Dunia, dengan kehidupannya yang hiruk-pikuk dan segala ‘pernak-perniknya’ kita semua tahu betul bahwa tidak lain ia hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Bagaimana mungkin dengan segala kefanaannya, kita masih saja sering lalai, seringnya lupa siapa diri kita, apa tujuan kita diciptakan, bagaimana dan kemana diri kita ingin Pulang.

Kematian. Tatkala ia kita saksikan di hadapan kita, cukuplah ia sebagai yang sebenar-benarnya pengingat dan peringatan, bahwa tak ada satupun dari tiap-tiap jiwa yang melewatkannya. Sebagai pengingat bahwa ada kesenangan abadi yang menanti kita, bahwa ada hisab dari Yang Maha Adil. Semua kita akan menuju ke Alam Barzakh. Maka sejatinya kini kita hanyalah sedang menunggu giliran itu tiba. Lalu sudah sejauh mana bekal itu sudah kita siapkan?

Tak ada yang bisa menjamin tatkala fajar telah berganti senja, kita masih dapat tersenyum dan menyaksikan orang-orang yang kita cintai juga masih dapat tersenyum untuk kita. Tak ada yang bisa memastikan pula bahwa apa-apa yang kita miliki saat ini akan lama membersamai kita. Tak ada yang tahu juga di perjalanan mana kita akan berhenti untuk menemui-Nya.

Setiap dari kita inginnya di panggil oleh Allah dalam ketaatan. Namun pada akhirnya adalah bagaimana cara kita untuk mengupayakannya. Saya teringat satu faedah dari kajian “aku ingin pulang” bahwa dunia ini adalah tempat perantauan yang penuh dengan penderitaan. Sudah sewajarnya Allah kirimkan berbagai ujian dan cobaan bagi tiap-tiap hamba-Nya agar kita merindukan kampung halaman kita yang sesungguhnya. Disanalah tempat yang kekal untuk kita beristirahat. Dunia yang fana ini hanyalah tempat kita mengumpulkan ‘pecahan-pecahan’ yang ingin kita bawa Pulang…

Hari ini, Allah mengirimkan bukti nyata yang kesekian kalinya sebagai tamparan sekaligus pengingat diri, bahwa jika Allah telah menghendaki kebaikan seorang hamba-Nya, maka Allah akan membuat penduduk bumi menerimanya karena kebaikannya.


Etika Kasrini. 14 Rajab 1440 H.
Jangan lupa Pulang, wahai jiwa-jiwa yang merindukan Surga…

Tinggalkan Balasan