*SURAT TERBUKA UNTUK YANG TERHORMAT ASY-SYAIKH UBAID AL-JABIRI TERKAIT HASUNGAN KEPADA AHLUS SUNNAH AGAR BERSERIKAT DALAM PEMILU DEMOKRASI*

0
263

 

*SURAT TERBUKA UNTUK YANG TERHORMAT ASY-SYAIKH UBAID AL-JABIRI TERKAIT HASUNGAN KEPADA AHLUS SUNNAH AGAR BERSERIKAT DALAM PEMILU DEMOKRASI*
~~~~~~~~~~~~~~~~~~

🌴 Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz Al-Buro’i hafizahulloh

*****

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين و بعد :

Berikut ini adalah sebuah surat dari Abdul Aziz bin Yahya Al-Buro’i kepada Asy-Syaikh Al-Mubarok Ubaid Al-Jabiri,

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh,

Sungguh aku telah membaca fatwa dari anda tertanggal hari Senin 29 Muharrom 1430 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 26 Januari 2009 Masehi, yaitu sebuah fatwa yang berkaitan dengan “Pemilihan Suara” di negara Irak, dimana fatwa tersebut adalah sebuah jawaban dari pertanyaan mereka (Ahlus Sunnah di Irak) tentang batasan disyariatkannya bagi mereka untuk berserikat dalam pemungutan suara dalam lembaga pemerintahan setempat.

Dan jawaban anda setelah sebelumnya anda mengharamkan pemilihan suara adalah :

🔥 “Anda membolehkan bagi mereka ahlus sunnah untuk bergabung dalam pemungutan suara tersebut dalam rangka mencegah keburukan, yang mana *diduga* bisa saja terjadi (keburukan) pada mereka disebabkan jauhnya (Ahlus Sunnah) dari pemilu / pemungutan suara, dan bahwasanya apabila di sana tidak ada yang mewakili mereka, maka bagi Ahlus Sunnah -apabila memungkinkan- hendaklah mereka mencalonkan kandidat seorang lelaki atau beberapa lelaki di antara mereka untuk (bersaing memperebutkan) posisi jabatan tersebut atau pada kursi-kursi jabatan secara keumuman dalam lembaga pemerintahan negara, hendaklah mereka mencalonkan seorang kandidat dari Ahlu Sunnah yang memiliki kepiawaian dalam perpolitikan !! dan diduga kuat bahwasanya apabila calon kandidat dari Ahlus Sunnah tersebut berhasil memenangkan pemilu maka akan membawa manfaat bagi Ahlus Sunnah”

Sampai pada ucapan anda dalam kesimpulan fatwa tersebut :

🔥 “Yang kedua bahwasanya apabila ahlus sunnah secara khusus dan kaum muslimin secara umum mereka semua merasa yakin jika mereka tidak turut masuk ke dalam suatu pemilu di negara manapun maka akibatnya akan menjadi terbengkalai hak-hak mereka dan tidak terpenuhi hak-hak mereka dikarenakan mereka tidak mencalonkan seorangpun kandidat dari kalangan mereka, maka kami memandang hendaklah mereka turut masuk dalam pemilu tersebut dalam rangka menuntut kemaslahatan mereka dan agar terpenuhi hak-hak mereka serta menguatkan mereka untuk dapat mengambil apa-apa yang menjadi hak mereka”

Dan setelah penjabaran yang ringkas ini terhadap fatwa anda -semoga Allah meluruskan langkah anda-, saya ingin mendiskusikan sebagian permasalahan yang menjelaskan bahwasanya :

☝🏻️💥 Fatwa tersebut, tidaklah Ahlus Sunnah dapat mengambil faidah darinya, bahkan sebaliknya justru yang akan mengambil faidah darinya adalah selain ahlus sunnah dari kalangan IKHWANUL MUSLIMIN atau yang selain mereka !

☝🏻️💥 dan juga Ahlus Sunnah justru akan ditimpa keburukan apabila mereka turut berserikat dalam pemilu-pemilu tersebut,

Oleh sebab itu maka aku katakan :

1⃣ *PERTAMA*
Pemungutan suara / pemilu adalah menyelisihi Al-Qur’an dan sunnah rosul-Nya dikarenakan hal tersebut dibangun di atas kesetaraan / emansipasi antara orang-orang yang sholih dan yang selain mereka, sementara Allah berfirman (yang artinya) :

{ apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan beramal sholih yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka ?! alangkah buruknya penilaian mereka tersebut } (QS. Al-Jatsiyyah)

Di dalam undang-undang demokrasi mereka menjadikan yang demikian itu setara dalam kehidupan mereka, dimana tidak ada perbedaan antara orang-orang yang sholih dan yang bukan !

“Seorang yang alim dan seorang homoseksual berada dalam batasan yang sama !!!”

🔥🚫 Maka dari itu masuknya Ahlus Sunnah pada sistem tersebut teranggap sebuah tindakan pengokohan / penyokongan terhadap sistem undang-undang tersebut yang diadopsi dari selain orang-orang muslim !

Dan dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang pembedaan antara orang-orang yang sholih dan yang bukan sholih sangatlah banyak dan telah maklum di sisi anda.

2⃣ *KEDUA*
Sesungguhnya pembolehan sistem perundang-undangan demokrasi di suatu negeri disertai dukungan berupa turut terlibatnya Ahlus Sunnah , kerusakannya adalah lebih besar daripada maslahat yang diharapkan, dikarenakan bahwasanya seorang kandidat yang dicalonkan dan para pemilih / pencoblos kandidat tersebut, mereka semua dituntut untuk menghargai (kebebasan) berpendapat dan dituntut untuk menghargai pendapat orang lain !!!

💥🔥 Dan terkadang bisa jadi mereka mencari simpati kepada para pelaku maksiat dan ahli bid’ah demi agar mereka memilih sang calon kandidat salafi tersebut.

⚡️ Diantara bentuk-bentuk meraih simpati tersebut adalah :

🔇🔥 diam dari kebid’ahan seorang ahli bid’ah

🔇🔥 dan diam dari maksiatnya para pelaku maksiat,

terlebih lagi apabila mereka menduga tidak akan menang dalam pemilihan suara, duhai kalau begitu maslahat apa yang akan diharapkan padanya ?!

3⃣ *KETIGA*
Sungguh anda telah menyebutkan akan maslahat / keuntungan dari sisi duniawi yaitu bahwasanya, apabila kita khawatir terhadap hasil pemilihan suara tersebut, maka kewajiban bagi kita untuk turut berserikat terlibat dalam pemilu / pilgub tersebut !

