Penuntut ‘Ilmu ? Perhatikan Tahapan dan Tidak Boleh Futur

0
180

TAHAPAN DALAM MENUNTUT ILMU
.
[1]- MEMPERHATIKAN USHUUL (PONDASI-PONDASI ‘ILMIYYAH)
.
Syaikh Bakr Abu Zaid -rahimahullaah- berkata:
.
– Barangsiapa yang tidak menguasai Ushuul (pondasi-pondasi); maka dia tidak akan sampai (tujuan).
.
– Barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu sekaligus; maka akan hilang sekaligus pula.
.
– Dan juga dikatakan: berdesakkannya ilmu pada pendengaran; akan menyesatkan pemahaman.
.
Oleh karena itu: maka harus dimulai dengan “Ta’shiil” (penguatan pondasi) dan “Ta’siis” (penguatan landasan) untuk setiap cabang ilmu yang ingin engkau cari; dengan cara penguasaan dasar ilmu tersebut dan ringkasannya melalui seorang guru yang menguasai (ilmu tersebut), BUKAN HANYA DENGAN CARA AUTODIDAK.
.
Seorang penuntut ilmu juga harus menuntut ilmu secara bertahap. Allah Ta’ala berfirman:
.
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلا
.
“Dan Al-Qur’an (Kami turunkan) dengan berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia perlahan-lahan, dan Kami menurunkannya secara bertahap.” (QS. Al-Israa’: 106)
.
Allah juga berfirman:
.
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا
.
“Dan orang-orang kafir berkata: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu dengannya, dan Kami membacakannya secara tartiil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).” (QS. Al-Furqaan: 32).”
.
[“Hilyah Thaalibil ‘Ilmi (hlm. 25-26)]
.
.
[2]- YANG DIMAKSUD DENGAN USHUUL
.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- berkata:
.
“Cara menuntut ilmu ini juga penting; agar seorang penuntut ilmu membangun pembelajarannya di atas Ushuul (pondasi-pondasi); sehingga tidak serampangan dan acak-acakan.
.
Dikatakan: “Barangsiapa yang tidak menguasai Ushuul (pondasi-pondasi ‘ilmiyyah); maka dia tidak akan sampai (tujuan)”…Karena Ushuul adalah ilmu, dan masalah-masalah adalah cabang. Layaknya pokok dari sebuah pohon dan dahan-dahannya, jika dahan-dahan tidak berada pada pokok yang bagus; maka akan layu dan mati.

Apakah yang dimaksud dengan Ushuul:
.
(1)- Apakah yang dimaksud adalah dalil-dalil yang shahih?
.
(2)- Ataukah kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip?
.
(3)- Atau kedua-duanya?
.
Yang dimaksud (di sini) adalah yang kedua. Engkau membangun di atas Ushuul yang terambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan engkau membangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip yang didapatkan dengan cara tatabbu’ dan istiqraa’ (meneliti) dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah; yang nantinya hukum-hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah kembali kepada (Ushuul) tersebut. Dan ini termasuk hal yang paling penting bagi seorang penuntut ilmu.”
.
[“Syarh Kitaab Hilyah Thaalibil ‘Ilmi” (hlm. 51- cet. Daarul ‘Aqiidah)]
.
.
[3]- KOKOH DALAM ILMU
.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- juga berkata:
.
“At-Tsabaat (kokoh); maknanya adalah terus bersabar, tidak bosan, tidak mengambil sedikit dari sebuah kitab, atau sedikit dari sebuah cabang ilmu; kemudian ditinggalkan. Karena inilah yang akan membahayakan penuntut ilmu, dan akan menghabiskan waktunya dengan sia-sia tanpa faedah; jika dia tidak kokoh dalam sesuatu…Orang semacam ini biasanya tidak mendapatkan ilmu, dan kalaupun dia mendapatkan ilmu; maka hanya ilmu tentang beberapa permasalahan, bukan Ushuul (pondasi-pondasi) dari permasalahan-permasalahan tersebut….akan tetapi yang dibutuhkan adalah “Ta’shiil” (penguatan pondasi-pondasi), dan ilmu yang mendalam (kuat).”
.
[“Syarh Kitaab Hilyah Thaalibil ‘Ilmi” (hlm. 49-50- cet. Daarul ‘Aqiidah)]

