

Hadis di atas diriwayatkan dari jalur Abdurazzaq Ash-Shan’aani dari Ja’far bin Sulaiman Ad-Duba’i dari Tsabit Al-Bunani dari Anas bin Malik.

*PEMBAHASAN TENTANG SANAD HADIS*

Hadis di atas telah diperselisihkan di kalangan para ulama akan kesahihannya, disebabkan 2 hal :

1⃣ Teranggap bersendiriannya Abdurrazzaq dalam periwayatan hadis tersebut dari Ja’far bin Sulaiman dan juga bersendiriannya Ja’far bin Sulaiman dalam meriwayatkan hadis tersebut dari Tsabit Al-Bunani

🔹Berkata Ibnu Abi Hatim dalam kitab Al-‘ilal pembahasan nomor 652 :

وسألت أبي وأبا زرعة عن حديث رواه عبد الرزاق ، عن جعفر بن سليمان، عن ثابت، عن أنس: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفطر على التمر ، فإن لم يجد فعلى الماء … الحديث ؟ فقالا : لا نعلم روى هذا الحديث غير عبد الرزاق ، ولا ندري من أين جاء عبدالرزاق ؟

“aku bertanya kepada ayahku dan kepada Abu Zur’ah tentang hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari Ja’far bin Sulaiman dari Tsabit dari Anas : “bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasallam dahulu berbuka dengan kurma dan apabila tidak beliau dapati maka beliau berbuka dengan air”, maka keduanya pun menjawab : ”kami tidaklah mengetahui ada yang meriwayatkan hadis tersebut selain Abdurrazzaq dan kami tidak tahu dari mana Abdurrazzaq mendatangkan hadis tersebut” “.

🔹Berkata Abu Zur’ah Ar-Razi :

لا أدري ما هذا الحديث لم يرفعه إلا من حديث عبد الرزاق

“aku tidak tahu hadis apa ini, tidaklah Ja’far bin Sulaiman menyandarkannya kepada Rasulullah kecuali dari riwayatnya Abdurrazzaq”

🔹Berkata pula imam Al-Bazzar terhadap hadis tersebut di dalam musnad beliau hadis nomor 6875 :

ﻭَﻫَﺬَا اﻟْﺤَﺪِﻳﺚُ ﻻَ ﻧَﻌْﻠَﻢُ ﺭَﻭَاﻩُ، ﻋَﻦْ ﺛﺎﺑﺖٍ، ﻋَﻦ ﺃَﻧَﺲ ﺇﻻَّ ﺟَﻌْﻔَﺮُ ﺑْﻦُ ﺳُﻠَﻴْﻤَﺎﻥَ، ﻭﻻَ ﻧﻌﻠﻢُ ﺭَﻭَاﻩُ ﻋَﻦْ ﺟَﻌْﻔَﺮٍ ﺇﻻَّ ﻋَﺒْﺪُ اﻟﺮَّﺯَّاﻕ

“hadis ini kami tidaklah mengetahui ada yang meriwayatkannya dari Tsabit kecuali Ja’far bin Sulaiman dan kami tidak mengetahui ada yang meriwayatkannya dari Ja’far kecuali Abdurrazzaq”

2⃣ Kredibilitas seorang Ja’far bin Sulaiman Ad-Duba’i

🔹Berkata Ali Ibnul Madini sebagaimana dalam kitab aljarhu wa atta’dil jilid 2 / hal. 481 :

ﺃﻛﺜﺮ ﺟﻌﻔﺮ – ﻳﻌﻨﻲ اﺑﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ – ﻋﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻭﻛﺘﺐ ﻣﺮاﺳﻴﻞ ﻭﻓﻴﻬﺎ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﻣﻨﺎﻛﻴﺮ ﻋﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻋَﻦِ اﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭﺳﻠﻢ

“Ja’far bin Sulaiman telah banyak meriwayatkan dari Tsabit dan menulis hadis-hadis mursal (daif) dan padanya juga terdapat hadis-hadis yang mungkar dari Tsabit dari Nabi shalallahu alaihi wasallam”

🔹Berkata Abul Fathi Al-Azdiy sebagaimana dalam kitab ikmal tahdzibil kamaal :

ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﺗﺤﺎﻣﻞ ﻋﻠﻰ ﺑﻌﺾ اﻟﺴﻠﻒ، ﻭﻛﺎﻥ ﻻ ﻳﻜﺬﺏ ﻓﻲ اﻟﺤﺪﻳﺚ، ﻭﻳﺆﺧﺬ ﻋﻨﻪ اﻟﺰﻫﺪ ﻭاﻟﺮﻗﺎﺋﻖ، ﻓﺄﻣﺎ اﻟﺤﺪﻳﺚ، ﻓﻌﺎﻣﺔ ﺣﺪﻳﺜﻪ ﻋﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻓﻴﻬﺎ ﻧﻈﺮ ﻭﻣﻨﻜﺮ

“dahulu Ja’far bin Sulaiman memiliki kedengkian kepada sebagian salaf akan tetapi dia tidak berdusta dalam periwayatan hadis dan diambil dari dia periwayatan yang berkaitan dengan permasalahan zuhud adapun untuk hadis secara keumuman periwayatan hadis dia dari Tsabit dan yang selainnya maka terdapat kritikan dan mungkar”

🔹Berkata Yazid bin Zurai’ :

ﺇﻥ ﺟﻌﻔﺮا ﺭاﻓﻀﻲ

“Sesungguhnya Ja’far adalah seorang penganut Syiah Rafidhah”

🔹Berkata Yahya bin Said Al-Qattan :

ﻻ ﻳﻜﺘﺐ ﺣﺪﻳﺜﻪ

“Tidaklah hadisnya diambil”

🔹Ibnul Qattan dalam kitab bayanul wahm wal iyham juga mendaifkan hadis tersebut.

🔹Al-Hafidz Ibnu Hajar juga memberikan komentar tentangnya :

هو صدوق زاهد لكنه كان يتشيع

“Ja’far bin Sulaiman adalah seorang yang jujur dan zuhud akan tetapi dia adalah seorang yang berpemahaman Syiah”

🔹Syaikh kami Al-‘Allamah Al-Faqiih Abdurrahman bin Umar bin Mar’i rahimahullah berkata tentang hadis tersebut :

وهو من طريق جعفر بن سليمان الضبعي وهو صدوق لكن أنكر عليه هذا الحديث فإذا كان الأمر كذلك فليفطر الإنسان على ما تيسر مما أباح الله

“Hadis tersebut diriwayatkan dari jalan Ja’far bin Sulaiman Ad-Duba’i dan dia adalah seorang perawi yang jujur akan tetapi telah diingkari periwayatan hadis tersebut atasnya, apabila perkaranya demikian maka hendaklah seseorang itu berbuka dengan apa yang mudah baginya dari apa-apa yang dibolehkan oleh Allah”

Beliau juga berkata :

لكن هذان الحديثان ضعيفان فالذي يظهر الذي يتيسر مما أباح الله تبتدئ بالقهوة أو بالعصير أو ما تيسر. مما لذ وطاب مما أباح الله

“akan tetapi kedua hadis tersebut (hadis Salman bin Amir dan hadis Anas) adalah hadis yang daif, maka yang lebih nampak adalah apa yang mudah dari makanan atau minuman yang dihalalkan oleh Allah itulah yang pertama dikonsumsi, bisa dengan kopi atau jus atau apa saja yang mudah dari makanan dan minuman yang lezat lagi mengundang selera”

dari sini dapat diketahui bahwa perintah dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam untuk berbuka dengan kurma tidaklah tetap dikarenakan hadis yang menjadi sandaran dalam permasalahan diwajibkannya atau disunahkannya berbuka dengan kurma adalah hadis yang daif sementara penetapan suatu amalan sebagai wajib atau sunah adalah hukum syar’i yang butuh kepada dalil.

berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab majmu’ fataawa, jilid 10 / hal. 408 :

ولا يجوز أن يقال أن هذا مستحب أو مشروع إلا بدليل شرعي ولا يجوز أن يثبت شرعية بحديث ضعيف

“Dan tidaklah boleh untuk dikatakan bahwa suatu perkara tertentu itu adalah sunah atau sebagai suatu perkara yang disyariatkan kecuali dengan dalil syar’i, dan tidaklah boleh untuk menetapkan syariat berdasarkan hadis yang daif”

Para pembaca sekalian, sudah menjadi sesuatu yang maklum dikalangan penuntut ilmu bahwasanya benar dan tepatnya suatu ibadah itu haruslah terpenuhi padanya 2 syarat yaitu :

1. ikhlas, meniatkan ibadah tersebut hanya untuk Allah

2. mutaba’ah, mencocoki apa yang diperintahkan ataupun yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sesuai dengan tata cara, maksud dan tujuan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Dan mutaba’ah itu memiliki dua rukun :

1. Mutaba’ah dalam bentuk perbuatan / amalan

2. Mutaba’ah dalam menepati maksud dan tujuan yang melatarbelakangi dilakukannya amalan tersebut

Begitu pula dalam meneladani perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, sangat dituntut bagi seorang hamba untuk memperhatikan konsep mutaba’ah yang tepat dan sesuai.