Maka saya katakan :

☝🏻️⚠️ Bagaimana bisa kita mengalah dari pokok-pokok yang besar demi perkara-perkara duniawi, dimana dengan sebab itu kita dituntut untuk :

💥 Menghormati kebebasan berpendapat dan menghormati pendapat orang lain

💥 KIta dituntut untuk menyetarakan antara laki-laki dan wanita, antara orang yang sholih dan yang tidak sholih

💥 Kita dituntut untuk diam terhadap kebid’ahan dan terhadap pelaku-pelaku bid’ah, paling tidak seminim-mininnya adalah dalam masa periode pemungutan suara dan yang selain daripada itu hanya demi maslahat duniawi ?!

Sungguh telah baik orang yang berkata :

“kita mengangkat dunia kita dengan mencabik-cabik agama kita”

“dan hasilnya tidaklah tersisa agama kita tidak pula apa yang kita angkat (dunia)”

☝🏻️⚠️ Sesungguhnya seorang calon kandidat tertentu apabila dia berhasil memenangkan pemilu sama saja apakah dia seorang yang buruk atau tidak, apabila dia ingin mewujudkan suatu kemaslahatan tertentu maka kemaslahatan tersebut akan berlaku secara umum di daerahnya, semua orang akan mendapatkannya tanpa terbeda-bedakan sebagaimana proyek fasilitas air bersih, fasilitas listrik, perbaikan jalan atau sekolah-sekolah atau rumah sakit atau yang selain daripada itu.

semua masyarakat akan dapat merasakan manfaatnya tanpa terkecuali !!

bahkan (secara logika) saya pun yang memilih tidak memilih dalam pemilu tersebut sudah sepatutnya bagi orang yang telah memenangkan pemilu / pilgub tersebut untuk memberi perhatian yang lebih kepada saya dibandingkan dengan lawan pemilu dia yang mana pilihan suara mereka justru kepada lawan politiknya dan tentunya kemaslahatan tersebut tidak akan didapatkan oleh para lawan politiknya (namun bersamaan dengan itu pada kenyataannya justru orang-orang-orang yang pada masa pemilu lebih memilih untuk mencoblos orang yang menjadi lawan politiknya tidaklah tercegah untuk mendapatkan proyek-proyek kemaslahatan tersebut).

Maka siapakah yang mengatakan bahwa proyek-proyek kemaslahatan hanya akan diraih oleh orang-orang yang menyuarakan suaranya kepadanya ?!

4⃣ *KEEMPAT*
Anda telah menyebutkan bahwasanya apabila hak-hak mereka (ahlus sunnah) tidak terpenuhi maka boleh bagi mereka untuk mengangkat seorang kandidat, padahal anda membolehkan yang demikian itu dalam perkara yang sifatnya darurat saja.

“Dan telah maklum bahwasanya perkara darurat tersebut dapat terangkat walaupun tanpa terpenuhinya hak-hak secara sempurna !!”

Kemudian juga siapakah yang akan menentukan bahwasanya mereka telah mendapatkan dari hak-hak mereka seukuran apa yang dengannya menjadi terangkatlah perkara darurat tersebut atau penunaian hak-hak secara sempurna ?!

Tentunya masing-masing partai akan mendakwakan adanya hak-hak yang belum terpenuhi, maka dari itu mereka akan senantiasa berlomba-lomba dalam pemilu / pemungutan suara sampai akhir batas.

5⃣ *KELIMA*
Sesungguhnya fatwa anda tersebut yaitu pembolehan bagi ahlus sunnah dan yang selain mereka untuk berserikat dalam pemilu apabila tidak terpenuhi hak-hak mereka kecuali dengan turut terlibat dalam pemilu, dan telah diketahui apa yang diinginkan oleh kelompok SYI’AH dan kelompok SUFI, mereka semua memandang bahwa termasuk dari hak-hak mereka adalah penegakan syi’ar-syi’ar mereka yang bid’ah, dan terkadang mereka memandang bahwa termasuk dari hak-hak mereka adalah memukul ahlus sunnah, memberhentikan dakwah mereka dan yang selain daripada itu, ucapan tersebut (hasungan untuk terlibat dalam pemilu demi meraih hak-hak) walaupun tidak menepati kebenaran akan tetapi teranggap ucapan yang bisa ditarik kesana-kemari, sangat mungkin untuk dimanfaatkan oleh ahli kebatilan untuk menebarkan kebatilannya.

6⃣ *KEENAM*
Sesungguhnya seorang lelaki dari kalangan masyarakat terkadang dia adalah seorang yang terhormat di kalangan manusia, seorang yang dicintai di sisi mereka, maka apabila dia mencalonkan diri (dalam pemilu) dan orang lain pun mencalonkan sosok yang lain yang menjadi lawan politiknya sebagaimana yang demikian itu telah maklum, maka sesungguhnya mereka akan mengadakan propaganda terhadapnya dengan mengadakan tuduhan-tuduhan dan menjelek-jelekkan bahwa lawan politiknya tersebut adalah seorang pendusta dan pembuat makar, mengingkari janji-janji dan mereka akan memperolok-olok jenggotnya apabila dia memiliki jenggot, mereka akan membicarakannya di majlis-majlis khusus maupun umum dan akan berkoar-koar di jalanan untuk merusak citra dirinya, menjatuhkan kewibawaannya dan jadilah dia berusaha mempertahankan mati-matian posisinya tersebut dalam keadaan dia bersabar atas apa yang dialaminya berupa ejekan dan dia memandang bahwasanya yang demikian itu dia anggap ringan seluruh perendahan demi ambisi meraih “jabatan” tersebut, maka apakah pantas yang demikian itu untuk mendorong ahlus sunnah kepada jurang kerendahan tersebut ?!….”

7⃣ *KETUJUH*
Sesungguhnya pendukung calon kandidat tersebut dimana mereka adalah para salafiyyun, mereka akan mengkampanyekan khutbah-khutbah mereka, pelajaran-pelajaran mereka, ceramah-ceramah mereka serta majelis-majelis taklim mereka dan pergerakan mereka seluruhnya adalah untuk mempromosikan sosok yang dicalonkan tersebut, ditambah lagi dengan penempelan-penempelan spanduk dan pamflet-pamflet di tembok-tembok dari ungkapan-ungkapan kampanye yang tertulis beserta gambar foto calon kandidat tersebut, mengisinya seruan kepada manusia dengan ungkapan-ungkapan yang menghasung manusia agar memilih / mencoblos calon kandidat tersebut dan yang selain daripada itu dari perkara-perkara yang kita dapat menyaksikannya dan disaksikan pula oleh orang-orang selain kita, dimana yang demikian itu akan mengeluarkan dakwah ahlus sunnah dari dakwah mereka yang penuh kewibawaan kepada pergulatan caci maki / saling sikut, sehingga menjatuhkan kewibawaan dakwah salafiyyah dan merusak maksud dari dakwah itu sendiri.

