Seandainya Ini Ramadhanku Yang Terakhir…

0
198

Kematian, siapa yang tahu pasti waktu kedatangannya? Tahun lalu, sahabat kita si fulan masih dapat menemani kita sahur dan berbuka puasa, berangkat ke masjid bersama-sama dan shalat di samping kita. Namun tahun ini dia sudah tidak dapat lagi menemani kita. Fulan yang beberapa waktu silam, masih sempat berjumpa dan mengobrol bersama kita, namun kini tengah sendiri di tengah gelapnya himpitan kuburan. Fulan yang kerja berangkat pagi, pulang-pulang hanya tinggal nama. Ini adalah bentuk nyata yang Allah hadirkan setiap hari terjadi di sekitar kita. Siapa yang bisa menjamin kita masih dapat menghirup udara esok hari? Siapa yang dapat menjamin kita dapat tersenyum esok hari? Siapa yang bisa menjamin kita masih dapat berjumpa dengan Ramadhan yang sebentar lagi akan datang?

Kematian, adalah sesuatu yang pasti menimpa setiap insan, maka kita sekarang sejatinya hanya sedang menunggu giliran kita di panggil. Dan jika waktu itu telah tiba, tak dapat sedikitpun kita mengundurkannya, ataupun kita ingin meminta waktu kita untuk di majukan, meskipun hanya sesaat.

Muslim dan muslimah yang serius dengan keimanannya, yang serius dengan keislamannya, yang serius dengan akhiratnya, serius untuk mengejar Surga Allah, serius untuk mempertahankan dirinya agar tidak sampai masuk ke dalam neraka Allah, pasti dia punya keinginan yang sangat hebat untuk bertemu dengan Ramadhan. Karena Ramadhan adalah bulan yang sarat dengan rahmat, bulan yang sarat dengan keutamaan-keutamaan hebat, bulan yang sarat dengan pelipat gandaan, bulan yang sarat dengan pengampunan, bulan yang sarat dengan pembebasan dari neraka.

Wahai muslim dan muslimah, kalau benar cita-cita kita terbesar adalah ke Surga Allah, kalau benar cita-cita terbesar kita untuk meraih Ridho Allah, maka kita pasti mengidam-ngidamkan Ramadhan, dengan pengidam-ngidaman yang luar biasa. Karena disana tempat yang dimudahkan Allah, yang di spesialkan Allah untuk bisa menggapai dan berlari cepat menggapai apa yang kita inginkan.

Tapi kalau keseriusan di hati kita mencari Surga memang melemah, maka Ramadhan akan datang dan berlalu begitu saja tanpa makna. Orang-orang shaleh yang mengerti keutamaan ramadhan, berdoa jauh-jauh hari sebelum ramadhan tiba agar Allah berikan kesempatan kepada dia untuk bertemu Ramadhan, Karena tau nya mereka akan keutamaan hebat bulan yang suci itu.

Tak ada yang meragukan bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, tapi kita perlu tahu, bukan semua orang yang bertemu Ramadhan, mendapatkan berkah Ramadhan. Tidak semua orang.

Boleh jadi ada orang yang puasa, namun yang dia dapatkan dari puasanya hanyalah lapar dan haus. Nabi dalam hadist nya berbicara tentang orang yang bertemu dengan bulan yang berkah, namun tak dapat berkah. Nabi berbicara tentang orang yang berpuasa, namun tak dapatkan pahala berpuasa. Nabi berbicara tentang orang yang berlapar-lapar, berhaus-haus dan berdahaga untuk mencari Ridho Allah, namun Ridho Allah tak dia dapatkan, dia hanya dapat lapar dan hausnya itu saja. Ini peringatan keras dari nabi tercinta untuk kita, jika Allah sampaikan kepada kita Bulan Ramadhan, janganlah kita menjadi orang yang seperti itu. Jadilah orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dan puasanya di bulan Ramadhan itu menyampaikan kita pada target utama, yaitu menjadi orang-orang yang bertakwa. Disaat kita benar-benar menjadi orang-orang bertakwa sehingga pintu surga terbuka untuk kita. Karena semua yang Allah ceritakan tentang surga itu, Allah katakan untuk orang-orang yang bertakwa.

Lalu pertanyaannya, Bertakwakah kita? Bertakwakah kita wahai diri? Bertakwakah kita wahai jiwa?