Sebagai contoh sederhana saja dalam kasus permasalahan pengkhususan berbuka dengan ruthab ataupun tamr misalkan, dengan asumsi bahwa hadis dari Anas bin Malik yang diriwayatkan dari jalur Ja’far bin Sulaiman adalah sahih yaitu bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasallam telah melakukan perbuatan berbuka dengan memakan ruthab atau tamr maka hal yang perlu ditinjau lebih lanjut adalah apakah perbuatan beliau tersebut dilatarbelakangi karena sebuah kebetulan (ittifaaqon) dikarenakan ruthab dan tamr merupakan bahan makanan pokok dan keumuman di zaman beliau ataukah memang dilatarbelakangi karena beliau sengaja memaksudkan hal tersebut sebagai suatu bentuk peribadatan , dikarenakan hakekat makna dari mutaba’ah adalah sebagaimana yang didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab majmu’ Fataawa jilid 10 / hal. 409 :

ﻭﻣﺎ ﻓﻌﻠﻪ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ اﻟﺘﻌﺒﺪ ﻓﻬﻮ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﻳﺸﺮﻉ اﻟﺘﺄﺳﻲ ﺑﻪ ﻓﻴﻪ. ﻓﺈﺫا ﺗﺨﺼﺺ ﺯﻣﺎﻥ ﺃﻭ ﻣﻜﺎﻥ ﺑﻌﺒﺎﺩﺓ ﻛﺎﻥ ﺗﺨﺼﻴﺼﻪ ﺑﺘﻠﻚ اﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﺳﻨﺔ ﻛﺘﺨﺼﻴﺼﻪ ﻣﻘﺎﻡ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻓﻴﻪ ﻓﺎﻟﺘﺄﺳﻲ ﺑﻪ ﺃﻥ ﻳﻔﻌﻞ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻓﻌﻞ ﻋﻠﻰ اﻟﻮﺟﻪ اﻟﺬﻱ ﻓﻌﻞ ﻷﻧﻪ ﻓﻌﻞ. ﻭﺫﻟﻚ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺄﻥ ﻳﻘﺼﺪ ﻣﺜﻠﻤﺎ ﻗﺼﺪ، ﻓﺈﺫا ﺳﺎﻓﺮ ﻟﺤﺞ ﺃﻭ ﻋﻤﺮﺓ ﺃﻭ ﺟﻬﺎﺩ ﻭﺳﺎﻓﺮﻧﺎ ﻟﺬﻟﻚ ﻛﻨﺎ ﻣﺘﺒﻌﻴﻦ ﻟﻪ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺇﺫا ﺿﺮﺏ ﻹﻗﺎﻣﺔ ﺣﺪ، ﺑﺨﻼﻑ ﻣﻦ ﺷﺎﺭﻛﻪ ﻓﻲ اﻟﺴﻔﺮ ﻭﻛﺎﻥ ﻗﺼﺪﻩ ﻏﻴﺮ ﻗﺼﺪﻩ ﺃﻭ ﺷﺎﺭﻛﻪ ﻓﻲ اﻟﻀﺮﺏ ﻭﻛﺎﻥ ﻗﺼﺪﻩ ﻏﻴﺮ ﻗﺼﺪﻩ، ﻓﻬﺬا ﻟﻴﺲ ﺑﻤﺘﺎﺑﻊ ﻟﻪ، ﻭﻟﻮ ﻓﻌﻞ ﺑﺤﻜﻢ اﻻﺗﻔﺎﻕ ﻣﺜﻞ ﻧﺰﻭﻟﻪ

ﻓﻲ اﻟﺴﻔﺮ ﺑﻤﻜﺎﻥ، ﺃﻭ ﺃﻥ ﻳﺼﺐ ﻓﻲ ﺃﺩﻭاﺗﻪ ﻣﺎء ﻓﺼﺒﻪ ﻓﻲ ﺃﺻﻞ ﺷﺠﺮﺓ، ﺃﻭ ﺃﻥ ﺗﻤﺸﻲ ﺭاﺣﻠﺘﻪ ﻓﻲ ﺃﺣﺪ ﺟﺎﻧﺒﻲ اﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ، ﻓﻬﻞ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻗﺼﺪ ﻣﺘﺎﺑﻌﺘﻪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ؟ ﻛﺎﻥ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻳﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﻔﻌﻞ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ. ﻭﺃﻣﺎ اﻟﺨﻠﻔﺎء اﻟﺮاﺷﺪﻭﻥ ﻭﺟﻤﻬﻮﺭ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻓﻠﻢ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮا ﺫﻟﻚ ﻷﻥ ﻫﺬا ﻟﻴﺲ ﺑﻤﺘﺎﺑﻌﺔ ﻟﻪ، ﺇﺫ اﻟﻤﺘﺎﺑﻌﺔ ﻻ ﺑﺪ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻦ اﻟﻘﺼﺪ، ﻓﺈﺫا ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ ﻫﻮ ﺫﻟﻚ اﻟﻔﻌﻞ ﺑﻞ ﺣﺼﻞ ﻟﻪ ﺑﺤﻜﻢ اﻻﺗﻔﺎﻕ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﻗﺼﺪﻩ ﻏﻴﺮ ﻣﺘﺎﺑﻊ ﻟﻪ

“dan apa yang dilakukan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam bentuk peribadatan maka hal tersebut adalah ibadah yang mana disyariatkan untuk mencontoh beliau pada perbuatan tersebut, maka apabila beliau mengkhususkan suatu waktu atau tempat tertentu dengan suatu ibadah maka jadilah pengkhususan beliau terhadap tempat tersebut adalah ibadah seperti pengkhususan beliau terhadap maqam Ibrahim dengan ibadah salat.

Maka makna dari mutaba’ah / meneladani beliau itu adalah dengan melakukan perbuatan semisal dengan yang telah beliau lakukan di atas bentuk / cara yang telah beliau lakukan dalam rangka karena beliau melakukannya, dan yang demikian itu dengan cara memaksudkan sesuai apa yang beliau maksudkan, maka apabila beliau melakukan safar dalam rangka haji atau umrah atau jihad kemudian kita juga melakukan safar dalam rangka yang demikian pula maka kita teranggap telah berittiba’ kepada beliau, berbeda dengan seorang yang meniru beliau dalam safar sementara maksud tujuan dia berbeda dengan maksud tujuan beliau shalallahu alaihi wasallam maka yang demikian itu dia tidaklah teranggap telah berittiba’ kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam”

🔸 Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin rahimahullah juga berkata menjelaskan hakekat dari mutaba’ah sebagaimana tertera dalam Majmu’ Fataawa Al-‘Utsaimin jilid 7 / hal. 210 :

ﻣﺘﺎﺑﻌﺔ اﻟﻨﺒﻲ- ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ – ﺗﻜﻮﻥ ﺑﻄﺎﻋﺔ ﺃﻣﺮﻩ ﻭﻓﻲ ﻓﻌﻠﻪ ﺑﺄﻥ ﻳﻔﻌﻞ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻓﻌﻞ ﻋﻠﻰ اﻟﻮﺟﻪ اﻟﺬﻱ ﻓﻌﻠﻪ، ﻓﺈﺫا ﻗﺼﺪ اﻟﻨﺒﻲ- ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ- اﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻓﻲ ﻣﻜﺎﻥ ﻛﺎﻥ ﻗﺼﺪ اﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻓﻴﻪ ﻣﺘﺎﺑﻌﺔ ﻟﻪ ﻛﻘﺼﺪ اﻟﻤﺸﺎﻋﺮ ﻭاﻟﻤﺴﺎﺟﺪ، ﻭﺃﻣﺎ ﺇﺫا ﻧﺰﻝ ﻓﻲ ﻣﻜﺎﻥ ﺑﺤﻜﻢ اﻻﺗﻔﺎﻕ ﻟﻜﻮﻧﻪ ﺻﺎﺩﻑ ﻭﻗﺖ اﻟﻨﺰﻭﻝ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺘﺤﺮ ﺫﻟﻚ اﻟﻤﻜﺎﻥ ﻓﺈﻧﺎ ﺇﺫا ﺗﺤﺮﻳﻨﺎ ﺫﻟﻚ اﻟﻤﻜﺎﻥ ﻟﻢ ﻧﻜﻦ ﻣﺘﺒﻌﻴﻦ ﻟﻪ ﻓﺈﻧﻤﺎ اﻷﻋﻤﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﻴﺎﺕ

“berittiba’ kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam itu adalah dengan menaati perintahnya dan mengikuti perbuatannya yaitu dengan melakukan perbuatan semisal dengan apa yang telah diperbuat oleh beliau di atas bentuk / latar belakang yang melatarbelakangi perbuatan yang dilakukan oleh beliau, apabila Nabi shalallahu alaihi wasallam menyengaja / memaksudkan suatu ibadah di suatu tempat tertentu maka jadilah tindakan menyengaja / memaksudkan ibadah tersebut di tempat tersebut teranggap sebagai bentuk ittiba’ / itibak kepada beliau shalallahu alaihi wasallam seperti memaksudkan ibadah di tempat-tempat syiar (mina, muzdalifah, arafah, dll) atau di masjid-masjid.

Adapun apabila beliau berhenti / singgah di suatu tempat karena suatu kebetulan dari sisi bahwasanya hal itu bertepatan dengan waktu berhenti / istirahat atau yang selain daripada itu dari perkara-perkara yang diketahui bahwasanya beliau tidaklah menyengaja / memaksudkan singgah di tempat tersebut dalam bentuk peribadatan maka sesungguhnya apabila kita menyengaja / memaksudkan untuk berhenti di tempat tersebut yang terjadi justru bukanlah kita teranggap berittiba’ kepada beliau dan hanyalah amalan itu sesuai dengan niatnya”

🔸Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah kembali berkata dalam Majmu’ Fataawa jilid 22 / hal. 310 :

ﻭَﺃَﻣَّﺎ اﻷَْﻛْﻞُ ﻭَاﻟﻠِّﺒَﺎﺱُ: ﻓَﺨَﻴْﺮُ اﻟْﻬَﺪْﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺧُﻠُﻘُﻪُ ﻓِﻲ اﻷَْﻛْﻞِ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﺄْﻛُﻞُ ﻣَﺎ ﺗَﻴَﺴَّﺮَ ﺇﺫَا اﺷْﺘَﻬَﺎﻩُ ﻭَﻻَ ﻳَﺮُﺩُّ ﻣَﻮْﺟُﻮﺩًا ﻭَﻻَ ﻳَﺘَﻜَﻠَّﻒُ ﻣَﻔْﻘُﻮﺩًا ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺇﻥْ ﺣَﻀَﺮَ ﺧُﺒْﺰٌ ﻭَﻟَﺤْﻢٌ ﺃَﻛَﻠَﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺣَﻀَﺮَ ﻓَﺎﻛِﻬَﺔٌ ﻭَﺧُﺒْﺰٌ ﻭَﻟَﺤْﻢٌ ﺃَﻛَﻠَﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺣَﻀَﺮَ ﺗَﻤْﺮٌ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﺃَﻭْ ﺧُﺒْﺰٌ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﺃَﻛَﻠَﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺣَﻀَﺮَ ﺣُﻠْﻮٌ ﺃَﻭْ ﻋَﺴَﻞٌ ﻃَﻌِﻤَﻪُ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣَﺐَّ اﻟﺸَّﺮَاﺏِ ﺇﻟَﻴْﻪِ اﻟْﺤُﻠْﻮُ اﻟْﺒَﺎﺭِﺩُ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﺄْﻛُﻞُ اﻟْﻘِﺜَّﺎءَ. ﺑِﺎﻟﺮُّﻃَﺐِ ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺇﺫَا ﺣَﻀَﺮَ ﻟَﻮْﻧَﺎﻥِ ﻣِﻦْ اﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻳَﻘُﻮﻝُ: ﻻَ ﺁﻛُﻞُ ﻟَﻮْﻧَﻴْﻦِ ﻭَﻻَ ﻳَﻤْﺘَﻨِﻊُ ﻣِﻦْ ﻃَﻌَﺎﻡٍ ﻟِﻤَﺎ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦْ اﻟﻠَّﺬَّﺓِ ﻭَاﻟْﺤَﻼَﻭَﺓِ.

ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣْﻴَﺎﻧًﺎ ﻳَﻤْﻀِﻲ اﻟﺸَّﻬْﺮَاﻥِ ﻭَاﻟﺜَّﻼَﺛَﺔُ ﻻَ ﻳُﻮﻗَﺪُ ﻓِﻲ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ﻧَﺎﺭٌ ﻭَﻻَ ﻳَﺄْﻛُﻠُﻮﻥَ ﺇﻻَّ اﻟﺘَّﻤْﺮَ ﻭَاﻟْﻤَﺎءَ ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎﻧًﺎ ﻳَﺮْﺑُﻂُ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻄْﻨِﻪِ اﻟْﺤَﺠَﺮَ ﻣِﻦْ اﻟْﺠُﻮﻉِ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻻَ ﻳَﻌِﻴﺐُ ﻃَﻌَﺎﻣًﺎ ﻓَﺈِﻥْ اﺷْﺘَﻬَﺎﻩُ ﺃَﻛَﻠَﻪُ ﻭَﺇِﻻَّ ﺗَﺮَﻛَﻪُ.

“adapun makanan dan pakaian maka sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu alaihi wasallam dan adalah tabiat beliau dalam hal makanan sesungguhnya beliau makan dengan apa yang ada / mudah, apabila beliau berselera terhadapnya dan beliau tidaklah menolak apa yang tersedia tidak pula memberatkan diri dengan sesuatu yang tidak ada, maka apabila dihidangkan kepada beliau sepotong roti dan daging beliau pun memakannya dan apabila dihidangkan kepada beliau buah-buahan dan roti dan daging beliau pun memakannya dan apabila dihidangkan kepada beliau kurma saja atau roti saja beliau pun memakannya dan apabila dihidangkan kepada beliau manisan atau madu beliau pun memakannya juga, dan minuman yang paling disenangi oleh beliau adalah yang manis lagi dingin dan dahulu beliau memakan labu dengan ruthab (kurma basah), tidaklah apabila dihidangkan kepada beliau dua macam jenis makanan lantas beliau berkata : ”aku tidak makan dua macam”, dan beliau juga tidak menolak makanan yang lezat dan manis, dan terkadang berlalu 2 hingga 3 bulan tidaklah menyala sama sekali api di rumah beliau (tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak) dan hanya kurma dan air yang beliau makan dan terkadang pula tak jarang beliau mengikat batu di perut beliau demi menahan lapar dan beliau juga tidak pernah mencela makanan, apabila beliau berselera beliau memakannya dan apabila tidak berselera beliau pun meninggalkannya”

Beliau juga berkata :

ﻓَﺈِﺫَا ﻓَﻌَﻞَ ﻓِﻌْﻼً ﻟِﺴَﺒَﺐِ ﻭَﻗَﺪْ ﻋَﻠِﻤْﻨَﺎ ﺫَﻟِﻚَ اﻟﺴَّﺒَﺐَ ﺃَﻣْﻜَﻨَﻨَﺎ ﺃَﻥْ ﻧَﻘْﺘَﺪِﻱَ ﺑِﻪِ ﻓِﻴﻪِ ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺇﺫَا ﻟَﻢْ ﻧَﻌْﻠَﻢْ اﻟﺴَّﺒَﺐَ ﺃَﻭْ ﻛَﺎﻥَ اﻟﺴَّﺒَﺐُ ﺃَﻣْﺮًا اﺗِّﻔَﺎﻗِﻴًّﺎ ﻓَﻬَﺬَا ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﺘَﻨَﺎﺯَﻉُ ﻓِﻴﻪِ اﻟﻨَّﺎﺱُ: ﻣِﺜْﻞَ ﻧُﺰُﻭﻟِﻪِ ﻓِﻲ ﻣَﻜَﺎﻥٍ ﻓِﻲ ﺳَﻔَﺮِﻩِ. ﻓَﻤِﻦْ اﻟْﻌُﻠَﻤَﺎءِ ﻣَﻦْ ﻳَﺴْﺘَﺤِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﺰِﻝَ ﺣَﻴْﺚُ ﻧَﺰَﻝَ ﻛَﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ اﺑْﻦُ ﻋُﻤَﺮَ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﻭَﻫَﺆُﻻَءِ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻧَﻔْﺲُ ﻣُﻮَاﻓَﻘَﺘِﻪِ ﻓِﻲ اﻟْﻔِﻌْﻞِ ﻫُﻮَ ﺣَﺴَﻦٌ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻌْﻠُﻪُ ﻫُﻮَ اﺗِّﻔَﺎﻗًﺎ ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﻓَﻌَﻠْﻨَﺎﻩُ ﻟِﻘَﺼْﺪِ اﻟﺘَّﺸَﺒُّﻪِ ﺑِﻪِ. ﻭَﻣِﻦْ اﻟْﻌُﻠَﻤَﺎءِ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺇﻧَّﻤَﺎ ﺗُﺴْﺘَﺤَﺐُّ اﻟْﻤُﺘَﺎﺑَﻌَﺔُ ﺇﺫَا ﻓَﻌَﻠْﻨَﺎﻩُ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻮَﺟْﻪِ اﻟَّﺬِﻱ ﻓَﻌَﻠَﻪُ ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺇﺫَا ﻓَﻌَﻠَﻪُ اﺗِّﻔَﺎﻗًﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺸْﺮَﻉْ ﻟَﻨَﺎ ﺃَﻥْ ﻧَﻘْﺼِﺪَ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺼِﺪْﻩُ

“maka apabila Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melakukan suatu perbuatan karena sebab tertentu sementara sebab yang melatarbelakangi perbuatan tersebut telah kita ketahui maka menjadi mungkin bagi kita untuk mencontoh beliau pada perbuatan tersebut, adapun apabila kita tidak mengetahui sebabnya atau bahwasanya sebab yang melatarbelakangi perbuatan beliau tersebut adalah suatu perkara yang sifatnya kebetulan (tanpa disengaja untuk tujuan / maksud tertentu) maka perkara tersebut merupakan perkara yang manusia berselisih padanya misalkan, berhentinya beliau pada suatu tempat tertentu di sela-sela safar beliau, di antara para ulama ada yang mengutamakan untuk berhenti dalam safar di tempat yang dahulu beliau berhenti di tempat tersebut ketika safar melintasi tempat tersebut, sebagaimana Ibnu Umar dahulu melakukannya, mereka berdalih :

√ ( pendapat pertama ) : bahwa sebatas mencocoki beliau dalam perbuatan beliau adalah baik walaupun perbuatan beliau tersebut dilakukan dalam rangka kebetulan dan kami melakukannya dengan tujuan untuk menyerupai beliau dengan perbuatan tersebut,

√ ( pendapat kedua ) : dan di antara ulama ada yang berpendapat bahwa hanyalah disunahkan berittiba’ kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam itu apabila kita melakukan suatu perbuatan sesuai dengan bentuk / latar belakang yang telah dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adapun apabila beliau melakukannya karena suatu kebetulan maka tidaklah disyariatkan bagi kita untuk menyengaja / memaksudkan suatu perbuatan yang beliau tidak memaksudkannya untuk tujuan tertentu (sebagai bentuk peribadatan secara tersendiri)”

Hingga ucapan beliau :

ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻟَﻤَّﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺄْﻛُﻞُ اﻟﺮُّﻃَﺐَ ﻭَاﻟﺘَّﻤْﺮَ ﻭَﺧُﺒْﺰَ اﻟﺸَّﻌِﻴﺮِ ﻭَﻧَﺤْﻮَ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﻗُﻮﺕِ ﺑَﻠَﺪٍ ﻓَﻬَﻞْ اﻟﺘَّﺄَﺳِّﻲ ﺑِﻪِ ﺃَﻥْ ﻳُﻘْﺼَﺪَ ﺧُﺼُﻮﺹُ اﻟﺮُّﻃَﺐِ ﻭَاﻟﺘَّﻤْﺮِ ﻭَاﻟﺸَّﻌِﻴﺮِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻔْﻌَﻞَ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﻦْ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻓِﻲ ﺑِﻼَﺩٍ ﻻَ ﻳَﻨْﺒُﺖُ ﻓِﻴﻬَﺎ اﻟﺘَّﻤْﺮُ ﻭَﻻَ ﻳَﻘْﺘَﺎﺗُﻮﻥَ اﻟﺸَّﻌِﻴﺮَ ﺑَﻞْ ﻳَﻘْﺘَﺎﺗُﻮﻥَ اﻟْﺒُﺮَّ ﺃَﻭْ اﻟﺮُّﺯَّ ﺃَﻭْ ﻏَﻴْﺮَ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﻣَﻌْﻠُﻮﻡٌ ﺃَﻥَّ اﻟﺜَّﺎﻧِﻲَ ﻫُﻮَ اﻟْﻤَﺸْﺮُﻭﻉُ. ﻭَاﻟﺪَّﻟِﻴﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﻥَّ اﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔَ ﻟَﻤَّﺎ ﻓَﺘَﺤُﻮا اﻷَْﻣْﺼَﺎﺭَ ﻛَﺎﻥَ ﻛُﻞٌّ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻳَﺄْﻛُﻞُ ﻣَﻦْ ﻗُﻮﺕِ ﺑَﻠَﺪِﻩ