8⃣ *KEDELAPAN*
Sungguh kami telah mengetahui bahwasanya, apabila ahlus sunnah melakukan perkara-perkara yang demikian itu, tentu manusia akan membenci mereka sebagaimana orang-orang telah membenci yang selain mereka disebabkan karena orang-orang tersebut memandang bahwa mereka (ahlus sunnah) turut terjun bergelut demi kursi kekuasaan dan cukuplah yang demikian itu !!!

9⃣ *KESEMBILAN*
Dan setelah ini semua “anggaplah” sudah (boleh bagi ahlus sunnah untuk terlibat pemilu) walaupun kami tetap tidak sependapat, sesungguhnya jika kita mengangkat seorang anggota parlemen di MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) atau di majelis yang selainnya di hadapan ratusan para anggota parlemen yang lain kemudian diadakan voting suara dalam parlemen tersebut, maka dimanakah kekuatan suaranya di hadapan puluhan bahkan ratusan dari para anggota parlemen yang terdiri dari orang-orang sekuler, orang-orang Syi’ah, orang-orang Sufi dan yang selain daripada itu dari berbagai kelompok sementara hukum yang berlaku adalah HUKUM MAYORITAS !!!!

💥 Maka seluruh tuntutan dia akan jatuh / tidak teranggap dikarenakan dia hanya seorang diri !!

🚫 Apakah anda kira bahwa permasalahannya adalah hanya permasalahan kepegawaian seperti mengajar dan yang semisal itu dari sisi bahwasanya seorang pegawai mampu untuk menentukan kemaslahatan di suatu bidang / lahan tertentu baik itu sedikit maupun banyak ?

Tentu tidak !!!

Sesungguhnya perkaranya adalah “pengambilan suara” dan hukum yang berlaku adalah “hukum mayoritas” maka apakah yang dapat dia lakukan (sebagai ahlus sunnah) dengan status dia yang seorang diri.
…. .. ….. …. …… … … … …. .. .. .. .. ……. ……. …. … ………… ….. … … … … … … ………

1⃣0⃣ *KESEPULUH*
Dan setelah itu semua anggaplah misalnya bahwa calon kandidat salafi tersebut gagal / kalah dan suara dimenangkan oleh orang lain, berapa banyak akan anda saksikan padanya dan pada para pendukungnya berupa kedengkian terhadap orang lain (yang menjadi lawan politiknya) dan berapa banyak dari kemaslahatan yang akan terbengkalai serta berapa banyak dari kerusakan yang akan terjadi, dalam keadaan mereka telah menanamkan pada jiwa-jiwa mereka sendiri berupa kedengkian terhadap orang lain (yang menjadi lawan politiknya) yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Ditambah lagi bahwasanya para pesaing yang berhasil memenangi perolehan suara akan mencurahkan segala daya dan upaya mereka agar ahlus sunnah tidak berdaya dalam kancah ajang perolehan suara sehingga mereka akan kalah dalam persaingan pemilu di masa yang akan datang.

1⃣1⃣ *KESEBELAS*
Sungguh wahai syaikh, engkau telah meletakkan ketentuan-ketentuan dalam fatwa pembolehan anda atas pemilu demokrasi, dan aku yakin -aku tidaklah mengatakan bahwa hal tersebut mustahil- yaitu bahwasanya tidaklah memungkinkan bagi rakyat Irak maupun yang selain mereka dari orang-orang yang terlibat dalam pemilu demokrasi untuk mereka dapat menerapkan ketentuan-ketentuan yang telah anda sebutkan!! dan seandainya mereka menerapkannya pun walau sebagiannya tentu mereka akan meninggalkan pemilu dikarenakan fakta / hakekat pada pemilu demokrasi tidak sama sekali sesuai dengan fatwa tersebut !!

Lihatlah saja pemilu yang ada pada kami di negara Yaman, padahal keadaan negara Yaman jauh lebih baik dari negara Irak -semoga Allah memberikan jalan keluar bagi mereka- akan tetapi seandainya saja salah seorang menginginkan yakni dari kalangan orang-orang yang ingin turut terlibat pada pemilu berpegang dengan fatwa anda wahai syaikh tentu dia tidak akan mampu sama sekali (menerapkannya).

Anggaplah seandainya saja mungkin bagi dia untuk menerapkan fatwa tersebut, maka tetap saja tidak boleh untuk berpartisipasi di dalamnya dikarenakan telah diketahui bahwa dalam pemilu terdapat banyak penyelisihan yang besar terhadap agama Allah, juga telah diketahui apa yang ada di dalam dakwah ahlus sunnah berupa kewibawaan dan jauhnya dakwah ahlus sunnah dari terjun masuk kepada kebatilan semacam itu.

Wahai syaikh yang mulia peringatan-peringatan yang sangat penting ini aku menginginkan untuk anda memberi perhatian terhadapnya, kalaulah seandainya tidak karena fatwa anda tersebut telah tersebar, tentu aku akan lebih mengutamakan untuk pembicaraan ini terjadi secara pribadi antara aku dan anda.

Walaupun begitu yang demikian ini adalah suatu nasehat dari seorang yang lebih muda usia dan keilmuan kepada seorang yang lebih tua secara usia dan keilmuan [1].

Aku berharap anda untuk rujuk dari fatwa tersebut dikarenakan apa yang terkandung padanya berupa bahaya yang besar bagi dakwah salafiyyah serta melibatkan dakwah pada selain jalurnya yang benar.

Dan tidaklah aku mengatakan bahwasanya anda menginginkan yang demikian itu, tentu tidak !!

Akan tetapi aku memaksudkan bahwa (keburukan-keburukan) yang demikian itu adalah akibat berserikat dalam pemilihan umum.

-selesai-

✍🏼 ditulis oleh Abdul Aziz bin Yahya Al-Buro’i pada bulan Shofar 1430 H / Februari 2009

______________
🐾 catatan kaki :

[1] Yang tampak bahwasanya beliau mengucapkan yang demikian dalam rangka tawaadu’ adapun secara adil dan insof dari sisi keilmuan, hafalan, ta’shil cabang-cabang ilmu serta pengalaman dakwah di berbagai medan maka Asy-Syaikh Abdul Aziz Al-Buro’i adalah lebih unggul dan tidaklah usia yang lebih muda mengharuskan keilmuan yang lebih sedikit.

