Di suatu kajian Ustadz Firanda Andirja -hafidzahullah- ketika membahas fiqih jodoh, kata beliau, dalam hal kecantikan seorang perempuan itu terbagi menjadi dua; yakni cantik yang ijma’, yaitu cantik yang disepakati oleh semua orang yang melihat atau menilainya bahwa seorang perempuan adalah memang cantik secara fisik. Dan yang kedua, yakni cantik yang dipersengketakan, yaitu diantara orang melihatnya atau menilainya, mungkin seorang perempuan yang berkulit kecoklatan lebih disukai daripada yang berkulit putih, ataupun sebaliknya. Relatif.

Maka dalam hal memilih pasangan hidup kata beliau, pilihlah perempuan dengan kriteria cantik yang di persengketakan, karena dengan kecantikannya dimata kita yang memilihnya membuat kita tenang dan nyaman bersamanya.

Ketika Umar Ibnul Khattab radiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir, dan istri yang mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.” (HR. Ibnu Majah no. 1856 dinyatakan shahih oleh Asy-Syaikh Albani rahimahullah dalam shahih Ibnu Majah no. 1505)

Cukuplah kemuliaan dan keutamaan bagi perempuan shalihah dengan anjuran rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi lelaki yang ingin menikah untuk mengutamakannya dari yang lainnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perempuan itu dinikahi karena empat perkara; yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu perempuan yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Kemudian timbul pertanyaan jauh dibenak kita wahai ukhti, sudahkah kita menjadi “cantik” yang sebenarnya seperti yang sesuai dengan anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Tinggalkan Balasan