” dan demikian pula tatkala beliau memakan ruthab (kurma basah) dan tamr (kurma kering) dan roti dari tepung terigu dan yang selain daripada itu dari bahan makanan pokok negeri beliau, maka apakah berittiba’ / meneladi beliau itu adalah dengan menyengaja / memaksudkan pengkhususan ruthab dan tamr dan terigu, sehingga seseorang yang di negerinya tidak tumbuh padanya kurma dan tidak pula menjadikan terigu sebagai bahan makanan pokok akan tetapi justru menjadikan gandum atau beras atau yang selain daripada itu sebagai bahan makanan pokok lantas kemudian dia melakukan perbuatan yang demikian itu (menyengaja / memaksudkan pengkhususan ruthab , tamr , terigu sebagai bahan makanan pokoknya dalam rangka meneladani Nabi shalallahu alaihi wasallam) dan sudah diketahui bahwasanya pendapat yang kedua itulah yang disyariatkan dan dalil atas yang demikian itu adalah bahwasanya para sahabat dahulu tatkala mereka berhasil menaklukkan negeri-negeri , masing-masing dari mereka makan dari bahan makanan pokok negeri tersebut [Majmu Fataawa jilid 22 / hal. 325]

*KESIMPULAN*

Dari penjabaran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di atas menjadi jelas bagi kita bahwa berittiba’ kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam itu bukanlah sekedar melakukan perbuatan sebagaimana perbuatan yang dilakukan oleh beliau semata, namun sudah sepatutnya untuk memperhatikan cara, konsep, sebab, maksud dan tujuan yang menjadi latar belakang perbuatan tersebut, sebagai contoh misalkan saja telah diketahui dalam sejarah bahwasanya dahulu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengendarai keledai maupun onta tatkala sedang bepergian, lalu datang kemudian seseorang di zaman belakangan ini yang menjadikan keledai dan onta sebagai kekhususan tunggangan bagi dirinya jika bepergian dengan dalih berittiba’ kepada perbuatan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, walaupun bentuk perbuatan tersebut mencocoki perbuatan Rasulullah akan tetapi maksud tujuan yang melatarbelakangi sebab perbuatan tersebut tidaklah sama dikarenakan Rasulullah melakukan perbuatan tersebut dilatarbelakangi dengan suatu kebetulan atau dengan kata lain sesuai dengan keadaan dan kondisi yang ada pada saat itu, sehingga tindakan mengkhususkan keledai ataupun onta dengan dilandasi keyakinan sebagai bentuk ibadah meneladani Rasulullah justru malah menjadi sebuah penyelisihan terhadap hakekat mutaba’ah kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Begitu pula tindakan menyengaja mengkhususkan memakan kurma dengan memaksudkannya sebagai suatu bentuk peribadatan sementara Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melakukannya atas dasar suatu kebetulan atau adat kebiasaan yang berlaku di negeri tersebut di masa itu, maka justru yang demikian itu malah menjadi sebuah tindakan penyelisihan terhadap sunah, bahkan dapat menghantarkan kepada pintu-pintu kebidahan, terkhusus lagi apabila disertai keyakinan dengan memakannya dalam jumlah bilangan tertentu seperti bilangan ganjil 3, 5, 7 dan seterusnya.

Sebagaimana yang difatwakan oleh Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin rahimahullah ketika beliau ditanya dengan sebuah pertanyaan sebagai berikut :

ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺃﻥ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﻋﻨﺪ ﺇﻓﻄﺎﺭﻩ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳُﻔﻄﺮ ﻋﻠﻰ ﻋﺪﺩ ﻓﺮﺩﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻤﺮ – ﺃﻱ ﺧﻤﺲ ﺃﻭ ﺳﺒﻊ ﺗﻤﺮﺍﺕ ﻭﻫﻜﺬﺍ – ﻓﻬﻞ ﻫﺬﺍ ﻭﺍﺟﺐ ؟

“saya mendengar bahwa wajib bagi seorang yang berpuasa untuk berbuka dengan memakan kurma dalam bilangan ganjil yakni 5 atau 7 dan seterusnya, apakah yang demikian itu hukumnya wajib ? ”

Maka beliau pun menjawab :

ﻟﻴﺲ ﺑﻮﺍﺟﺐ ﺑﻞ ﻭﻻ‌ ﺳُﻨﺔ ﺃﻥ ﻳﻔﻄﺮ ﺍﻹ‌ﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻭﺗﺮ – ﺛﻼ‌ﺙ ﺃﻭ ﺧﻤﺲ ﺃﻭ ﺳﺒﻊ ﺃﻭ ﺗﺴﻊ – ﺇﻻ‌ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻋﻴﺪ ﺍﻟﻔﻄﺮ، ﻓﻘﺪ ﺛﺒﺖ (ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﻻ‌ ﻳﻐﺪﻭ ﻟﻠﺼﻼ‌ﺓ ﻳﻮﻡ ﻋﻴﺪ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﺣﺘﻰ ﻳﺄﻛﻞ ﺗﻤﺮﺍﺕ ﻭﻳﺄﻛﻠﻬﻦ ﻭﺗﺮﺍً) ﻭﻣﺎ ﺳﻮﻯ ﺫﻟﻚ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻳﺘﻘﺼﺪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﻛﻠﻪ ﺍﻟﺘﻤﺮ ﻭﺗﺮﺍً

” Tidaklah wajib, Bahkan tidak pula sunah bahwa seseorang itu harus berbuka dengan memakan dalam bilangan ganjil, 3 atau 5 atau 7 atau 9 kecuali di hari raya idul fitri dikarenakan yang demikian itu telah benar datangnya dari Nabi shalallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau dahulu tidaklah keluar untuk salat di hari idul fithri sampai beliau memakan terlebih dahulu beberapa buah kurma dan beliau memakannya dalam bilangan ganjil”, adapun yang selain daripada itu maka Nabi shalallahu alaihi wasallam tidaklah memaksudkan dengan sengaja bahwa beliau memakannya dalam jumlah yang ganjil ” [Fataawa Nur ‘ala Darb kaset nomor 354]

والله أعلم بالصواب

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن اتبعه بإحسان إلى يوم الدين