Penerapan salafush sholih sendiri menunjukkan yang demikian dan bukanlah maknanya bahwa hal tersebut berarti perendahan kepada ulama lainnya.

Sebagaimana yang terjadi di zaman salaf, dimana imam Ahmad bin Hanbal lebih mengedepankan untuk menghadiri majelis seorang pemuda yang kala itu belum genap berusia 20 tahun bernama Muhammad bin Idris, yang masyhur dikenal sebagai imam Asy-Syafi’i rohimahulloh, padahal dalam satu tempat yang sama yaitu di Masjidil Harom, majelis imam besar Mekkah di zaman itu seorang syaikh kibar yang kala itu berusia lebih dari 60 tahun yang masyhur dengan keilmuan dan kesenioritasannya yaitu Sufyan bin ‘Uyainah juga sedang berlangsung.

Maka teman sejawat imam Ahmad semisal Fadl Al-Bazzaaz dan imam al-jarhu wat ta’dil Yahya bin Ma’in pun menegur imam Ahmad dari menghadiri majelis taklimnya Imam Asy-Syafi’i dikarenakan beliau merupakan seorang pemuda sementara di majelis yang lainnya terdapat seorang ulama kibar dari kalangan tabi’ut tabi’in yaitu Sufyan bin Uyainah yang memiliki riwayat langsung dari para imam tabi’in semisal Az-Zuhri dan Amr bin Dinar, maka Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan kepada mereka :

ﺍﺳْﻜُﺖْ ﻓَﺈِﻥ ﻓﺎﺗﻚ ﺣَﺪِﻳﺚ ﺑﻌﻠﻮ ﺗَﺠﺪﻩُ ﺑﻨﺰﻭﻝ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻀﺮﻙ، ﻭَﺇِﻥ ﻓﺎﺗﻚ ﻋﻘﻞ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻔَﺘﻰ ﺃَﺧَﺎﻑ ﺃَﻻ ﺗَﺠﺪﻩُ أبدا ما رأيت أفقه في كتاب الله منه

“Diamlah engkau!! apabila terluputkan darimu suatu riwayat hadits dengan sanad yang tinggi, engkau masih bisa mendapatkannya dengan sanad yang lebih rendah dan yang demikian itu tidaklah merugikanmu, namun apabila terluputkan darimu akal / pemahaman fiqih pemuda ini (yakni : Imam Asy-Syafi’i) aku khawatir engkau tidak akan mendapatinya -di majelis ulama yang lain- untuk selamanya!! aku tidak mendapati seseorang yang lebih faqih terhadap kitab Allah daripada dia.”

Maka dengan sebab kearifan dan kematangan dalam berpikir jadilah Imam Ahmad meraih dua kebaikan sekaligus:

1. fiqih / pemahaman Imam Asy-Syafi’i

2. Sanad yang tinggi pada sebagian riwayat hadits Sufyan bin Uyainah

Sementara teman sejawat beliau semisal Yahya bin Ma’in telah terluputkan darinya kecerdasan akal serta baiknya pemahaman fiqih Imam Asy-Syafi’i, oleh karena itulah kemudian imam Ahmad jauh lebih menonjol dalam bidang fiqih melebihi Yahya bin Ma’in dan yang selain beliau dari para teman-teman sejawat beliau.

[ lihat tartibul madaarik, karya Al-Qodhi Iyaad, tarikh dimasyq, karya Ibnu Asakir, hilyatul awliya dan al-jarhu wat ta’dil ]

🎓 Semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada para ulama salaf sungguh mereka adalah generasi terbaik umat ini.

Wallahu ta’ala a’lam

🖊 Abu Usamah
Darul Hadits Al-Fiyuusy , Yaman

《》《》《》《》

Teks Arab

ﺭﺳﺎﻟﺔ ﻣﻔﺘﻮﺣﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﺠﺎﺑﺮﻱ‏ ﻟﻠﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﻳﺤﻴﻰ ﺍﻟﺒﺮﻋﻲ ﺭﺳﺎﻟﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﻴﺪ

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ ﻭﺑﻌﺪ :

ﻓﻬﺬﻩ ﺭﺳﺎﻟﺔ ﻣﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﻳﺤﻲ ﺍﻟﺒﺮ ﻋﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻤﺒﺎﺭﻙ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﺠﺎﺑﺮﻱ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ ﻓﻘﺪ ﺍﻃﻠﻌﺖ ﻋﻠﻰ ﻓﺘﻮﺍﻛﻢ ﻭﺍﻟﻤﺆﺭﺧﺔ ﺑﻴﻮﻡ ﺍﻻﺛﻨﻴﻦ ٢٩ ﻣﺤﺮﻡ ١٤٣٠ ﺍﻟﻤﻮﺍﻓﻖ ٢٦ ﻳﻨﺎﻳﺮ ﻛﺎﻧﻮﻥ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﺎﻡ ٢٠٠٩ ﺑﺸﺄﻥ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻭﻛﺎﻧﺖ ﺟﻮﺍﺑﺎ ﻋﻠﻰ ﺳﺆﺍﻟﻬﻢ ﻋﻦ ﻣﺪﻯ ﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺔ ﻣﺸﺎﺭﻛﺘﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﻤﺤﻠﻴﺔ ﻭﻫﻢ ﺃﻫﻞ ﺳﻨﺔ ﻭﻛﺎﻥ ﺟﻮﺍﺑﻜﻢ ﺑﻌﺪ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﺑﺄﻥ ﺃﺟﺰﺗﻢ ﻟﻬﻢ ﺍﻟﻤﺸﺎﺭﻛﺔ ﺩﻓﻌﺎ ﻟﻠﻀﺮﺭ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺪ ﻳﺤﺼﻞ ﻟﻬﻢ ﻣﻦ ﺟﺮﺍﺀ ﺍﻟﺒﻌﺪ ﻋﻦ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﻭﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻫﻨﺎﻙ ﻣﻦ ﻳﻤﺜﻠﻬﻢ ﻓﻸﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻥ ﺗﻤﻜﻨﻮﺍ ﺃﻥ ﻳﺮﺷﺤﻮﺍ ﺭﺟﻼ ﺃﻭ ﺭﺟﺎﻻ ﻣﻨﻬﻢ ﻟﻬﺬﻩ ﺍﻟﻤﻨﺎﺻﺐ ﺍﻟﻤﺤﻠﻴﺔ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﺻﺐ ﺍﻟﻌﺎﻣﺔ ﻟﻠﺪﻭﻟﺔ ﻣﻦ ﻫﻮ ﺻﺎﺣﺐ ﺳﻨﺔ ﻭﺣﺎﺫﻕ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻴﺎﺳﺔ ﻭﻳﻐﻠﺐ ﻋﻠﻰ ﻇﻨﻬﻢ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺗﻮﻟﻰ ﺍﻧﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ….

ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﻠﺖ ﻓﻲ ﺧﻼﺻﺔ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ :

“ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺗﻴﻘﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ
ﺧﺎﺻﺔ ﻭﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﺎﻣﺔ ﺃﻧﻬﻢ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺪﺧﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﻓﻲ ﺃﻱ ﺩﻭﻟﺔ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﻬﻀﻢ ﺣﻘﻮﻗﻬﻢ ﻭﻻ ﺗﺴﺘﻮﻓﻰ ﻷﻧﻬﻢ ﻟﻢ ﻳﺮﺷﺤﻮﺍ ﺃﺣﺪﺍ ﻣﻨﻬﻢ ﻧﺮﻯ ﺃﻥ ﻳﺪﺧﻠﻮﺍ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺗﺤﻘﻴﻖ ﻣﺼﺎﻟﺤﻬﻢ ﻭﺍﺳﺘﻴﻔﺎﺋﻬﻢ ﺣﻘﻮﻗﻬﻢ ﻭﺗﻤﻜﻴﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﺧﺬ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺣﻖ ﻟﻬﻢ”.

ﻭﺑﻌﺪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﺮﺽ ﺍﻟﻤﻮﺟﺰ ﻟﻔﺘﻮﺍﻛﻢ ﺳﺪﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻄﺎﻛﻢ ﺃﺣﺐ ﺃﻥ ﺃﻧﺎﻗﺶ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻘﻀﺎﻳﺎ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﺒﻴﻦ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﻻ ﻳﺴﺘﻔﻴﺪ ﻣﻨﻬﺎ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﺴﺘﻔﻴﺪ ﻣﻨﻬﺎ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻣﻦ ﺍﻷﺧﻮﺍﻥ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻭﻳﻠﺤﻖ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﻀﺮﺭ ﺇﺫﺍ ﺷﺎﺭﻛﻮﺍ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﻓﺄﻗﻮﻝ :

1ـ ﺇﻥ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﺗﺨﺎﻟﻒ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻨﺔ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﺇﺫ ﻫﻲ ﻣﺒﻨﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﺎﻭﺍﺓ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ :

{ ﺃﻡ ﺣﺴﺐ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺍﺟﺘﺮﺣﻮﺍ ﺍﻟﺴﻴﺌﺎﺕ ﺃﻥ ﻧﺠﻌﻠﻬﻢ ﻛﺎﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻭﻋﻤﻠﻮﺍ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺎﺕ ﺳﻮﺍﺀ ﻣﺤﻴﺎﻫﻢ ﻭﻣﻤﺎﺗﻬﻢ ﺳﺎﺀ ﻣﺎ ﻳﺤﻜﻤﻮﻥ ‏}

ﻭﻓﻲ ﻧﻈﺎﻡ ﺍﻟﺪﻳﻤﻘﺮﺍﻃﻴﺔ ﺟﻌﻠﻮﻫﻢ ﻳﺴﺘﻮﻭﻥ ﻓﻲ ﺣﻴﺎﺗﻬﻢ ﺇﺫ ﻻ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺻﺎﻟﺤﻬﻢ ﻭﻏﻴﺮ ﺻﺎﻟﺤﻬﻢ ﻓﺎﻟﻌﺎﻟﻢ ﻭﺍﻟﻠﻮﻃﻲ ﻋﻠﻰ ﺣﺪ ﺳﻮﺍﺀ ﻓﺪﺧﻮﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﺗﺜﺒﻴﺘﺎ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﻨﻈﺎﻡ ﺍﻟﻤﺴﺘﻮﺭﺩ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺍﻵﻳﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻔﺮﻳﻖ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻭﻏﻴﺮ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻣﻌﻠﻮﻣﺔ ﻟﺪﻳﻚ.

2 ـ ﺇﻥ ﺇﺣﻼﻝ ﺍﻟﻨﻈﺎﻡ ﺍﻟﺪﻳﻤﻘﺮﺍﻃﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻼﺩ ﻣﺪﻋﻮﻣﺎ ﺑﻤﺸﺎﺭﻛﺔ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﻔﺴﺪﺓ ﺃﻛﺒﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ ﺍﻟﻤﺮﺟﻮﺓ ﺇﺫ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺷﺢ ﻭﺍﻟﻤﻨﺘﺨﺒﻴﻦ ﻟﻪ ﻣﻠﺰﻭﻣﻮﻥ ﺑﺎﺣﺘﺮﺍﻡ ﺍﻟﺮﺃﻱ ﻭﺍﻟﺮﺃﻱ ﺍﻷﺧﺮ، ﻭﺭﺑﻤﺎ ﺍﺳﺘﻌﻄﻔﻮﺍ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲ ﻭﺍﻟﺒﺪﻉ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺃﻧﻢ ﻳﻨﺘﺨﺒﻮﺍ ﺍﻟﻤﺮﺷﺢ ﺍﻟﺴﻠﻔﻲ ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺍﻻﺳﺘﻌﻄﺎﻑ ﺍﻟﺴﻜﻮﺕ ﻋﻦ ﺑﺪﻋﺔ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻉ , ﻭﻣﻌﺼﻴﺔ ﺍﻟﻌﺎﺻﻲ ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﺗﻮﻗﻌﻮﺍ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﻔﻮﺯ ﻓﻠﻴﺖ ﺷﻌﺮﻱ ﻣﺎ ﻫﻲ ﺍﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﺇﺫﺍ ؟!

3ـ ﻟﻘﺪ ﺫﻛﺮﺕ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ ﺍﻟﺪﻧﻴﻮﻳﺔ ﻭﺃﻧﻨﺎ ﺇﺫﺍ ﺧﺸﻴﻨﺎ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻧﺸﺎﺭﻙ ﻓﻲ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ.

