HUKUM MENYEBUT SAYYIDINA UNTUK NABI

0
92

Pendapat yang kuat adalah diperbolehkan mengucapkan sayyidina untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali dalam lafadz-lafadz yang ma’tsur dari Rasulullah seperti dalam sholawat ibrohimiyah, dalam adzan dan sebagainya

Dalam mausu’ah fiqhiyah disebutkan bahwa kaum muslimin berijma akan bolehnya menyebut untuk Rasulullah ﷺ

Namun memanggil Rasulullah dengan sayyidina bukanlah kebiasaan para shahabat . Yang biasa para shahabat lakukan adalah hanya dengan sebutan Rasulullah, karena ucapan Rasulullah lebih tinggi dari sayyid. Setiap rosul pasti sayyid tapi tidak setiap sayyid itu rasul.

Adapun untuk lafadz-lafadz yang ma’tsur pendapat yang kuat adalah tidak diperbolehkan . Karena para shahabat tabi’in tidak melakukannya.

Imam As Sakhowi dalam kitab alqoul albadie’ menukil jawaban Alhafidz ibnu Hajar al asqolani ketika beliau ditanya bolehkah menambahkan sayyid dalam sholawat?

Beliau menjawab:

‎نعم اتِّباعُ الألفاظ المأثورة أرجح ، ولا يقال : لعلَّه ترك ذلك تواضعاً منه صلى الله عليه وسلم كما لم يكن يقول عند ذكره : صلى الله عليه وسلم ، وأمّتهُ مندوبة إلى أن تقول ذلك كلما ذُكر ؛ لأنَّا نقول : لو كان ذلك راجحاً لجاء عن الصحابة ، ثم عن التابعين ، ولم نقِفْ في شيءٍ من الآثار عن أحدٍ من الصحابة ولا التابعين أنه قال ذلك ، مع كثرة ما ورد عنهم من ذلك ، وهذا الإمامُ الشافعي أعلى الله درجته وهو من أكثر الناس تعظيماً للنبي صلى الله عليه وسلم ، قال في خطبة كتابه الذي هو عمدة أهل مذهبه : ” اللهم صلِّ على محمد ، إلى آخر كلامه، وقد عقد القاضي عياض بابا في صفة الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم في كتاب “الشفاء” ، ونقل فيه آثارا مرفوعة عن جماعة من الصحابة والتابعين ، ليس في شيء منها عن أحد من الصحابة وغيرهم لفظ : ” سيدنا ” ، والغرض أن كل من ذكر المسألة من الفقهاء قاطبة ، لم يقع في كلام أحد منهم : ” سيدنا ” ، ولو كانت هذه الزيادة مند�

Iya, mengikuti lafadz-lafadz yang ma’tsur (tanpa penyebutan sayyidina) itu lebih rojih. Dan tidak bisa dikatakan: Mungkin dahulu Nabi tidak melakukannya karena ketawadlu’an beliau. Sedangkan umatnya dianjurkan mengucapkan itu. Kita menjawab: Kami merojihkan tidak karena bila itu baik tentu para shahabat dan tabi’in melakukannya. Namun kami tidak pernah mendapatkan satupun atsar dari mereka padahal amat banyak.

Ini dia imam Asy Syafi’i orang yang sangat mengagungkan Nabi ﷺ berkata dalam khutbah kitabnya yang merupakan sandaran madzhab: Allahumma sholli ‘alaa muhammad..sampai akhirnya.

Al Qadli iyadl membuat pembahasan khusus tentang sholawat dalam kitabnya asy syifaa dan menyebutkan atsar yang banyak dari para shahabat dan tidak ada satupun penyebutan sayyidina.

Kalaulah itu disunnahkan tentu tidak akan tersembunyi atas mereka semuanya. Dan kebaikan itu adanya pada ittiba’.”

Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadz Badru Salam, Lc hafizhahullah

Sumber: www.salamdakwah.com

 

 

Tinggalkan Balasan