Catatan Faedah Pembeda Antara Pecinta Dunia & Pencinta Akhirat

0
181

“Yang menentukan soal ada atau tidaknya rasa cinta terhadap dunia, bukan sebentar atau lamanya kamu bekerja di pasar atau di jalan-jalan. Tapi sejauh mana hatimu tenggelam dalam kesibukan dunia itu, yang murni hanya untuk dunia.”

“Kalau pikiranmu lebih banyak diisi oleh kesibukan dunia–sekali lagi, yang murni untuk dunia–, maka kamu akan sangat takut miskin. Dan itu bukan berarti kamu akan jadi kaya. Takdirmu tetap berlaku, sebesar apapun upayamu menghindarinya. Tapi ketika hatimu hanya diisi oleh akhirat. Dan kalaupun kamu memikirkan hal dunia, selalu saja kamu kaitkan dengan kebutuhan akhiratmu, bukan murni dunia, maka hatimu akan tenang. Kamu tak akan terjebak rasa khawatir terhadap kemiskinan. Namun bukan berarti karena itu kamu akan menjadi miskin. Takdir tetap akan berlaku.”

“Ada orang yang bekerja sejenak saja dalam satu hari, hanya setengah jam misalnya, dan dengan itu ia bisa memperoleh banyak uang. Kerjanya sedikit, waktu yang dia butuhkan amat sedikit. Tapi bisa jadi nyaris sehari penuh pikirannya disibukkan oleh hitung-hitungan dagang, menyusun konsep dan perencanaan kedepan, memikirkan hutang dan piutang, dan berbagai hal lain. Sehingga hidupnya sangat sarat dengan memikirkan soal keduniaan. Ia menjadi murni keduniaan, karena tak menumbuhkan semangat akhirat. Bahkan menyebabkan seseorang malas berdzikir, berdoa, membaca al-quran bahkan untuk shalat wajib pun kadang masih keteter. Itulah ciri orang yang cinta dunia. Ia boleh disebut sebagai hamba dunia.”

“Tapi ada pula orang yang seharian bekerja mencari rezeki, namun diwaktu-waktu yang tersisa ia masih mampu banyak berdzikir, beribadah, bermunajat kepada Allah. Bahkan saat berjualan atau bekerja pun ia tak lepas dari mengingat Allah. Lisannya senantiasa basah oleh dzikir. Ia bekerja seharian, mencari uang, mencari dunia, namun bukan murni untuk dunia. Ia mencari dunia untuk mengejar akhirat. Ia ingin membangun sebuah kebun yang luas didunia ini, sebagai ladang yang hasilnya akan di petik di akhirat nanti…”


Dikutip dari Buku Sandiwara Langit, halaman 58.

Tinggalkan Balasan