Tanyakan pada diri sudahkah  kita menjadi orang yang bertakwa dan jawablah masing-masing dalam hati kita. Jawaban dari dalam diri kita adalah sebuah kejujuran. Seandainya jawabannya sudah berusaha sekuat tenaga, sudah berusaha maksimal, namun masih ada segelintir kecil maksiat yang belum bisa di hilangkan, maka kita termasuk beruntung. Karena siapa yang sanggup untuk membebaskan dirinya dari seluruh dosa-dosa termasuk yang kecil-kecilnya dizaman serba fitnah sekarang ini ?

Namun kalau jawabannya masih banyak dosa besar yang kita tidak bertaubat kepada Allah, dan belum bertaubat kepada Allah, kita diambang marabahaya. Karena boleh jadi ajal kita datang disaat kita masih bertungkus lumus dengan maksiat itu. Dan yang akan rugi kalau kematian datang dan kita masih berkelanjutan diatas maksiat itu adalah diri kita sendiri.

Katakanlah wahai Nabi, sesungguhnya orang-orang yang merugi itu adalah orang yang merugi diri mereka sendiri. Kalau kita masih bergelimang dengan dosa-dosa besar, saatnya untuk bertaubat, sebelum Ramadhan datang. Kenapa? Karena dosa besar yang kita lakukan tidak taubat kepada-Nya, masih ada kemungkinan kita lakukan di bulan Ramadhan. Dan kalau kita masih bertungkus lumus dengan dosa-dosa besar di bulan Ramadhan, ada kemungkinan bahwa itulah yang menghanguskan pahala-pahala puasa kita di bulan ramadhan. Maka jadilah kita orang yang mendapatkan Ramadhan yang mendapatkan lapar dan hausnya saja.

Saudaraku, kalau kita benar-benar menjadikan Ramadhan ini adalah Ramadhan yang terbaik, dari sekarang bertaubat. Tidak hanya keinginan, bayang-bayang, cita-cita taubat, taubat jangan di jadikan cita-cita. Melainkan dia harus di segerakan. Yang harus di cita-citakan adalah Surga. Nabi setiap hari minta ampun kepada Allah, kenapa kita yang bertungkus lumus dengan dosa dan maksiat, lisan kita kelu untuk minta ampun kepada Allah? Dosa dan maksiat yang telah banyak kita lakukan dengan mata, telinga, lisan, tangan, kaki, kulit, hati, kenapa lisan kita itu sulit untuk bangun shalat malam memohon ampun kepada-Nya disepertiganya yang terakhir disaat Allah sangat dekat dengan hamba-hamba-Nya? Disaat Allah menyiapkan kesempatan untuk pengampunan, kenapa kita yang pendosa tidak serius minta ampun kepada-Nya disaat yang hebat itu?

Semua ini ulah daripada efek maksiat yang kita buat. Karena maksiat itu lah yang menghalangi kita untuk shalat tahajud. Maksiatlah yang menghalangi lisan kita untuk selalu minta ampun kepada Allah. Maksiatlah yang menghalangi hati kita untuk selalu bergantung dan bertawakal kepada-Nya. Karena sungguh, maksiatlah yang menjadi pelaku utama kenapa kita terhalang daripada ketaatan. Maka saatnya, ketika Ramadhan akan segera tiba, kita bersiap dengan taubat terbaik. Agar Ramadhan ini seandainya Allah sampaikan kita kepadanya, kita benar-benar bersungguh-sungguh kiat maksimalkan untuk mendapatkan pengampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ketika kita ditakdirkan Allah untuk bertemu Ramadhan, jangan terlalu pede bahwa ini membuktikan bahwa Allah sayang sama kita, karena Allah ingin menaikkan derajat kita, karena Allah ingin memuliakan kita. Jangan terlalu pede. Boleh jadi dan tidak tertutup kemungkinan Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan, karena Allah tau kita terlalu banyak bergelimang dengan dosa. Sehingga Allah hanya memberikan kesempatan agar Allah tidak di salahkan ketika di akhirat kelak karena tidak memberikan kesempatan kepada hamba-Nya yang seperti kita.

Maka mulai malam ini, kita list dosa-dosa besar dan maksiat yang kita belum taubat darinya, lalu tanyakan dosa ini kapan kita taubat darinya? Dosa ini kapan kita meninggalkannya? Dosa ini kapan kita hapuskan dan sucikan dari diri kita?