ﻓﺄﻗﻮﻝ :

ﺃ- : ﻛﻴﻒ ﻧﺘﻨﺎﺯﻝ ﻋﻦ ﻣﺒﺎﺩﺉ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺃﻣﻮﺭ ﺩﻧﻴﻮﻳﺔ ﻓﻨﺤﺘﺮﻡ ﺍﻟﺮﺃﻱ ﻭﺍﻟﺮﺃﻱ ﺍﻵﺧﺮ ﻭﻧﺴﺎﻭﻱ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﻧﺴﺎﻭﻱ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻭﻧﺴﻜﺖ ﻋﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ ﺃﻗﻞ ﺷﻲﺀ ﻓﻲ ﻓﺘﺮﺓ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ …. ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﻣﺼﻠﺤﺔ ﺩﻧﻴﻮﻳﺔ ﻭﻗﺪ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ

* ﻧﺮﻗﻊ ﺩﻧﻴﺎﻧﺎ ﺑﺘﻤﺰﻳﻖ ﺩﻳﻨﻨﺎ
* ﻓﻼ ﺩﻳﻨﻨﺎ ﻳﺒﻘﻰ ﻭﻻ ﻣﺎﻧﺮﻗﻊ

ﺏ ـ : ﺇﻥ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﺍﻟﻤﺮﺷﺢ ﺇﺫﺍ ﻓﺎﺯ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺳﻴﺌﺎ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺳﻲﺀ ﺇﺫﺍ ﺣﻘﻖ ﻣﺼﻠﺤﺔ ﻫﻲ ﺗﻜﻮﻥ ﻋﺎﻣﺔ ﻓﻲ ﻣﻨﻄﻘﺘﻪ ﻳﻨﺎﻟﻬﺎ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﺑﺪﻭﻥ ﺗﻤﻴﻴﺰ ﻛﻤﺸﺮﻭﻉ ﻣﻴﺎﻩ ﺃﻭ ﻛﻬﺮﺑﺎﺀ ﺃﻭ ﺳﻔﻠﺘﺔ ﺷﻮﺍﺭﻉ ﺃﻭﻣﺪﺍﺭﺱ ﺃﻭ ﻣﺴﺘﺸﻔﻴﺎﺕ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﻳﻨﺎﻟﻬﺎ ﺑﺪﻭﻥ ﺍﺳﺘﺜﻨﺎﺀ ﺑﻞ ﺇﻧﻨﻲ ﺃﻧﺎ ﺍﻟﻤﻘﺎﻃﻊ ﻟﻼﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻬﺘﻢ ﺑﻲ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﺮﺷﺢ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺧﺼﻤﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﺻﻮﺕ ﺿﺪﻩ ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻓﻠﻦ ﻳﻨﺎﻟﻬﺎ ﺧﺼﻮﻣﻪ، ﻓﻤﻦ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺎﻝ ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺸﺎﺭﻳﻊ ﺗﻜﻮﻥ ﺣﻜﺮﺍ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺻﻮﺕ ﻟﻪ ﻓﻘﻂ ؟ …………..

4 – ﺫﻛﺮﺕ ﺃﻧﻬﻢ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻮﻓﻮﺍ ﺣﻘﻮﻗﻬﻢ ﺟﺎﺯ ﻟﻬﻢ ﺃﻥ ﻳﺮﺷﺤﻮﺍ ﺷﺨﺼﺎ ﻣﻊ ﺃﻧﻚ ﺃﺟﺰﺕ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﻓﻘﻂ ﻭﻣﻌﻠﻮﻡ ﺃﻥ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﺗﺮﺗﻔﻊ ﺑﺪﻭﻥ ﺍﺳﺘﻴﻔﺎﺀ ﺍﻟﺤﻘﻮﻕ ﻛﺎﻣﻠﺔ ﺛﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺤﺪﺩ ﺃﻧﻬﻢ ﻭﺟﺪﻭﺍ ﻣﻦ ﺣﻘﻮﻗﻬﻢ ﻣﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﺃﻭ ﺇﺗﻤﺎﻡ ﺍﻻﺳﺘﻴﻔﺎﺀ ﻓﻜﻞ ﻓﺮﻳﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺳﻴﺪﻋﻲ ﺑﻘﺎﺀ ﺃﺷﻴﺎﺀ ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﻓﺴﻴﻈﻠﻮﻥ ﻳﺮﻛﻀﻮﻥ ﻭﺭﺍﺀ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮ ﺣﺪ.

5 ـ ﺇﻥ ﻓﺘﻮﺍﻙ ﻫﺬﻩ ﺇﺑﺎﺣﺔ ﺍﻟﻤﺸﺎﺭﻛﺔ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻮﻓﻮﺍ ﺣﻘﻮﻗﻬﻢ ﺇﻻ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﻣﻌﻠﻮﻡ ﻣﺎﺫﺍ ﻳﺮﻳﺪ ﺍﻟﺸﻴﻌﺔ ﻭﺍﻟﺼﻮﻓﻴﺔ ﻓﻬﻢ ﻳﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺣﻘﻮﻗﻬﻢ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﺷﻌﺎﺋﺮﻫﻢ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ ﻭﺭﺑﻤﺎ ﺭﺃﻭﺍ ﻣﻦ ﺣﻘﻮﻗﻬﻢ ﺿﺮﺏ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺇﻳﻘﺎﻑ ﺍﻣﺘﺪﺍﺩ ﺩﻋﻮﺗﻬﻢ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻣﻊ ﻋﺪﻡ ﻣﻮﺍﻓﻘﺘﻪ ﻟﻠﺼﻮﺍﺏ ﻣﻊ ﻋﺪﻡ ﻣﻮﺍﻓﻘﺘﻪ ﻟﻠﺼﻮﺍﺏ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﻛﻼﻣﺎ ﻣﻄﺎﻃﻴﺎ ﺑﺎﻹﻣﻜﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻔﻴﺪ ﻣﻨﻪ ﻛﻞ ﻣﺒﻄﻞ ﻟﻨﺸﺮ ﺑﺎﻃﻠﻪ.

