Mengapa Harus Salafi Dan Ciri Salaf Sejati

0
372

MENGAPA HARUS SALAFI ?
.
Oleh
Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah
.
Pertanyaan :
Kenapa harus menamakan diri dengan salafiyah? Apakah ia sebuah dakwah yang menyeru kepada partai, kelompok atau madzhab tertentu…?
.
Jawab :
Sesungguhnya kata “As-Salaf” sudah lazim dalam terminologi bahasa Arab maupun syariat Islam. Adapun yang menjadi bahasan kita kali ini adalah aspek syari’atnya. Dalam riwayat yang shahih, ketika menjelang wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sayidah Fatimah radhiyallahu ‘anha :
.
فَاتَّقِى اللهَ وَاصْبِرِيْ فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ
.
“Bertakwalah kamu dan bersabarlah karena sesungguhnya sebaik-baik Salaf bagi kamu adalah aku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
.
Dalam kenyataannya di kalangan para ulama sering menggunakan istilah “As-Salaf”. Satu contoh penggunaan “As-Salaf” yang biasa mereka pakai dalam bentuk syair untuk menumpas bid’ah :
.
“Dan setiap kebaikan itu terdapat dalam mengikuti orang-orang Salaf”.
.
“Dan setiap kejelekan itu terdapat dalam perkara baru yang diada-adakan orang Khalaf”.
.
Sesungguhnya Dakwah Salafiyah benar-benar akan menyatukan umat. Siapa saja yang memisahkan antara Al-Kitab dan As-Sunnah dengan As-Salafus Shalih bukanlah seorang yang benar selama-lamanya.
.
Demikian juga kita harus memiliki nama yang membedakan antara yang haq dan batil di jaman ini. Belum cukup kalau kita hanya mengucapkan :”Saya seorang muslim (saja) atau bermadzhab Islam. Sebab semua firqah juga mengaku demikian baik Syiah, Ibadhiyyah (salah satu firqah dalam Khawarij), Ahmadiyyah dan yang lain.
.
Kalau kita berkata : Saya seorang muslim yang memegangi Al-Kitab dan As-Sunnah. ini juga belum memadai. Karena firqah-firqah sesat juga mengklaim ittiba’ terhadap keduanya. Apa yang membedakan kita dengan mereka ..?
.
Tidak syak lagi, nama yang jelas, terang dan membedakan dari kelompok sempalan adalah ungkapan : “Saya seorang muslim yang konsisten dengan Al-Kitab dan As-Sunnah serta bermanhaj Salaf”, atau disingkat “Saya Salafi”.

.CIRI-CIRI SALAFI SEJATI
.
1. Menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup dalam semua bidang kehidupan.
.
2. Memahami agama ini sesuai dengan pemahaman para sahabat terutama dalam masalah aqidah.
.
3. Tidak menjadikan akal sebagai landasan utama dalam beraqidah.
.
4. Senantiasa mengutamakan dakwah kepada tauhid ibadah. (Bukan memprioritaskan masalah akhlak, fiqih ataupun masalah keharmonisan rumah tangga. Namun sayang banyak yang mengaku da’i salafi di zaman ini yang tidak lagi mau kembali kepada Dakwah Salafiyah yang murni ini. Mereka telah tertular oleh manhaj/metode dakwah kelompok harakah atau ahli bid’ah yang lari dari dakwah para nabi. Na’udzu billahi mindzalik)
.
5. Tidak berdebat kusir dengan ahli bid’ah serta tidak bermajlis dan tidak menimba ilmu dari mereka.
.
6. Berantusias untuk menjaga persatuan kaum muslimin serta menyatukan mereka diatas Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman salafush shalih.
.
7. Menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bidang ibadah, akhlak dan dalam segala bidang kehidupan.
.
8. Tidak fanatik kecuali hanya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
.
9. Memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran (mengingkari jalan-jalan kebid’ahan dan kelompok-kelompok sesat).
.
10. Membantah setiap yang menyelisihi syariat baik dia seorang muslim atau non muslim.
.
11. Membedakan antara ketergelinciran ulama ahlussunnah dengan kesesatan para dai-dai yang menyeru kepada bid’ah.
.
12. Selalu taat kepada pemimpin kaum muslimin selama dalam kebaikan, berdoa untuk mereka serta menasehati mereka dengan cara yang baik dan tidak memberontak atau mencaci-maki mereka.
.
13. Berdakwah dengan cara hikmah. (Diantara makna hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Oleh karena itu dakwah tidak selalu dengan lemah lembut tapi terkadang harus dengan sikap tegas dan keras, semuanya disesuaikan dengan keadaan. (Lihat Ad-Dakwah ilallahu oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Min ma’alimil manhaj an-nabawi fid dakwah ilallahu oleh Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr).
.
14. Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama yang bersumberkan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pemahaman salaf, sekaligus meyakini bahwa umat ini tidak akan menjadi jaya melainkan dengan ilmu tersebut.
.
15. Bersemangat dalam menjalankan Tashfiyah (membersihkan Islam dari kotoran-kotoran yang menempel kepadanya seperti syirik, bid’ah, hadits-hadits lemah dan lain sebagainya) dan Tarbiyah (mendidik umat diatas Islam yang murni terutama dalam bidang aqidah).
.
✔️ Kesimpulan:
.
1. Wajib mengikuti pemahaman salafush shaleh dalam beragama.

2. Disyariatkan/dibolehkan menamakan diri Salafi jika memang memiliki ciri-ciri diatas.

3. Salafiyah bukan kelompok seperti Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir atau yang lainnya yang menyimpang dari jalan para sahabat. Salafiyah hanyalah metode yang berlandaskan kepada pemahaman salafush sholeh dari kalangan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

4. Manhaj/metode salaf adalah benar, adapun individunya bisa salah bisa benar (tidak maksum).

5. Istilah Salafi bukan hal baru dalam sejarah Islam dan kamus para ulama ahlussunnah wal jama’ah.

6. Kita harus bisa membedakan mana salafi sejati dengan salafi imitasi lewat ciri-ciri diatas.
.

Sumber : https://m.facebook.com/abdurrahmanthoyyib/posts/773367886159023:0

https://almanhaj.or.id/909-mengapa-harus-salafi.html
.
@theghuroba

Tinggalkan Balasan