10 Kaedah Pensucian Jiwa

0
214

Intisari Kajian Islam Ilmiah

10 Kaedah Pensucian Jiwa

Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al Badr

Masjid Abu Ad Darda’, 19 Rajab 1439 H

Disusun oleh : @etikakasrini


Allah berfirman di Surah Asy-Syams : 9-10 :

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Makna dari ayat diatas mengisyaratkan begitu pentingnya pensucian jiwa, maka wajib bagi setiap muslim jujur kepada dirinya agar benar-benar memperhatikan dirinya, melawan hawa nafsunya dalam kehidupannya untuk mencapai tujuan terpuji, agar dia beruntung didunia dan akhirat, dan menikmati kebahagiaan yang hakiki.

Pensucian jiwa bukanlah dengan tasyaddud (super ketat) terhadap diri sehingga terhalang dari hak-hak yang telah Allah fitrahkan untuknya, begitu juga merupakan anggapan yang salah dengan melupakan hak-haknya dan membiarkan dirinya tenggelam dalam syahwat.

Pensucian diri mesti dengan jalan yang syar’i dan dengan perkara pertengahan, tidak berlebihan dan tidak pula menyia-nyiakan, akan tetapi dengan berpegang pada sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan manhaj nya yang lurus.

Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq menyebutkannya kedalam 10 ringkasan Undang-Undang, yang bisa membantu seorang muslim mensucikan dirinya dan mengembangkannya, mensucikannya dari segala hal yang bisa mengotorinya.

  • Tauhid adalah sumber utama pensucian jiwa

Tauhid adalah tujuan yang karenanyalah Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan dan mengadakan kita, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di QS Asd-Dzariyyat : 56) :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Dan ia juga merupakan pokok dakwah para Nabi dan Rasul ‘alaihim as-Salam, sebagaimana firman Allah Ta’ala QS. An-Nahl : 36

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu,…

Tauhid adalah kewajiban pertama bagi manusia untuk masuk kedalam Agama Islam, begitu pula ia adalah kewajiban pertama para Da’i mengajarkan manusia, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya ke Negeri Yaman :

“Sesungguhnya engkau akan datang kepada kaum dari Ahlul Kitab, maka jadilah yang pertama kali kamu serukan (ajak) kepada mereka yaitu agar mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (HR. Bukhari no 7372)

Dan Allah mengancam orang-orang yang tidak mensucikan diri mereka dengan tauhid dan iman, mereka mendapat azab yang pedih di Hari Kiamat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

……. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. Fushshilat : 6,7)

Berkata Ibnu Taimiyyah rahimahullah tentang tafsir ayat di atas : ‘Maksudnya adalah tauhid dan iman yang dengannya hati menjadi suci, karena ia meliputi penafian (peniadaan) ketuhanan sesuatu yang tidak benar dari hati, dan menetapkan Ilahiyyah haqq (Ketuhanan yang haq) didalam hati, dan ia adalah hakikat Laa Ilaaha Illallah, dan ini adalah sumber utama dalam mensucikan hati.

Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah Ta’ala : ‘Berkata kebanyakan Ulama Tafsir dari Salaf dan orang setelah mereka : Maksudnya adalah Tauhid; Kesaksian bahwa (Tidak ada Ilaah yang haqq kecuali Allah), dan iman yang dengannya mensucikan hati, dan ia adalah sumber setiap kesucian dan penambahan.’

Sebagaimana Tauhid adalah sumber pensucian diri dan membersihkan, maka sesungguhnya syirik adalah sesuatu yang paling besar mengotori diri dan menghancurkannya, bahkan ia menggugurkan semua amalan, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar : 65)

Ia adalah dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala selama-lamanya, bagi orang yang meninggal dalam keadaan syirik, sebagaimana firman Allah Ta’ala di surah An-Nisa’ : 48 :

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang di kehendaki-Nya…

Apabila seorang hamba bisa meraih Tauhid, maka dia akan mendapatkan pensucian yang sempurna, dan dia akan mendapatkan hidayah, keamanan yang sempurna di Dunia dan di Akhirat, sebagaimana firman Allah Ta’ala QS. Al-An’am : 82

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Maka, tidak akan terlahir pensucian diri melainkan dengan mencapai tauhid, dan mengesakan Allah dalam ibadah, serta ikhlas beramal karena-Nya. Dan tidak akan bisa suci diri seseorang melainkan dengan membersihkannya dari syirik dengan segala jenisnya, dan membersihkannya dari setiap apa yang bisa membuat tauhid rusak atau lemah.