6 ـ ﺇﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻮﺍﻃﻨﻴﻦ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺤﺘﺮﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺤﺒﻮﺏ ﻟﺪﻳﻬﻢ ﻓﺈﺫﺍ ﺗﺮﺷﺢ ﻭﻗﺎﻡ ﺁﺧﺮ ﺃﻭ ﺁﺧﺮﻭﻥ ﺗﺮﺷﺤﻮﺍ ﺿﺪﻩ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻣﻌﻠﻮﻡ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﺴﻠﻄﻮﻥ ﺿﺪﻩ ﺍﻟﺪﻋﺎﻳﺎﺕ ﻭﺍﻟﺘﺸﻮﻳﻪ ﻟﻪ ﺑﺄﻧﻪ ﻛﺬﺍﺏ ﻭﻣﻜﺎﺭ ﻭﻣﺨﻠﻒ ﻟﻠﻤﻮﺍﻋﻴﺪ ﻭﺳﺨﺮﻭﺍ ﻣﻦ ﻟﺤﻴﺘﻪ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻟﺤﻴﻪ ﻭﺗﻜﻠﻤﻮﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﺨﺎﺻﺔ ﻭﺍﻟﻌﺎﻣﺔ ﻭﺻﺎﺣﻮﺍ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﻮﺍﺭﻉ ﻟﻴﺤﺮﻗﻮﺍ ﺳﻤﻌﺘﻪ ﻭﻳﺴﻘﻄﻮﺍ ﻫﻴﺒﺘﻪ ﻭﻳﺼﺒﺢ ﻣﺼﺎﺭﻋﺎ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺮﻛﺰ ﺻﺎﺑﺮﺍ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺑﻪ ﻣﻦ ﺳﺨﺮﻳﺔ ﻭﻳﺮﻯ ﺃﻧﻪ ﻳﻬﻮﻥ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﻨﺼﺐ ﻛﻞ ﺇﻫﺎﻧﺔ ﻓﻬﻞ ﻳﻠﻴﻖ ﺃﻥ ﻳﺪﻓﻊ ﺑﺄﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺪﺭﻙ ﺍﻷﺳﻔﻞ.

7 ـ ﺇﻥ ﺃﺗﺒﺎﻉ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺮﺷﺢ ﻭﻫﻢ ﺳﻠﻔﻴﻮﻥ ﻳﻮﻇﻔﻮﻥ ﺧﻄﺒﻬﻢ ﻭﺩﺭﻭﺳﻬﻢ ﻭﻣﺤﺎﺿﺮﺍﺗﻬﻢ ﻭﻣﺠﺎﻟﺴﻬﻢ ﻭﺗﺤﺮﻛﺎﺗﻬﻢ ﻛﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﺎﻳﺔ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺇﺿﺎﻓﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻠﺼﻘﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺪﺭﺍﻥ ﻣﻦ ﻋﺒﺎﺭﺍﺕ ﻣﻜﺘﻮﺑﺔ ﻭﺻﻮﺭ ﻟﺬﻟﻚ ﺍﻟﻤﺮﺷﺢ ﻭﻋﺒﺎﺭﺍﺕ ﻣﻦ ﻗﺒﻠﻪ ﺗﺪﻋﻮ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻻﻧﺘﺨﺎﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺃﺷﻴﺎﺀ ﻧﺸﺎﻫﺪﻫﺎ ﻭﻳﺸﺎﻫﺪﻫﺎ ﻏﻴﺮﻧﺎ ﻣﻤﺎ ﻳﺨﺮﺝ ﺩﻋﻮﺓ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺩﻋﻮﺗﻬﻢ ﺍﻟﻮﻗﻮﺭﺓ ﺇﻟﻰ ﻣﻬﺎﺗﺮﺍﺕ ﺗﺴﻘﻂ ﻫﻴﺒﺔ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺍﻟﺴﻠﻔﻴﺔ ﻭﺗﻌﻄﻞ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻣﻨﻬﺎ.

8 ـ ﻟﻘﺪ ﻋﻠﻤﻨﺎ ﺃﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻮ ﻓﻌﻠﻮﺍ ﺫﻟﻚ ﻟﻜﺮﻫﻬﻢ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻛﻤﺎ ﻛﺮﻫﻮﺍ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻷﻧﻬﻢ ﻳﺮﻭﻥ ﺃﻧﻬﻢ ﻳﺼﺎﺭﻋﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺳﻠﻄﺔ ﻭﻛﻔﻰ.

9 ـ ﻫﺐ ﺃﻧﻨﺎ ﺳﻠّﻤﻨﺎ ﺫﻟﻚ ﻛﻠﻪ ﻭﻟﺴﻨﺎ ﻣﺴﻠِّﻤﻴﻦ ﻓﺈﻧﻨﺎ ﻟﻮ ﺭﺷﺤﻨﺎ ﺷﺨﺼﺎ ﻓﻲ ﻣﺠﻠﺲ ﺍﻟﻨﻮﺍﺏ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﺃﻣﺎﻡ ﻣﺌﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺮﺷﺤﻴﻦ ﺛﻢ ﺻﻮﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺮﻟﻤﺎﻥ ﻓﺄﻳﻦ ﺏ ﺻﻮﺗﻪ ﺃﻣﺎﻡ ﻋﺸﺮﺍﺕ ﺑﻞ ﻣﺌﺎﺕ ﻣﻦ
ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﻋﻠﻤﺎﻧﻲ ﻭﺷﻴﻌﻲ ﻭﺻﻮﻓﻲ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﻮﺍﺋﻒ ﻭﺍﻟﺤﻜﻢ ﻟﻸﻏﻠﺒﻴﺔ، ﺇﻥ ﻣﻄﺎﻟﺒﻪ ﻛﻠﻬﺎ ﺳﺎﻗﻄﺔ ﻷﻧﻪ ﻭﺣﻴﺪ ﻓﻬﻞ ﺗﻈﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻘﻀﻴﺔ ﻭﻇﻴﻔﺔ ﻣﻦ ﺟﻤﻠﺔ ﺍﻟﻮﻇﺎﺋﻒ ﻛﺎﻟﺘﺪﺭﻳﺲ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﺑﺤﻴﺚ ﻳﺴﺘﻄﻴﻊ ﺍﻟﻌﺎﻣﻞ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﻘﻞ ﺃﻥ ﻳﺤﻘﻖ ﻣﺼﺎﻟﺢ ﻗﻠﺖ ﺃﻭ ﻛﺜﺮﺕ ؟ ﻻ !!

ﺇﻥ ﺍﻷﻣﺮ ﺗﺼﻮﻳﺖ ﻭﺍﻟﺤﻜﻢ ﻟﻸﻏﻠﺒﻴﺔ ﻓﻤﺎﺫﺍ ﻳﻔﻌﻞ ﺑﺎاﻧﻔﺮﺍﺩﻩ.