✒ Abu Usamah Adam bin Saleh bin Ubaid Iskandar Alam

1439 H – Ramadan ke-9 di negeri Iman , Yaman

Darul Hadis Al-Fiyuusy, Lahj / Yaman🍧 🍩 *MEREALISASIKAN MAKNA ITTIBA’ TERHADAP SUNAH DALAM BERBUKA PUASA DENGAN APA YANG ADA DAN YANG LEBIH MENGGUGAH SELERA*
~~~~~~~~~~~~~~~

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, أما بعد :

Telah tetap penyebutannya di dalam sebuah hadis yang sahih dari Abu Hurairah radiallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

للصائم فرحتان ﻳﻔﺮﺣﻬﻤﺎ : ﺇﺫا ﺃﻓﻄﺮ ﻓﺮﺡ ﺑﻔﻄﺮﻩ , ﻭﺇﺫا ﻟﻘﻰ ﺭﺑﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻓﺮﺡ ﺑﺼﻴﺎمه

” bagi seorang yang berpuasa itu dia memiliki dua kegembiraan yang dia bergembira pada keduanya : apabila dia berbuka puasa dia merasa gembira dengan sebab berbukanya tersebut dan tatkala dia berjumpa dengan Allah azza wa jalla dia merasa gembira dengan ibadah puasanya ”

Di bulan Ramadan seperti saat ini kaum muslimin secara keumuman memiliki antusias yang tinggi dalam menyiapkan berbagai macam jenis hidangan takjil buka puasa berupa makanan dan minuman yang beraneka macam, hal tersebut merupakan perkara yang lumrah dan bukanlah suatu cela apabila tidak membuat seorang hamba menjadi tersibukkan dari memperbanyak amalan ibadah di bulan yang penuh berkah ini yang untuk itulah sejatinya tujuan disyariatkannya puasa Ramadan yaitu agar seorang hamba itu menjadi seorang yang bertakwa, Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون)

“wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian *agar kalian bertakwa* ” [Surat Al-Baqarah 183]

di antara sekian banyak jenis takjil yang begitu populer di kalangan kaum muslimin adalah kurma, berbuka dengan kurma kemudian menjadi sebuah ritual khusus di bulan Ramadan yang banyak diyakini oleh kaum muslimin di Indonesia sebagai sebuah amalan sunah, lalu bagaimanakah sebenarnya hukum berbuka dengan kurma dalam tinjauan syariat, apakah hukumnya wajib, sunah, mubah, atau bahkan bisa jadi malah menjadi suatu amalan yang menyelisihi sunah ?!

Telah datang keterangan dalam beberapa riwayat hadis tentang permasalahan berbuka dengan kurma, dalam pembahasan ini kita akan mengkaji 2 riwayat hadis dari riwayat-riwayat yang masyhur dalam permasalahan terkait.

🏷 HADIS PERTAMA

Adalah hadis yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam musnadnya dan juga diriwayatkan pula di dalam as-sunan dari seorang sahabat bernama Salman bin Amir Ad-Dabbi bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

ﺇِﺫَا ﺃَﻓْﻄَﺮَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻓَﻠْﻴُﻔْﻄِﺮْ ﻋَﻠَﻰ ﺗَﻤْﺮٍ، ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺪْ ﻓَﻠْﻴُﻔْﻄِﺮْ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻤَﺎءِ، ﻓَﺈِﻥَّ اﻟْﻤَﺎءَ ﻃَﻬُﻮﺭٌ ”

“Apabila salah seorang kalian berbuka puasa maka hendaklah dia berbuka dengan kurma, apabila dia tidak mendapati kurma maka hendaklah dia berbuka dengan air karena air itu suci”

Hadis tersebut diriwayatkan dari jalur seorang perawi yang bernama Umu Raaih Arrubab bintu Shulai’ dari Salman bin Amir dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

*PEMBAHASAN TENTANG SANAD HADIS*

Pada sanad hadis di atas terdapat kecacatan dari sisi Umu Raaih Arrubab bintu Shulai’ dimana tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Hafshah bintu Sirin dan hal tersebut di dalam kaidah ilmu hadis maka dia teranggap sebagai seorang perawi yang majhul ‘ain / tidak diketahui kredibilitasnya dalam periwayatan hadis, meskipun Ibnu Hibban memasukkan namanya di dalam kitab Ats-Tsiqaat tetaplah yang demikian itu tidak teranggap dikarenakan telah diketahuinya sikap bermudah-mudahan Ibnu Hibban dalam menetapkan penilaian tsiqah terhadap para perawi yang majhul / tidak dikenal kredibilitasnya.

Imam pakar hadis abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah sempat menghukumi hadis di atas sebagai hadis yang sahih dalam kitab beliau shahih al-jaami’ ash-shaghir cetakan pertama hadis nomor 363 namun kemudian beliau rujuk dari pendapat beliau tersebut dan menghukumi hadis di atas sebagai hadis yang daif / lemah, beliau juga memerintahkan untuk menghapus hadis tersebut dari kitab shahih al-jaami’ pada cetakan yang berikutnya dan meletakkan hadis tersebut dalam kitab beliau daif al-jaami’ ash-shaghir hadis nomor 389.

Syaikh kami ahli fikih negeri Yaman di masa ini Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Faqiih Abdurrahman bin Umar bin Mar’i Al-Adeni – rahimahullah – juga mendaifkan hadis di atas.

🏷 HADIS KEDUA

Datang dari hadis Anas yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dahulu berbuka dengan ruthab (kurma basah) dan apabila tidak didapati ruthab maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering) dan apabila tidak didapati maka beliau berbuka dengan air sebagaimana datang dalam lafaz berikut :

ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻔﻄﺮ ﻋﻠﻰ ﺭﻃﺒﺎﺕ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻰ, ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻌﻠﻰ ﺗﻤﺮاﺕ, ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﺗﻤﺮاﺕ ﺣﺴﺎ ﺣﺴﻮاﺕ ﻣﻦ ﻣﺎء

“Dahulu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berbuka dengan beberapa buah ruthab (kurma basah) sebelum beliau salat, apabila tidak didapati maka beliau berbuka dengan beberapa buah tamr (kurma kering), apabila tidak dengan beberapa buah kurma maka beliau berbuka dengan meminum air”

Hadis di atas diriwayatkan dari jalur Abdurazzaq Ash-Shan’aani dari Ja’far bin Sulaiman Ad-Duba’i dari Tsabit Al-Bunani dari Anas bin Malik.

*PEMBAHASAN TENTANG SANAD HADIS*

Hadis di atas telah diperselisihkan di kalangan para ulama akan kesahihannya, disebabkan 2 hal :

1⃣ Teranggap bersendiriannya Abdurrazzaq dalam periwayatan hadis tersebut dari Ja’far bin Sulaiman dan juga bersendiriannya Ja’far bin Sulaiman dalam meriwayatkan hadis tersebut dari Tsabit Al-Bunani

🔹Berkata Ibnu Abi Hatim dalam kitab Al-‘ilal pembahasan nomor 652 :

وسألت أبي وأبا زرعة عن حديث رواه عبد الرزاق ، عن جعفر بن سليمان، عن ثابت، عن أنس: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفطر على التمر ، فإن لم يجد فعلى الماء … الحديث ؟ فقالا : لا نعلم روى هذا الحديث غير عبد الرزاق ، ولا ندري من أين جاء عبدالرزاق ؟

“aku bertanya kepada ayahku dan kepada Abu Zur’ah tentang hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari Ja’far bin Sulaiman dari Tsabit dari Anas : “bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasallam dahulu berbuka dengan kurma dan apabila tidak beliau dapati maka beliau berbuka dengan air”, maka keduanya pun menjawab : ”kami tidaklah mengetahui ada yang meriwayatkan hadis tersebut selain Abdurrazzaq dan kami tidak tahu dari mana Abdurrazzaq mendatangkan hadis tersebut” “.

🔹Berkata Abu Zur’ah Ar-Razi :

لا أدري ما هذا الحديث لم يرفعه إلا من حديث عبد الرزاق

“aku tidak tahu hadis apa ini, tidaklah Ja’far bin Sulaiman menyandarkannya kepada Rasulullah kecuali dari riwayatnya Abdurrazzaq”

🔹Berkata pula imam Al-Bazzar terhadap hadis tersebut di dalam musnad beliau hadis nomor 6875 :

ﻭَﻫَﺬَا اﻟْﺤَﺪِﻳﺚُ ﻻَ ﻧَﻌْﻠَﻢُ ﺭَﻭَاﻩُ، ﻋَﻦْ ﺛﺎﺑﺖٍ، ﻋَﻦ ﺃَﻧَﺲ ﺇﻻَّ ﺟَﻌْﻔَﺮُ ﺑْﻦُ ﺳُﻠَﻴْﻤَﺎﻥَ، ﻭﻻَ ﻧﻌﻠﻢُ ﺭَﻭَاﻩُ ﻋَﻦْ ﺟَﻌْﻔَﺮٍ ﺇﻻَّ ﻋَﺒْﺪُ اﻟﺮَّﺯَّاﻕ

“hadis ini kami tidaklah mengetahui ada yang meriwayatkannya dari Tsabit kecuali Ja’far bin Sulaiman dan kami tidak mengetahui ada yang meriwayatkannya dari Ja’far kecuali Abdurrazzaq”

2⃣ Kredibilitas seorang Ja’far bin Sulaiman Ad-Duba’i

🔹Berkata Ali Ibnul Madini sebagaimana dalam kitab aljarhu wa atta’dil jilid 2 / hal. 481 :

