Permulaan yang kuat adalah jaminan untuk akhir yang bahagia, harus ada tekad yang kuat dan disiplin yang tidak bisa ditawar-tawar jika kita ingin memprogramkan kesuksesan. Bahkan jika harus sakit maka sakitlah, jika harus merintih maka merintihlah namun pekerjaan harus terus berjalan!

فَقَسَا لِيَزْدَجِرُوا، وَمَنْ يَكُ رَاحِماً ** فَلْيَقْسُ أَحْيَاناً عَلَى مَنْ يَرْحَمُ

“Maka ia bersikap keras agar mereka patuh, dan barang siapa yang sayang…”

“Hendaknya ia bersikap keras terkadang kepada orang yang ia sayang…”

Bahkan seorang ayah harus berkeras hati melawan badai tangisan anak-anaknya demi kesuksesan mereka, anda wahai ayah adalah orang yang berakal jangan sampai anda patuh kepada anak kecil yang tidak punya akal yang sempurna! Anda adalah pemimpin yang seharusnya mengarahkan kemana dia harus berjalan!

Abu Utsman Al-Hiri mengatakan:

“Barangsiapa yang tidak benar niat dan tekadnya sejak awal, maka sungguh berlalunya waktu tidak menambahnya melainkan ketertinggalan.” (1)

Di awal islam Allah membebani para sahabat didalam jihad dengan beban yang sangat berat, 1 orang muslim harus melawan 10 orang musyrik dan tidak boleh mundur, baru kemudian Allah meringankan beban tersebut menjadi satu muslim melawan dua musyrik (sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al-Anfal, 65 dan 66).

Dalam syariat puasa juga demikian, pada awalnya Allah mengharamkan bagi orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan untuk menjauhi makanan, minuman, dan istrinya jika dia telah tidur pada malam hari. Kemudian Allah meringankan beban ini setelah para sahabat terbiasa melaksanakan puasa.

Al-Imam Ibnul Qayyim mengatakan:

“Terkadang sebagian raja melakukan hal seperti ini kepada rakyatnya, bahkan para kuli angkut juga melakukan hal yang serupa, mereka menambahkan beban angkut mereka yang sebenarnya tidak dibutuhkan, kemudian mereka mengurangi beban tadi hingga akan terasa lebih ringan memikul sisanya.” (2)

Diantara bentuk ketegasan itu adalah:

1. Perintah untuk melakukan qadha’ jika seorang luput darinya sebuah kewajiban sehingga jiwa kita tidak terbuai dalam kelalaian dan meremehkan kewajiban, sehingga akan mengakibatkannya sulit untuk disiplin kemudian.

2. Menggunakan bahasa perintah dan larangan dengan tegas, bukan hanya sekedar anjuran atau ajakan bahkan terkadang kita abaikan ketidakpahaman orang yang kita perintah akan apa yang akan ia laksanakan dari perintah atau larangan kita! Seorang dokter tidak perlu menjelaskan kepada anda fungsi dari setiap butir obat yang dia berikan kepada anda, dia hanya perlu memaksa anda untuk meminum obat tersebut agar anda sembuh dari penyakit, demikian pula orang tua dan anak, pemimpin dengan anak buahnya terkadang butuh sikap seperti ini!

3. Ketegasan dan ancaman, seorang sahabat Basyir bin Al-Khasasiyah datang berbaiat kepada Rasulullah untuk masuk islam, ia berkata: “Maka Rasulullah mensyaratkan agar aku bersyahadat Laa Ilaaha Illallah dan Muhammad Rasulullah, salat lima waktu, puasa pada bulan Ramadhan, membayar zakat, dan haji ke rumah Allah, dan berjihad di jalan Allah!” ia berkata: maka aku berkata: “Wahai Rasulullah adapun yang dua maka saya tidak mampu (zakat dan jihad) adapun zakat maka saya hanya punya sepuluh unta, sedangkan jihad maka kata orang-orang bahwa yang berpaling darinya akan membawa murka Allah, maka saya takut jika giliran jihad datang saya takut mati dan jiwa saya menjadi takut,” maka Rasulullah menggenggam tangannya dan menggerakkannya seraya bersabda: “Tidak ada sedekah dan tidak ada jihad?! Lantas dengan apa kamu ingin masuk surga?!” maka Basyir berkata: “Wahai Rasulullah kalau demikian aku berbaiat kepadamu dengan semua syarat itu!” (3)

Saudaraku para orang tua, tolong pahamilah pesan ini, jangan sampai anda menyesal seperti Abdul Malik bin Marwan dan juga Al-Mu’tashim bin Harun Ar-Rasyid tentang perihal pendidikan.

Abdul Malik bin Marwan mengatakan: “Cinta kami kepada Al-Walid merugikan kami,” yakni semua putra beliau seperti Sulaiman dan yang lainnya sejak kecil menyusu dan tinggal di pedalaman Badui untuk belajar bahasa Arab dan adab orang Arab, namun Al-Walid tinggal di kerajaan Bani Umayyah karena terlalu sayangnya orang tuanya kepadanya. Namun ketika dia dewasa dia tidak sehebat saudara-saudaranya dalam berbahasa dan beretika, maka hal ini sangat disesali oleh Abdul Malik bin Marwan. (4)

Demikian pula Al-Mu’tashim yang ketika masih kecil sangat benci sekolah, ketika ia ditanya oleh ayahnya Harun Ar-Rasyid: “Kemana temanmu si Fulan?” ia menjawab: “Dia meninggal dan akhirnya bisa bebas dari kuttab (sekolah),” Harun berkata: “Apakah sampai seperti itu engkau membenci sekolah?” dan akhirnya Harun tidak menyekolahkan anaknya dan Al-Mu’tashim menyesal saat ia dewasa sambil berkata: “Cintanya Harun telah merugikan kami.” (5)

Anda yang tau maslahat dan kebaikan mereka maka persiapkan mereka, jangan anda kalah dengan wajah polos mereka, jangan sampai hati anda luluh diterpa tangisan mereka, meski saya paham bahwa tetes air mata mereka terasa bagaikan banjir bandang yang menerjang hati anda. Tapi yakinlah ini adalah kasih sayang yang sebenarnya! Tunggulah nanti satu saat mereka akan mengucapkan kepada anda: “Ayah, ibu, terima kasih telah bersabar mendidik aku dan tidak menyerah pada kemanjaanku.”

Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadz Achmad Handika, Lc

Referensi :

  1. Madarijus Salikin, Manzilatul Iradah.
  2. Al-Majmu’ul Qayyim (838).
  3. HR. Hakim dalam Al-Mustadrak (2468).
  4. Ar-Raudhul Unuf Litafsiri Sirah Nabawiyah, oleh As-Suhaili (1/187).
  5. Al-Iqdul Farid oleh Ibnu Abdi Rabbih Al-Andalusi (2/275).

Tinggalkan Balasan