10 ـ ﻭﺑﻌﺪ ﻫﺬﺍ ﻛﻠﻪ ﻫﺐ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺮﺷﺢ ﺍﻟﺴﻠﻔﻲ ﻓﺸﻞ ﻭﻓﺎﺯ ﻋﻠﻴﻪ ﻏﻴﺮﻩ ﻛﻢ ﺗﺮﻯ ﺳﻴﻜﻮﻥ ﻟﻪ ﻭﻟﻤﻦ ﺍﻧﺘﺨﺒﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻘﺪ ﻓﻲ ﻗﻠﻮﺏ ﺍﻵﺧﺮﻳﻦ ﻭﻛﻢ ﺳﺘﺘﻌﻄﻞ ﻣﻦ ﻣﺼﺎﻟﺢ ﻭﻛﻢ ﺳﺘﺤﺪﺙ ﻣﻦ ﻣﻔﺎﺳﺪ ﻭﻗﺪ ﻏﺮﺳﻮﺍ ﻷﻧﻔﺴﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻘﺪ ﻓﻲ ﻗﻠﻮﺏ ﺍﻵﺧﺮﻳﻦ ﻣﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﻋﻠﻴﻢ ﺇﺿﺎﻓﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﺴﻴﻦ ﺍﻟﻔﺎﺋﺰﻳﻦ ﺳﻴﺒﺬﻟﻮﻥ ﻗﺼﺎﺭﻯ ﺟﻬﺪﻫﻢ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻘﻮﻡ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻗﺎﺋﻤﺔ ﺑﺤﻴﺚ ﻳﻜﻮﻧﻮﻥ ﻋﺎﺟﺰﻳﻦ ﻋﻦ ﺍﻟﻔﻮﺯ ﻟﻮ ﺗﺮﺷﺤﻮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺒﻞ.

11 ـ ﻟﻘﺪ ﻭﺿﻌﺖ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻤﺒﺎﺭﻙ ﺿﻮﺍﺑﻂ ﻟﺘﺠﻮﻳﺰﻙ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﻭﺃﻧﺎ ﻣﺘﺄﻛﺪ ـ ﻭﻻ ﺃﻗﻮﻝ ﺃﺳﺘﺒﻌﺪ ـ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﺈﻣﻜﺎﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻭﻻ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻣﻤﻦ ﻳﺨﻮﺽ ﻓﻲ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﺃﻥ ﻳﻄﺒﻘﻬﺎ ﻭﻟﻮ ﻃﺒﻘﻬﺎ ﺑﺤﺬﺍﻓﻴﺮﻫﺎ ﻟﺘﺮﻙ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﻓﻮﺍﻗﻊ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﻻ ﻳﺘﻄﺎﺑﻖ ﻣﻊ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﻗﻄﻌﺎ ﻭﻫﺎ ﻫﻲ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﻟﺪﻳﻨﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻤﻦ ﻭﻭﺿﻊ ﺍﻟﻴﻤﻦ ﺃﺣﺴﻦ ﺣﺎﻻ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻔﺮﺝ ﻋﻨﻬﻢ ﻭﻟﻜﻦ ﻟﻮ ﺃﺭﺍﺩ ﺃﺣﺪ ﻣﻤﻦ ﻳﺮﻳﺪ ﺍﻟﺨﻮﺽ ﻓﻲ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﺃﻥ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﻔﺘﻮﺍﻙ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺎ ﻗﺪﺭ ﻗﻄﻌﺎ ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻟﻮ ﻓﺮﺿﻨﺎ ﺃﻧﻪ ﺑﺈﻣﻜﺎﻥ ﺃﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﻄﺒﻖ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺨﻮﺽ ﻓﻴﻬﺎ ﻟﻤﺎ ﻋﻠﻢ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻔﺎﺕ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮﺓ ﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻟﻤﺎ ﻋﻠﻢ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺩﻋﻮﺓ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺰﺍﻫﺔ ﻭﺍﻟﺒﻌﺪ ﻋﻦ ﺍﻟﺘﻮﻏﻞ ﻓﻲ ﺑﺎﻃﻞ ﻛﻬﺬﺍ.

ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻔﺎﺳﺪ ﻛﻠﻬﺎ ﺃﻭ ﺟﻠﻬﺎ ﺗﻨﺘﻬﻲ ﺑﺄﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻮ ﺗﺮﻛﻮﺍ ﺍﻟﺘﺮﺷﻴﺢ ﻭﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺏ ﻣﻦ ﺃﺳﺎﺳﻪ ﻭﺑﻌﺪ ﻓﺈﻥ ﺣﺼﻞ ﺑﻼﺀ ﻟﺰﻣﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﺼﺒﺮ ﻓﻸﻥ ﻧﺼﺒﺮ ﻭﻧﺤﻦ ﻋﻠﻰ ﺣﻖ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻧﺼﺒﺮ ﻭﻧﺘﺠﺮﻉ ﺍﻟﻐﺼﺺ ﺑﻌﺪ ﺗﻤﺮﻏﻨﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺎﻃﻞ.

ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﻫﺬﻩ ﺗﻨﺒﻴﻬﺎﺕ ﻫﺎﻣﺔ ﺃﺣﺒﺒﺖ ﻟﻔﺖ ﺍﻧﺘﺒﺎﻫﻚ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻭﻟﻮﻻ ﺃﻥ ﻓﺘﻮﺍﻙ ﻗﺪ ﺍﻧﺘﺸﺮﺕ ﻵﺛﺮﺕ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺑﻴﻨﻲ ﻭﺑﻴﻨﻚ ﻭﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺣﺎﻝ ﻓﻬﻲ ﻧﺼﻴﺤﺔ ﻣﻦ ﺻﻐﻴﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻦ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺇﻟﻰ ﻛﺒﻴﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻦ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ.

ﺃﺭﺟﻮ ﺃﻥ ﺗﺘﺮﺍﺟﻌﻮﺍ ﻋﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻄﺮ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺍﻟﺴﻠﻔﻴﺔ ﻭﺍﻟﺰﺝ ﺑﻬﺎ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﺎﺭﻫﺎ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻭﻻ ﺃﻗﻮﻝ ﺃﻧﻚ ﺗﺮﻳﺪ ﺫﻟﻚ ﺣﺎﺷﺎﻙ ﻭﻟﻜﻦ ﺃﻋﻨﻲ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﻋﺎﻗﺒﺔ ﺍﻟﻤﺸﺎﺭﻛﺔ ﻓﻲ ﺍﻻﻧﺘﺨﺎﺑﺎﺕ ﺃﺳﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻮﻓﻘﻨﻲ ﻭﺇﻳﺎﻛﻢ ﻟﻤﺎ ﻳﺤﺐ ﻭﻳﺮﺿﻰ

ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ

ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﻳﺤﻴﻰ ﺍﻟﺒﺮﻋﻲ
كتب في شهر صفر عام 1430

Tinggalkan Balasan