  • Do’a adalah kunci pensucian jiwa

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

Tidak ada sesuatu yang paling mulia disisi Allah dibandingkan do’a. (HR At-Tirmidzi)

Doa adalah ibadah paling utama disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala; karena padanya menampakkan kelemahan, kebutuhan, menghinakan diri, dan mengakui kekuatan Allah ‘Azza wa Jalla dan kekuasaan-Nya, kekayaan-Nya dan kebesaran-Nya.

Dan do’a memiliki pengaruh besar dalam membuka pintu-pintu kebaikan; sebagaimana wasiat Syaikhul Islam kepada Abil Qashim al-Maghriby : ‘Do’a adalah kunci setiap kebaikan’.

Maka setiap kebaikan yang diinginkan untuk diri, dan untuk kebaikan dunia dan akhirat kita, maka pintalah kepada Allah dan memohonlah pertolongan kepada-Nya dalam meraihnya.

Dan Allah telah berjanji akan mengabulkan do’a orang-orang yang berdo’a kepada-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Dan Tuhanmu berfirman : “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…” (QS. Ghafir : 60)

Dan pada bab Tazkiyyah (pensucian jiwa) telah datang hadits shahih dari Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam, bahwa beliau berkata dalam do’anya :

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwaku ketakwaan, dan sucikanlah jiwaku (dengan ketakwaan itu), Engkaulah Sebaik-baik Yang Mensucikannya, (dan) Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya”. (HR. Muslim dalam Shahih Muslim No. 2722).

Dan pada do’a ini isyarat dan peringatan bahwa pensucian jiwa di Tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui yang ghaib, dan kuncinya yang terbesar adalah do’a dan merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  • Alqur’an adalah sumber pensucian jiwa dan penolongnya

Firman Allah Ta’ala :

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah… (QS. Ali-Imran : 164)

Maka hal terbesar yang bisa membuat sucinya jiwa adalah dengan Al-Qur’an al-Karim, ia adalah kitab pensuci jiwa, sumbernya, penolongnya, dan referensinya. Maka siapa yang ingin kesucian untuk dirinya, maka carilah ia dalam kitab Allah ‘Azza wa Jalla.

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma :

‘Allah menjamin bagi orang yang mengikuti Al-Qur’an bahwa dia tidak akan sesat di unia, dan tidak akan pernah celaka di Akhirat, kemudian beliau membaca ayat :

“…lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha : 123)

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : ‘Al-Qur’an adalah penawar yang sempurna dari segala penyakit hati dan badan, dan penyakit Dunia dan Akhirat’.

Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan hamba-Nya dengan bacaan Al-Qur’an, mentadabburinya, dan melatih dirinya untuk mengamalkannya maka dia akan beruntung dengan meraih pensucian diri.

  • Mengambil Suri Teladan (Qudwah Hasanah)

Firman Allah Ta’ala :

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al-Ahzab : 21)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah : ‘Ayat yang mulia ini adalah sumber besar berqudwah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pada perkataannya, perbuatan dan semua keadaannya.’

Berkata Hasan al-Basri rahimahullah : ‘Sekelompok orang berkata dizaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Sesungguhnya kamu mencintai Rabb kami, maka Allah menurunkan ayat :

Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu,…” (QS. Ali-Imran : 31)

Mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berqudwah dengannya adalah bukti jujurnya cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla; karena mengikuti dan meneladani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berjalan diatas manhajnya yang lurus adalah sumber pensucian diri, tidak akan mungkin sampai kepadanya tanpa mengikuti dan meneladani apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

  • Takhliyah (mengosongkan) dan Tahliyyah (menghiasi)

Sesungguhnya hakikat Tazkiyyah adalah : membersihkan diri pertama; yaitu dengan mensucikannya dari perbuatan buruk, maksiat dan dosa-dosa, kemudian memperindahnya setelah itu dengan perbuatan thaa’at dan amalan-amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman :

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka…” (QS. At-Taubah : 103)

Firman Allah Ta’ala : ‘kamu membersihkan mereka’

Pada isyarat maqam takhliyyah (membersihkan) mereka dari kesalahan dengan mensucikan mereka dari dosa-dosa.

Dan firman Allah Ta’ala : ‘mensucikan mereka’

Adalah isyarat maqam tahliyyah (menghiasi) diri dengan amalan-amalan utama dan kebaikan-kebaikan.

Dan didahulukan pembersihan daripada pensucian adalah pada bab mendahulukan takhliyyah (membersihkan) daripada tahliyyah (menghiasi).