Ini sangat penting untuk diri kita sendiri. Karena sungguh, kesholehan seseorang untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain. Dan kebebalan seseorangpun untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain.

Bertaubatlah dan terus diatas taubat dan selalu diatas taubat sampai akhir hayat.

Taubatlah kalian semua wahai orang-orang mukminin, agar kita menjadi orang yang beruntung di akhirat kelak.

Jika kita benar-benar ingin memanfaatkan Ramadhan kita dengan sebaik-baiknya, jangan lagi isi Ramadhan kita dengan maksiat dan dosa-dosa besar agar dosa-dosa itu tidak menghancurkan dan meluluh-lantakkan pahala-pahala kita di bulan Ramadhan.

Kata Nabi Alaihissalam, barang siapa yang benar-benar puasa Ramadhan penuh dengan iman, puasa dengan tulus dan ikhlas dari hati, maka Allah ampunkan dosa-dosanya dari tahun lalu.

Ketika seseorang tau akan berpisah dengan orang yang dia cintai, dia akan melakukan hal yang terbaik di penghujung usianya. Inilah sebenarnya yang ingin kita bangkitkan di hati sanubari kita kalau kita benar benar menanamkan bagaimana kalau seandainya inilah Ramadhan ku yang terakhir dan setelah ramadhan ini, Aku akan dipanggil menghadap Allah taala dan tak kan bertemu dengan Ramadhan yang berikutnya.

Ketika Nabi mengatakan, shalatlah kamu bagaikan shalat orang yang akan pergi meninggalkan dunia, itu artinya, bersemangat menjalankan shalat, bersemangat membenarkan shalat, hal yang sama yang ingin kita raih dalam Ramadhan, bagaimana kita menyempurnakan puasa kita dengan Iman dan takwa kepada Allah.

Seandainya ini adalah Ramadhan kita yang terakhir, maka tunjukkan yang terbaik dari diri kita kepada Rabb kita. Walaupun di dalam diri kita ada keburukan, tutup keburukan itu selama Ramadhan. Keburukan lisan hentikan, keburukan mata, hentikan. Keburukan telinga hentikan. Keburukan kaki dan tangan hentikan. Keburukan hati hentikan. Agar Allah melihat kebenaran, agar Allah melihat kesucian kita, agar Allah melihat semangat kita yang senantiasa untuk menjadi Hamba Allah yang terbaik di bulan yang paling baik. Dan semoga karenanya Allah benar-benar sampaikan maksud dan tujuan hidup kita, cita-cita tertinggi kita, yaitu terhindar dari neraka dan masuk ke dalam Surga. Dan lakukanlah ibadah itu dengan cinta, tanpa ada paksaan. Seseorang yang melakukan sesuatu dengan cinta, maka dia akan menyempurnakan apa yang dia lakukan itu. Sebagaimana kenapa seorang ibu dan ayah bisa tidak tidur malam dan dia maksimal di depan anaknya, memegang kipas dan mengipas-ngipas anaknya dan dia bercucuran keringat, supaya anaknya bisa tertidur dengan pulas dan tidak merengek kepanasan di malam ketika lampu padam. Kenapa bisa itu terjadi, kenapa semaksimal itu orang tua kepada anaknya dimalam itu. Jawabannya hanya satu. Karena cinta. Maka cinta akan mengantarkan kita kepada puncak kebaikan. Bayangkan kalau cinta yang seperti ini kita bawa di bulan Ramadhan yang akan datang, apa yang akan kita lakukan?

Kita benar benar cinta terhadap puasa itu, kita benar benar cinta pada qiyamul lail, kita benar benar mencintai infaq dan sedekah, kita benar benar mencintai istighfar, kita benar benar mencintai Al-quranul karim. Di bulan Ramadhan yang akan datang, dan kalau kita sudah maksimal dengan cinta atas ketaatan dan ibadah dengan mulia dan setelah itu Allah memanggil kita untuk menghadapnya, alangkah nikmatnya hidup kita. yang bisa memaksimalkan hari demi hari di bulan Ramadhan, jika benar-benar itu Ramadhan kita yang terakhir.