ﺃﻛﺜﺮ ﺟﻌﻔﺮ – ﻳﻌﻨﻲ اﺑﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ – ﻋﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻭﻛﺘﺐ ﻣﺮاﺳﻴﻞ ﻭﻓﻴﻬﺎ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﻣﻨﺎﻛﻴﺮ ﻋﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻋَﻦِ اﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭﺳﻠﻢ

“Ja’far bin Sulaiman telah banyak meriwayatkan dari Tsabit dan menulis hadis-hadis mursal (daif) dan padanya juga terdapat hadis-hadis yang mungkar dari Tsabit dari Nabi shalallahu alaihi wasallam”

🔹Berkata Abul Fathi Al-Azdiy sebagaimana dalam kitab ikmal tahdzibil kamaal :

ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﺗﺤﺎﻣﻞ ﻋﻠﻰ ﺑﻌﺾ اﻟﺴﻠﻒ، ﻭﻛﺎﻥ ﻻ ﻳﻜﺬﺏ ﻓﻲ اﻟﺤﺪﻳﺚ، ﻭﻳﺆﺧﺬ ﻋﻨﻪ اﻟﺰﻫﺪ ﻭاﻟﺮﻗﺎﺋﻖ، ﻓﺄﻣﺎ اﻟﺤﺪﻳﺚ، ﻓﻌﺎﻣﺔ ﺣﺪﻳﺜﻪ ﻋﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻓﻴﻬﺎ ﻧﻈﺮ ﻭﻣﻨﻜﺮ

“dahulu Ja’far bin Sulaiman memiliki kedengkian kepada sebagian salaf akan tetapi dia tidak berdusta dalam periwayatan hadis dan diambil dari dia periwayatan yang berkaitan dengan permasalahan zuhud adapun untuk hadis secara keumuman periwayatan hadis dia dari Tsabit dan yang selainnya maka terdapat kritikan dan mungkar”

🔹Berkata Yazid bin Zurai’ :

ﺇﻥ ﺟﻌﻔﺮا ﺭاﻓﻀﻲ

“Sesungguhnya Ja’far adalah seorang penganut Syiah Rafidhah”

🔹Berkata Yahya bin Said Al-Qattan :

ﻻ ﻳﻜﺘﺐ ﺣﺪﻳﺜﻪ

“Tidaklah hadisnya diambil”

🔹Ibnul Qattan dalam kitab bayanul wahm wal iyham juga mendaifkan hadis tersebut.

🔹Al-Hafidz Ibnu Hajar juga memberikan komentar tentangnya :

هو صدوق زاهد لكنه كان يتشيع

“Ja’far bin Sulaiman adalah seorang yang jujur dan zuhud akan tetapi dia adalah seorang yang berpemahaman Syiah”

🔹Syaikh kami Al-‘Allamah Al-Faqiih Abdurrahman bin Umar bin Mar’i rahimahullah berkata tentang hadis tersebut :

وهو من طريق جعفر بن سليمان الضبعي وهو صدوق لكن أنكر عليه هذا الحديث فإذا كان الأمر كذلك فليفطر الإنسان على ما تيسر مما أباح الله

“Hadis tersebut diriwayatkan dari jalan Ja’far bin Sulaiman Ad-Duba’i dan dia adalah seorang perawi yang jujur akan tetapi telah diingkari periwayatan hadis tersebut atasnya, apabila perkaranya demikian maka hendaklah seseorang itu berbuka dengan apa yang mudah baginya dari apa-apa yang dibolehkan oleh Allah”

Beliau juga berkata :

لكن هذان الحديثان ضعيفان فالذي يظهر الذي يتيسر مما أباح الله تبتدئ بالقهوة أو بالعصير أو ما تيسر. مما لذ وطاب مما أباح الله

“akan tetapi kedua hadis tersebut (hadis Salman bin Amir dan hadis Anas) adalah hadis yang daif, maka yang lebih nampak adalah apa yang mudah dari makanan atau minuman yang dihalalkan oleh Allah itulah yang pertama dikonsumsi, bisa dengan kopi atau jus atau apa saja yang mudah dari makanan dan minuman yang lezat lagi mengundang selera”

dari sini dapat diketahui bahwa perintah dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam untuk berbuka dengan kurma tidaklah tetap dikarenakan hadis yang menjadi sandaran dalam permasalahan diwajibkannya atau disunahkannya berbuka dengan kurma adalah hadis yang daif sementara penetapan suatu amalan sebagai wajib atau sunah adalah hukum syar’i yang butuh kepada dalil.

berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab majmu’ fataawa, jilid 10 / hal. 408 :

ولا يجوز أن يقال أن هذا مستحب أو مشروع إلا بدليل شرعي ولا يجوز أن يثبت شرعية بحديث ضعيف

“Dan tidaklah boleh untuk dikatakan bahwa suatu perkara tertentu itu adalah sunah atau sebagai suatu perkara yang disyariatkan kecuali dengan dalil syar’i, dan tidaklah boleh untuk menetapkan syariat berdasarkan hadis yang daif”

Para pembaca sekalian, sudah menjadi sesuatu yang maklum dikalangan penuntut ilmu bahwasanya benar dan tepatnya suatu ibadah itu haruslah terpenuhi padanya 2 syarat yaitu :

1. ikhlas, meniatkan ibadah tersebut hanya untuk Allah

2. mutaba’ah, mencocoki apa yang diperintahkan ataupun yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sesuai dengan tata cara, maksud dan tujuan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Dan mutaba’ah itu memiliki dua rukun :

1. Mutaba’ah dalam bentuk perbuatan / amalan

2. Mutaba’ah dalam menepati maksud dan tujuan yang melatarbelakangi dilakukannya amalan tersebut

Begitu pula dalam meneladani perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, sangat dituntut bagi seorang hamba untuk memperhatikan konsep mutaba’ah yang tepat dan sesuai.

Sebagai contoh sederhana saja dalam kasus permasalahan pengkhususan berbuka dengan ruthab ataupun tamr misalkan, dengan asumsi bahwa hadis dari Anas bin Malik yang diriwayatkan dari jalur Ja’far bin Sulaiman adalah sahih yaitu bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasallam telah melakukan perbuatan berbuka dengan memakan ruthab atau tamr maka hal yang perlu ditinjau lebih lanjut adalah apakah perbuatan beliau tersebut dilatarbelakangi karena sebuah kebetulan (ittifaaqon) dikarenakan ruthab dan tamr merupakan bahan makanan pokok dan keumuman di zaman beliau ataukah memang dilatarbelakangi karena beliau sengaja memaksudkan hal tersebut sebagai suatu bentuk peribadatan , dikarenakan hakekat makna dari mutaba’ah adalah sebagaimana yang didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab majmu’ Fataawa jilid 10 / hal. 409 :

ﻭﻣﺎ ﻓﻌﻠﻪ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ اﻟﺘﻌﺒﺪ ﻓﻬﻮ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﻳﺸﺮﻉ اﻟﺘﺄﺳﻲ ﺑﻪ ﻓﻴﻪ. ﻓﺈﺫا ﺗﺨﺼﺺ ﺯﻣﺎﻥ ﺃﻭ ﻣﻜﺎﻥ ﺑﻌﺒﺎﺩﺓ ﻛﺎﻥ ﺗﺨﺼﻴﺼﻪ ﺑﺘﻠﻚ اﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﺳﻨﺔ ﻛﺘﺨﺼﻴﺼﻪ ﻣﻘﺎﻡ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻓﻴﻪ ﻓﺎﻟﺘﺄﺳﻲ ﺑﻪ ﺃﻥ ﻳﻔﻌﻞ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻓﻌﻞ ﻋﻠﻰ اﻟﻮﺟﻪ اﻟﺬﻱ ﻓﻌﻞ ﻷﻧﻪ ﻓﻌﻞ. ﻭﺫﻟﻚ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺄﻥ ﻳﻘﺼﺪ ﻣﺜﻠﻤﺎ ﻗﺼﺪ، ﻓﺈﺫا ﺳﺎﻓﺮ ﻟﺤﺞ ﺃﻭ ﻋﻤﺮﺓ ﺃﻭ ﺟﻬﺎﺩ ﻭﺳﺎﻓﺮﻧﺎ ﻟﺬﻟﻚ ﻛﻨﺎ ﻣﺘﺒﻌﻴﻦ ﻟﻪ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺇﺫا ﺿﺮﺏ ﻹﻗﺎﻣﺔ ﺣﺪ، ﺑﺨﻼﻑ ﻣﻦ ﺷﺎﺭﻛﻪ ﻓﻲ اﻟﺴﻔﺮ ﻭﻛﺎﻥ ﻗﺼﺪﻩ ﻏﻴﺮ ﻗﺼﺪﻩ ﺃﻭ ﺷﺎﺭﻛﻪ ﻓﻲ اﻟﻀﺮﺏ ﻭﻛﺎﻥ ﻗﺼﺪﻩ ﻏﻴﺮ ﻗﺼﺪﻩ، ﻓﻬﺬا ﻟﻴﺲ ﺑﻤﺘﺎﺑﻊ ﻟﻪ، ﻭﻟﻮ ﻓﻌﻞ ﺑﺤﻜﻢ اﻻﺗﻔﺎﻕ ﻣﺜﻞ ﻧﺰﻭﻟﻪ

ﻓﻲ اﻟﺴﻔﺮ ﺑﻤﻜﺎﻥ، ﺃﻭ ﺃﻥ ﻳﺼﺐ ﻓﻲ ﺃﺩﻭاﺗﻪ ﻣﺎء ﻓﺼﺒﻪ ﻓﻲ ﺃﺻﻞ ﺷﺠﺮﺓ، ﺃﻭ ﺃﻥ ﺗﻤﺸﻲ ﺭاﺣﻠﺘﻪ ﻓﻲ ﺃﺣﺪ ﺟﺎﻧﺒﻲ اﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ، ﻓﻬﻞ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻗﺼﺪ ﻣﺘﺎﺑﻌﺘﻪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ؟ ﻛﺎﻥ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻳﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﻔﻌﻞ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ. ﻭﺃﻣﺎ اﻟﺨﻠﻔﺎء اﻟﺮاﺷﺪﻭﻥ ﻭﺟﻤﻬﻮﺭ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻓﻠﻢ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮا ﺫﻟﻚ ﻷﻥ ﻫﺬا ﻟﻴﺲ ﺑﻤﺘﺎﺑﻌﺔ ﻟﻪ، ﺇﺫ اﻟﻤﺘﺎﺑﻌﺔ ﻻ ﺑﺪ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻦ اﻟﻘﺼﺪ، ﻓﺈﺫا ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ ﻫﻮ ﺫﻟﻚ اﻟﻔﻌﻞ ﺑﻞ ﺣﺼﻞ ﻟﻪ ﺑﺤﻜﻢ اﻻﺗﻔﺎﻕ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﻗﺼﺪﻩ ﻏﻴﺮ ﻣﺘﺎﺑﻊ ﻟﻪ

“dan apa yang dilakukan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam bentuk peribadatan maka hal tersebut adalah ibadah yang mana disyariatkan untuk mencontoh beliau pada perbuatan tersebut, maka apabila beliau mengkhususkan suatu waktu atau tempat tertentu dengan suatu ibadah maka jadilah pengkhususan beliau terhadap tempat tersebut adalah ibadah seperti pengkhususan beliau terhadap maqam Ibrahim dengan ibadah salat.