[4]- KOKOH DALAM GURU
.
Syaikh Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- juga berkata:
.
“Dan engkau juga harus kokoh dalam masalah guru yang engkau ambil ilmunya. JANGAN ENGKAU MENCARI YANG SESUAI SELERA: SETIAP PEKAN BELAJAR PADA SEORANG GURU (YANG BERBEDA), (ATAU) SETIAP BULAN BELAJAR PADA SEORANG GURU (YANG BERBEDA). MANTAPKANLAH TERLEBIH DAHULU: SIAPA GURU YANG AKAN ENGKAU AMBIL ILMUNYA, JIKA SUDAH MANTAP; MAKA KOKOHLAH (DENGAN GURU TERSEBUT).
.
Barangsiapa yang kokoh; maka dia akan terus berkembang, dan barangsiapa yang tidak kokoh; maka dia tidak akan berkembang, dan tidak akan mendapatkan apa pun.”
.
[“Syarh Kitaab Hilyah Thaalibil ‘Ilmi” (hlm. 50- cet. Daarul ‘Aqiidah)]
.
-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-
.

PENUNTUT ILMU TIDAK BOLEH FUTUR
.

Seorang penuntut ilmu tidak boleh futur dalam usahanya untuk memperoleh dan mengamalkan ilmu. ❝ FUTUR ❞ yaitu rasa malas, enggan, dan lamban dimana sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh, dan penuh semangat.
.
Futur adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i, dan penuntut ilmu. Sehingga seseorang menjadi lemah dan malas, bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan aktivitas kebaikan.
.
Orang yang terkena penyakit futur ini berada pada tiga golongan, yaitu:
.
1) – Golongan yang berhenti sama sekali dari aktivitasnya dengan sebab futur, dan golongan ini banyak.
2) – Golongan yang terus dalam kemalasan dan patah semangat, namun tidak sampai berhenti sama sekali dari aktivitasnya, dan golongan ini lebih banyak lagi.
3) – Golongan yang kembali pada keadaan semula, dan golongan ini sangat sedikit.
.
[Lihat al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal ‘Ilaaj hal. 22]
.
Futur memiliki banyak dan bermacam-macam sebab. Apabila seorang muslim selamat dari sebagiannya, maka sedikit sekali kemungkinan selamat dari yang lainnya. Sebab-sebab ini sebagiannya ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus.
.
Di antara SEBAB-SEBAB itu adalah:
.
1. Hilangnya keikhlasan.
2. Lemahnya ilmu syar’i.
3. Ketergantungan hati kepada dunia dan melupakan.
4. Fitnah (cobaan) berupa isteri dan anak.
5. Hidup di tengah masyarakat yang rusak.
6. Berteman dengan orang-orang yang memiliki keinginan yang lemah dan cita-cita duniawi.
7. Melakukan dosa dan maksiat serta memakan yang haram.
8. Tidak mempunyai tujuan yang jelas (baik dalam menuntut ilmu maupun berdakwah).
9. Lemahnya iman.
10. Menyendiri (tidak mau berjama’ah).
11. Lemahnya pendidikan.
.
[Lihat al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal ‘Ilaaj hal. 43-71]
.
Futur adalah penyakit yang sangat ganas, namun tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Dia pun menurunkan obatnya. Akan mengetahuinya orang-orang yang mau mengetahuinya, dan tidak akan mengetahuinya orang-orang yang enggan mengetahuinya.
.
Di antara OBAT PENYAKIT FUTUR adalah:
.
1). Memperbaharui keimanan. Yaitu dengan mentauhidkan Allah dan memohon kepada-Nya agar ditambah keimanan, serta memper-banyak ibadah, menjaga shalat wajib yang lima waktu dengan berjama’ah, mengerjakan shalat-shalat sunnah rawatib, melakukan shalat Tahajjud dan Witir. Begitu juga dengan bersedekah, silaturahmi, birrul walidain, dan selainnya dari amal-amal ketaatan.
2). Merasa selalu diawasi Allah Ta’ala dan banyak berdzikir kepada-Nya.
3). Ikhlas dan takwa.
4). Mensucikan hati (dari kotoran syirik, bid’ah dan maksiyat).
5). Menuntut ilmu, tekun menghadiri pelajaran, majelis taklim, muhadharah ilmiyyah, dan daurah-daurah syar’iyyah.
6). Mengatur waktu dan mengintrospeksi diri.
7). Mencari teman yang baik (shalih).
8). Memperbanyak mengingat kematian dan takut terhadap su-ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek).
9). Sabar dan belajar untuk sabar.
10). Berdo’a dan memohon pertologan Allah.
.
[Ibid (hal. 88-119) dengan diringkas.]
.

Oleh :
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah

Sumber :
https://almanhaj.or.id/10913-penuntut-ilmu-tidak-boleh-futur-putus-asa-dan-bosan-dalam-menuntut-ilmu.html
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=420013618339520&id=100009926563522

@Theghuroba

Tinggalkan Balasan