Semua kita ingin di panggil di atas kebaikan, semua kita ingin di panggil di atas ibadah dan ketaatan, namun itu tidak bisa kita pastikan, sampai kita benar-benar bisa memanfaatkan dan memaksimalkan waktu demi waktu untuk ketaatan. Dan Ramadhan adalah bulan latihan luar biasa untuk itu. dimana semua orang bergerak ke masjid, semua orang bergerak membaca al quran, semua orang bergerak untuk shalat, semua orang bergerak untuk beribadah, semua orang bergerak untuk memberi, terkecuali hanya segelintir kecil manusia-manusia yang hawa nafsunya terlalu jauh menyeretnya ke liang kehinaan, maka pelajaran dan latihan selama Ramadhan, kalau kita maksimalkan latihan itu, kita berharap pasca Ramadhan, kita benar-benar terlatih ketaatan-ketaatan kepada Allah, benar-benar terlatih untuk selalu mengisi waktu untuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah.

Maksiat, syaithan dan hawa nafsu benar-benar telah membuat seorang insan terlalu jauh dari Rabb nya. Gunakan Ramadhan yang akan datang untuk mendekatkan diri kita kepada Allah, jangan biarkan hawa nafsu kita menjauhkan kita dari Rabb kita, jangan biarkan syaithan membuat kita semakin jauh dari Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Jangan biarkan keinginan kita terhadap dunia dan kecintaan kita terhadap dunia membuat kita melakukan maksiat, dan maksiat itu membuat kita semakin jauh dari Allah. Semua Ibadah di bulan Ramadhan adalah aksi  untuk mendekatkan diri kepada Allah. Gunakanlah kesempatan emas itu nantinya untuk kembali mendekatkan diri kepada-Nya. Semakin kita dekat dengan-Nya, maka akan semakin Ridho Allah kepada kita, maka semakin mudah Allah untuk mudahkan jalan kita ke Surga-Nya.

Disana tempat Dia meletakkan orang-orang yang di Ridhoi-Nya, maka dekatkan diri kita kepada Allah, dekatkan hati kita kepada Allah, hati akan menyuruh mata untuk dekat kepada Allah dan Ayat-Ayat Allah, hati akan menyuruh telinga kita untuk dekat kepada Allah dan mendengarkan Ayat-Ayat Allah, hati akan menyuruh lisan kita untuk dekat kepada Allah dan untuk mentilawah Ayat-Ayat Allah, hati akan menyuruh kaki untuk bertakarrub kepada Allah, berdiri tegak, mengharapkan Ridho-Nya, berdiri tegak mengharapkan pahala-Nya, berdiri tegak mendengarkan Ayat-Ayat-Nya agar kaki yang berdiri tegak menghadap Allah dibulan Ramadhan saat nanti menghadap Allah pada hari kiamat, di rahmati, di sayangi, dan diampuni atas segala dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan.

Adalah seorang thabi’in Abu muslim Al Khaulani, ketika beliau shalat dan kakinya mulai tidak kuat berdiri karena lama shalatnya, kakinya sudah mulai capek dan lelah, menahan bobot badannya yang terlalu lama berdiri lalu beliau memukul-mukul kakinya seraya berkata, wahai kaki, sabarlah, saya ingin denganmu membuat telaga Rasulullah menjadi sempit. Karena shalat malam yang paling afdhol adalah yang paling lama berdirinya, dan kaki kita yang tidak terlatih lama berdirinya, pukullah kaki kita itu dan katakan kau memang diciptakan untuk itu. Untuk beribadah kepada Allah. Akan tetapi tempat tempat mulia yang hebat seperti ini, tak mungkin kita dapatkan tanpa berlatih sekuat tenaga, tanpa berlatih sekuat upaya untuk menjadi orang-orang terbaik dalam beribadah kepada Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Maka datanglah kita pada Ramadhan dengan penuh cinta, datanglah kepada Allah dengan cinta. Datanglah pada ibadah dan ketaatan dengan cinta, bukan dengan paksaan. Karena sungguh, jika kita sudah datang dengan cinta, kita tidak akan mau lepas daripada-Nya.


Ahad, 20 Sya’ban 1439 H.

@etikakasrini | Masjid Raudhatul Jannah, Pekanbaru.

Intisari dari Kajian Islam Ilmiah “Seandainya ini Ramadhanku yang terakhir”

Ustadz Maududi Abdullah, Lc & Ustadz Dr. Aspri Rahmat Azai, M.A

-Hafidzahullahuta’ala-

Tinggalkan Balasan