Maka makna dari mutaba’ah / meneladani beliau itu adalah dengan melakukan perbuatan semisal dengan yang telah beliau lakukan di atas bentuk / cara yang telah beliau lakukan dalam rangka karena beliau melakukannya, dan yang demikian itu dengan cara memaksudkan sesuai apa yang beliau maksudkan, maka apabila beliau melakukan safar dalam rangka haji atau umrah atau jihad kemudian kita juga melakukan safar dalam rangka yang demikian pula maka kita teranggap telah berittiba’ kepada beliau, berbeda dengan seorang yang meniru beliau dalam safar sementara maksud tujuan dia berbeda dengan maksud tujuan beliau shalallahu alaihi wasallam maka yang demikian itu dia tidaklah teranggap telah berittiba’ kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam”

🔸 Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin rahimahullah juga berkata menjelaskan hakekat dari mutaba’ah sebagaimana tertera dalam Majmu’ Fataawa Al-‘Utsaimin jilid 7 / hal. 210 :

ﻣﺘﺎﺑﻌﺔ اﻟﻨﺒﻲ- ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ – ﺗﻜﻮﻥ ﺑﻄﺎﻋﺔ ﺃﻣﺮﻩ ﻭﻓﻲ ﻓﻌﻠﻪ ﺑﺄﻥ ﻳﻔﻌﻞ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻓﻌﻞ ﻋﻠﻰ اﻟﻮﺟﻪ اﻟﺬﻱ ﻓﻌﻠﻪ، ﻓﺈﺫا ﻗﺼﺪ اﻟﻨﺒﻲ- ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ- اﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻓﻲ ﻣﻜﺎﻥ ﻛﺎﻥ ﻗﺼﺪ اﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻓﻴﻪ ﻣﺘﺎﺑﻌﺔ ﻟﻪ ﻛﻘﺼﺪ اﻟﻤﺸﺎﻋﺮ ﻭاﻟﻤﺴﺎﺟﺪ، ﻭﺃﻣﺎ ﺇﺫا ﻧﺰﻝ ﻓﻲ ﻣﻜﺎﻥ ﺑﺤﻜﻢ اﻻﺗﻔﺎﻕ ﻟﻜﻮﻧﻪ ﺻﺎﺩﻑ ﻭﻗﺖ اﻟﻨﺰﻭﻝ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺘﺤﺮ ﺫﻟﻚ اﻟﻤﻜﺎﻥ ﻓﺈﻧﺎ ﺇﺫا ﺗﺤﺮﻳﻨﺎ ﺫﻟﻚ اﻟﻤﻜﺎﻥ ﻟﻢ ﻧﻜﻦ ﻣﺘﺒﻌﻴﻦ ﻟﻪ ﻓﺈﻧﻤﺎ اﻷﻋﻤﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﻴﺎﺕ

“berittiba’ kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam itu adalah dengan menaati perintahnya dan mengikuti perbuatannya yaitu dengan melakukan perbuatan semisal dengan apa yang telah diperbuat oleh beliau di atas bentuk / latar belakang yang melatarbelakangi perbuatan yang dilakukan oleh beliau, apabila Nabi shalallahu alaihi wasallam menyengaja / memaksudkan suatu ibadah di suatu tempat tertentu maka jadilah tindakan menyengaja / memaksudkan ibadah tersebut di tempat tersebut teranggap sebagai bentuk ittiba’ / itibak kepada beliau shalallahu alaihi wasallam seperti memaksudkan ibadah di tempat-tempat syiar (mina, muzdalifah, arafah, dll) atau di masjid-masjid.

Adapun apabila beliau berhenti / singgah di suatu tempat karena suatu kebetulan dari sisi bahwasanya hal itu bertepatan dengan waktu berhenti / istirahat atau yang selain daripada itu dari perkara-perkara yang diketahui bahwasanya beliau tidaklah menyengaja / memaksudkan singgah di tempat tersebut dalam bentuk peribadatan maka sesungguhnya apabila kita menyengaja / memaksudkan untuk berhenti di tempat tersebut yang terjadi justru bukanlah kita teranggap berittiba’ kepada beliau dan hanyalah amalan itu sesuai dengan niatnya”

🔸Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah kembali berkata dalam Majmu’ Fataawa jilid 22 / hal. 310 :

ﻭَﺃَﻣَّﺎ اﻷَْﻛْﻞُ ﻭَاﻟﻠِّﺒَﺎﺱُ: ﻓَﺨَﻴْﺮُ اﻟْﻬَﺪْﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺧُﻠُﻘُﻪُ ﻓِﻲ اﻷَْﻛْﻞِ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﺄْﻛُﻞُ ﻣَﺎ ﺗَﻴَﺴَّﺮَ ﺇﺫَا اﺷْﺘَﻬَﺎﻩُ ﻭَﻻَ ﻳَﺮُﺩُّ ﻣَﻮْﺟُﻮﺩًا ﻭَﻻَ ﻳَﺘَﻜَﻠَّﻒُ ﻣَﻔْﻘُﻮﺩًا ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺇﻥْ ﺣَﻀَﺮَ ﺧُﺒْﺰٌ ﻭَﻟَﺤْﻢٌ ﺃَﻛَﻠَﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺣَﻀَﺮَ ﻓَﺎﻛِﻬَﺔٌ ﻭَﺧُﺒْﺰٌ ﻭَﻟَﺤْﻢٌ ﺃَﻛَﻠَﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺣَﻀَﺮَ ﺗَﻤْﺮٌ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﺃَﻭْ ﺧُﺒْﺰٌ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﺃَﻛَﻠَﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺣَﻀَﺮَ ﺣُﻠْﻮٌ ﺃَﻭْ ﻋَﺴَﻞٌ ﻃَﻌِﻤَﻪُ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣَﺐَّ اﻟﺸَّﺮَاﺏِ ﺇﻟَﻴْﻪِ اﻟْﺤُﻠْﻮُ اﻟْﺒَﺎﺭِﺩُ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﺄْﻛُﻞُ اﻟْﻘِﺜَّﺎءَ. ﺑِﺎﻟﺮُّﻃَﺐِ ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺇﺫَا ﺣَﻀَﺮَ ﻟَﻮْﻧَﺎﻥِ ﻣِﻦْ اﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻳَﻘُﻮﻝُ: ﻻَ ﺁﻛُﻞُ ﻟَﻮْﻧَﻴْﻦِ ﻭَﻻَ ﻳَﻤْﺘَﻨِﻊُ ﻣِﻦْ ﻃَﻌَﺎﻡٍ ﻟِﻤَﺎ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦْ اﻟﻠَّﺬَّﺓِ ﻭَاﻟْﺤَﻼَﻭَﺓِ.

ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣْﻴَﺎﻧًﺎ ﻳَﻤْﻀِﻲ اﻟﺸَّﻬْﺮَاﻥِ ﻭَاﻟﺜَّﻼَﺛَﺔُ ﻻَ ﻳُﻮﻗَﺪُ ﻓِﻲ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ﻧَﺎﺭٌ ﻭَﻻَ ﻳَﺄْﻛُﻠُﻮﻥَ ﺇﻻَّ اﻟﺘَّﻤْﺮَ ﻭَاﻟْﻤَﺎءَ ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎﻧًﺎ ﻳَﺮْﺑُﻂُ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻄْﻨِﻪِ اﻟْﺤَﺠَﺮَ ﻣِﻦْ اﻟْﺠُﻮﻉِ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻻَ ﻳَﻌِﻴﺐُ ﻃَﻌَﺎﻣًﺎ ﻓَﺈِﻥْ اﺷْﺘَﻬَﺎﻩُ ﺃَﻛَﻠَﻪُ ﻭَﺇِﻻَّ ﺗَﺮَﻛَﻪُ.

“adapun makanan dan pakaian maka sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu alaihi wasallam dan adalah tabiat beliau dalam hal makanan sesungguhnya beliau makan dengan apa yang ada / mudah, apabila beliau berselera terhadapnya dan beliau tidaklah menolak apa yang tersedia tidak pula memberatkan diri dengan sesuatu yang tidak ada, maka apabila dihidangkan kepada beliau sepotong roti dan daging beliau pun memakannya dan apabila dihidangkan kepada beliau buah-buahan dan roti dan daging beliau pun memakannya dan apabila dihidangkan kepada beliau kurma saja atau roti saja beliau pun memakannya dan apabila dihidangkan kepada beliau manisan atau madu beliau pun memakannya juga, dan minuman yang paling disenangi oleh beliau adalah yang manis lagi dingin dan dahulu beliau memakan labu dengan ruthab (kurma basah), tidaklah apabila dihidangkan kepada beliau dua macam jenis makanan lantas beliau berkata : ”aku tidak makan dua macam”, dan beliau juga tidak menolak makanan yang lezat dan manis, dan terkadang berlalu 2 hingga 3 bulan tidaklah menyala sama sekali api di rumah beliau (tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak) dan hanya kurma dan air yang beliau makan dan terkadang pula tak jarang beliau mengikat batu di perut beliau demi menahan lapar dan beliau juga tidak pernah mencela makanan, apabila beliau berselera beliau memakannya dan apabila tidak berselera beliau pun meninggalkannya”

Beliau juga berkata :

ﻓَﺈِﺫَا ﻓَﻌَﻞَ ﻓِﻌْﻼً ﻟِﺴَﺒَﺐِ ﻭَﻗَﺪْ ﻋَﻠِﻤْﻨَﺎ ﺫَﻟِﻚَ اﻟﺴَّﺒَﺐَ ﺃَﻣْﻜَﻨَﻨَﺎ ﺃَﻥْ ﻧَﻘْﺘَﺪِﻱَ ﺑِﻪِ ﻓِﻴﻪِ ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺇﺫَا ﻟَﻢْ ﻧَﻌْﻠَﻢْ اﻟﺴَّﺒَﺐَ ﺃَﻭْ ﻛَﺎﻥَ اﻟﺴَّﺒَﺐُ ﺃَﻣْﺮًا اﺗِّﻔَﺎﻗِﻴًّﺎ ﻓَﻬَﺬَا ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﺘَﻨَﺎﺯَﻉُ ﻓِﻴﻪِ اﻟﻨَّﺎﺱُ: ﻣِﺜْﻞَ ﻧُﺰُﻭﻟِﻪِ ﻓِﻲ ﻣَﻜَﺎﻥٍ ﻓِﻲ ﺳَﻔَﺮِﻩِ. ﻓَﻤِﻦْ اﻟْﻌُﻠَﻤَﺎءِ ﻣَﻦْ ﻳَﺴْﺘَﺤِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﺰِﻝَ ﺣَﻴْﺚُ ﻧَﺰَﻝَ ﻛَﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ اﺑْﻦُ ﻋُﻤَﺮَ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﻭَﻫَﺆُﻻَءِ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻧَﻔْﺲُ ﻣُﻮَاﻓَﻘَﺘِﻪِ ﻓِﻲ اﻟْﻔِﻌْﻞِ ﻫُﻮَ ﺣَﺴَﻦٌ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻌْﻠُﻪُ ﻫُﻮَ اﺗِّﻔَﺎﻗًﺎ ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﻓَﻌَﻠْﻨَﺎﻩُ ﻟِﻘَﺼْﺪِ اﻟﺘَّﺸَﺒُّﻪِ ﺑِﻪِ. ﻭَﻣِﻦْ اﻟْﻌُﻠَﻤَﺎءِ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺇﻧَّﻤَﺎ ﺗُﺴْﺘَﺤَﺐُّ اﻟْﻤُﺘَﺎﺑَﻌَﺔُ ﺇﺫَا ﻓَﻌَﻠْﻨَﺎﻩُ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻮَﺟْﻪِ اﻟَّﺬِﻱ ﻓَﻌَﻠَﻪُ ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺇﺫَا ﻓَﻌَﻠَﻪُ اﺗِّﻔَﺎﻗًﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺸْﺮَﻉْ ﻟَﻨَﺎ ﺃَﻥْ ﻧَﻘْﺼِﺪَ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺼِﺪْﻩُ

“maka apabila Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melakukan suatu perbuatan karena sebab tertentu sementara sebab yang melatarbelakangi perbuatan tersebut telah kita ketahui maka menjadi mungkin bagi kita untuk mencontoh beliau pada perbuatan tersebut, adapun apabila kita tidak mengetahui sebabnya atau bahwasanya sebab yang melatarbelakangi perbuatan beliau tersebut adalah suatu perkara yang sifatnya kebetulan (tanpa disengaja untuk tujuan / maksud tertentu) maka perkara tersebut merupakan perkara yang manusia berselisih padanya misalkan, berhentinya beliau pada suatu tempat tertentu di sela-sela safar beliau, di antara para ulama ada yang mengutamakan untuk berhenti dalam safar di tempat yang dahulu beliau berhenti di tempat tersebut ketika safar melintasi tempat tersebut, sebagaimana Ibnu Umar dahulu melakukannya, mereka berdalih :

√ ( pendapat pertama ) : bahwa sebatas mencocoki beliau dalam perbuatan beliau adalah baik walaupun perbuatan beliau tersebut dilakukan dalam rangka kebetulan dan kami melakukannya dengan tujuan untuk menyerupai beliau dengan perbuatan tersebut,

√ ( pendapat kedua ) : dan di antara ulama ada yang berpendapat bahwa hanyalah disunahkan berittiba’ kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam itu apabila kita melakukan suatu perbuatan sesuai dengan bentuk / latar belakang yang telah dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adapun apabila beliau melakukannya karena suatu kebetulan maka tidaklah disyariatkan bagi kita untuk menyengaja / memaksudkan suatu perbuatan yang beliau tidak memaksudkannya untuk tujuan tertentu (sebagai bentuk peribadatan secara tersendiri)”

Hingga ucapan beliau :

ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻟَﻤَّﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺄْﻛُﻞُ اﻟﺮُّﻃَﺐَ ﻭَاﻟﺘَّﻤْﺮَ ﻭَﺧُﺒْﺰَ اﻟﺸَّﻌِﻴﺮِ ﻭَﻧَﺤْﻮَ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﻗُﻮﺕِ ﺑَﻠَﺪٍ ﻓَﻬَﻞْ اﻟﺘَّﺄَﺳِّﻲ ﺑِﻪِ ﺃَﻥْ ﻳُﻘْﺼَﺪَ ﺧُﺼُﻮﺹُ اﻟﺮُّﻃَﺐِ ﻭَاﻟﺘَّﻤْﺮِ ﻭَاﻟﺸَّﻌِﻴﺮِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻔْﻌَﻞَ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﻦْ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻓِﻲ ﺑِﻼَﺩٍ ﻻَ ﻳَﻨْﺒُﺖُ ﻓِﻴﻬَﺎ اﻟﺘَّﻤْﺮُ ﻭَﻻَ ﻳَﻘْﺘَﺎﺗُﻮﻥَ اﻟﺸَّﻌِﻴﺮَ ﺑَﻞْ ﻳَﻘْﺘَﺎﺗُﻮﻥَ اﻟْﺒُﺮَّ ﺃَﻭْ اﻟﺮُّﺯَّ ﺃَﻭْ ﻏَﻴْﺮَ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﻣَﻌْﻠُﻮﻡٌ ﺃَﻥَّ اﻟﺜَّﺎﻧِﻲَ ﻫُﻮَ اﻟْﻤَﺸْﺮُﻭﻉُ. ﻭَاﻟﺪَّﻟِﻴﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﻥَّ اﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔَ ﻟَﻤَّﺎ ﻓَﺘَﺤُﻮا اﻷَْﻣْﺼَﺎﺭَ ﻛَﺎﻥَ ﻛُﻞٌّ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻳَﺄْﻛُﻞُ ﻣَﻦْ ﻗُﻮﺕِ ﺑَﻠَﺪِﻩ

” dan demikian pula tatkala beliau memakan ruthab (kurma basah) dan tamr (kurma kering) dan roti dari tepung terigu dan yang selain daripada itu dari bahan makanan pokok negeri beliau, maka apakah berittiba’ / meneladi beliau itu adalah dengan menyengaja / memaksudkan pengkhususan ruthab dan tamr dan terigu, sehingga seseorang yang di negerinya tidak tumbuh padanya kurma dan tidak pula menjadikan terigu sebagai bahan makanan pokok akan tetapi justru menjadikan gandum atau beras atau yang selain daripada itu sebagai bahan makanan pokok lantas kemudian dia melakukan perbuatan yang demikian itu (menyengaja / memaksudkan pengkhususan ruthab , tamr , terigu sebagai bahan makanan pokoknya dalam rangka meneladani Nabi shalallahu alaihi wasallam) dan sudah diketahui bahwasanya pendapat yang kedua itulah yang disyariatkan dan dalil atas yang demikian itu adalah bahwasanya para sahabat dahulu tatkala mereka berhasil menaklukkan negeri-negeri , masing-masing dari mereka makan dari bahan makanan pokok negeri tersebut [Majmu Fataawa jilid 22 / hal. 325]

*KESIMPULAN*

Dari penjabaran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di atas menjadi jelas bagi kita bahwa berittiba’ kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam itu bukanlah sekedar melakukan perbuatan sebagaimana perbuatan yang dilakukan oleh beliau semata, namun sudah sepatutnya untuk memperhatikan cara, konsep, sebab, maksud dan tujuan yang menjadi latar belakang perbuatan tersebut, sebagai contoh misalkan saja telah diketahui dalam sejarah bahwasanya dahulu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengendarai keledai maupun onta tatkala sedang bepergian, lalu datang kemudian seseorang di zaman belakangan ini yang menjadikan keledai dan onta sebagai kekhususan tunggangan bagi dirinya jika bepergian dengan dalih berittiba’ kepada perbuatan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, walaupun bentuk perbuatan tersebut mencocoki perbuatan Rasulullah akan tetapi maksud tujuan yang melatarbelakangi sebab perbuatan tersebut tidaklah sama dikarenakan Rasulullah melakukan perbuatan tersebut dilatarbelakangi dengan suatu kebetulan atau dengan kata lain sesuai dengan keadaan dan kondisi yang ada pada saat itu, sehingga tindakan mengkhususkan keledai ataupun onta dengan dilandasi keyakinan sebagai bentuk ibadah meneladani Rasulullah justru malah menjadi sebuah penyelisihan terhadap hakekat mutaba’ah kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Begitu pula tindakan menyengaja mengkhususkan memakan kurma dengan memaksudkannya sebagai suatu bentuk peribadatan sementara Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melakukannya atas dasar suatu kebetulan atau adat kebiasaan yang berlaku di negeri tersebut di masa itu, maka justru yang demikian itu malah menjadi sebuah tindakan penyelisihan terhadap sunah, bahkan dapat menghantarkan kepada pintu-pintu kebidahan, terkhusus lagi apabila disertai keyakinan dengan memakannya dalam jumlah bilangan tertentu seperti bilangan ganjil 3, 5, 7 dan seterusnya.

Sebagaimana yang difatwakan oleh Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin rahimahullah ketika beliau ditanya dengan sebuah pertanyaan sebagai berikut :

ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺃﻥ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﻋﻨﺪ ﺇﻓﻄﺎﺭﻩ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳُﻔﻄﺮ ﻋﻠﻰ ﻋﺪﺩ ﻓﺮﺩﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻤﺮ – ﺃﻱ ﺧﻤﺲ ﺃﻭ ﺳﺒﻊ ﺗﻤﺮﺍﺕ ﻭﻫﻜﺬﺍ – ﻓﻬﻞ ﻫﺬﺍ ﻭﺍﺟﺐ ؟

“saya mendengar bahwa wajib bagi seorang yang berpuasa untuk berbuka dengan memakan kurma dalam bilangan ganjil yakni 5 atau 7 dan seterusnya, apakah yang demikian itu hukumnya wajib ? ”

Maka beliau pun menjawab :

ﻟﻴﺲ ﺑﻮﺍﺟﺐ ﺑﻞ ﻭﻻ‌ ﺳُﻨﺔ ﺃﻥ ﻳﻔﻄﺮ ﺍﻹ‌ﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻭﺗﺮ – ﺛﻼ‌ﺙ ﺃﻭ ﺧﻤﺲ ﺃﻭ ﺳﺒﻊ ﺃﻭ ﺗﺴﻊ – ﺇﻻ‌ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻋﻴﺪ ﺍﻟﻔﻄﺮ، ﻓﻘﺪ ﺛﺒﺖ (ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﻻ‌ ﻳﻐﺪﻭ ﻟﻠﺼﻼ‌ﺓ ﻳﻮﻡ ﻋﻴﺪ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﺣﺘﻰ ﻳﺄﻛﻞ ﺗﻤﺮﺍﺕ ﻭﻳﺄﻛﻠﻬﻦ ﻭﺗﺮﺍً) ﻭﻣﺎ ﺳﻮﻯ ﺫﻟﻚ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻳﺘﻘﺼﺪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﻛﻠﻪ ﺍﻟﺘﻤﺮ ﻭﺗﺮﺍً

” Tidaklah wajib, Bahkan tidak pula sunah bahwa seseorang itu harus berbuka dengan memakan dalam bilangan ganjil, 3 atau 5 atau 7 atau 9 kecuali di hari raya idul fitri dikarenakan yang demikian itu telah benar datangnya dari Nabi shalallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau dahulu tidaklah keluar untuk salat di hari idul fithri sampai beliau memakan terlebih dahulu beberapa buah kurma dan beliau memakannya dalam bilangan ganjil”, adapun yang selain daripada itu maka Nabi shalallahu alaihi wasallam tidaklah memaksudkan dengan sengaja bahwa beliau memakannya dalam jumlah yang ganjil ” [Fataawa Nur ‘ala Darb kaset nomor 354]

والله أعلم بالصواب

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن اتبعه بإحسان إلى يوم الدين

✒ Abu Usamah Adam bin Saleh bin Ubaid Iskandar Alam

1439 H – Ramadan ke-9 di negeri Iman , Yaman

Darul Hadis Al-Fiyuusy, Lahj / Yaman

Tinggalkan Balasan