Maka mestilah bagi orang yang ingin mensucikan dirinya agar melepaskan dirinya terlebih dahulu dari dosa-dosa yang bisa merusak hati, yang bisa menghalangi dia dari cahaya petunjuk dan iman, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

Sesungguhnya seorang hamba, ketika berbuat dosa, maka pada hatinya akan tertinggal setitik noda hitam, jika dia bertobat dari dosanya, maka hatinya akan dibersihkan dari noda hitam tersebut, namun apabila dia terus menambah dosanya, maka noda hitam tersebut pun semakin bertambah. Demikianlah Allah Ta’ala firmankan :

Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka lakukan tersebut akan menutupi hatinya. (Surah Al Muthafifin : 14) (HR. Tirmizi. Dihasankan oleh Syeikh Albany)

Kata Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

‘Tazkiyyah, jika asalnya adalah bertambah, berkah dan bertambahnya kebaikan, maka demikian diperoleh dengan meninggalkan keburukan; karena ini jadilah pensucian tersebut mengumpulkan ini dan ini.

  • Menutup celah yang bisa mengeluarkan manusia dari pensucian dan menjauhkannya dari amalan utama dan menjatuhkannya kepada keburukan.

Maka seorang hamba sangat butuh menutup semua celah yang bisa mengotori jiwanya dan menodainya, sungguh sudah terdapat contoh dalam Sunnah perumpamaan yang menjelaskan bahaya masuknya seorang hamba kepada perkara-perkara yang bisa merusak agamanya. Dalam sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membuat perumpamaan dengan shirath yang lurus. Disampingnya ada dua tembok yang mempunyai pintu terbuka. Dan disetiap pintu ada tirai dan penyeru yang mengajak kepada ujung shirath dan penyeru diatasnya. Dan Allah ‘Azza wa Jalla mengajak ke Daar as-Salam dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Pintu-pintu yang ada disamping shirath adalah hududullah (larangan-larangan) Allah ‘Azza wa Jalla. Dan tidak ada seorangpun yang jatuh kepada larangan Allah ‘Azza wa Jalla sehingga membuka tirai. Dan penyeru yang ada diatasnya adalah peringatan Rabbnya. (HR. Ahmad)

Berkata Ibnu Raja al-Hambali rahimahullah :

‘Siapa yang di Dunia ini telah keluar dari keistiqamahan diatas shirath, lalu dia membuka pintu-pintu haram yang terdapat disebelah kanan dan kiri shirath, dan masuk kedalamnya baik itu perkara haram yang berbentuk syahwat atau syubhat, maka dia akan diambil oleh duri-duri yang terdapat di shirath tersebut kanan dan kiri, sesuai dengan apa yang dibukanya di dunia dari pintu-pintu perkara haram dan masuk kedalamnya.’

Maka sudah menjadi kemestiaan bagi seorang hamba agar berakal dan memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla kesabaran dan keselamatan, dan memutus semua jalan yang bisa membawanya kepada kemaksiatan; sebab Agama seorang hamba adalah modal hidupnya, bila ia sia-sia maka itu adalah kerugian Dunia dan Akhirat. Apalagi paza zaman sekarang ini, tersebarnya fitnah diantara manusia seperti tetesan hujan, sehingga terbukanya pintu-pintu syubhat dan syahwat lewat teknologi modern, web-web yang merusak dan acara-acara yang menyeleweng, sehingga membawa banyak orang kepada kesesatan dan memalingkan mereka dari hidayah.

  • Mengingat kematian dan perjumpaan dengan Allah ‘azza wa Jalla

Allah Ta’ala berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat);… (QS. Al-Hasyr : 18)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan; kematian. (HR. Ibnu Majah. Dihasankan oleh Syeikh Albany)

Mengingat kematian memiliki manfaat yang besar; dengannyalah terjaga hati yang lalai, hati yang mati bisa menjadi hidup, bisa menghadap Allah ‘Azza wa Jalla dengan baik, dan menghilangkan kelalaian dan berpaling dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Berkata Sa’id bin Jubari rahimahullah :

‘Kalau seandainya dipisahkan mengingat kematian dari hatiku, maka aku takut hatiku akan dirusak’.

  • Memilih teman dan menyeleksi kawan dekat

Allah Ta’ala berfirman :

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya dipagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahf : 28)

Berkata Syeikh Sa’di rahimahullah :

‘Padanya perintah agar berteman dengan orang-orang pilihan, melatih diri berteman dan bercampur dengan mereka, jika mereka miskin; karena berteman dengan mereka memiliki faedah yang tak terhingga.’

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

Agama seseorang sesuai dengan Agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya. (HR. Abu Daud dan Tirmizi)

Maka seorang hamba harus memilih teman-teman yang bisa membantunya berbuat baik; karena mereka adalah diantara penyebab besar suci dan baiknya diri seorang hamba, dan agar berhati-hati dengan teman yang jelek dan rusak; karena mereka itu lebih berbahaya baginya daripada penyakit kulit.

  • Berhati-hati dari sifat ujub (sombong) dan gurur (berbangga diri)

Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS. An-Najm : 32)

Allah ‘Azza wa Jalla melarang memuji diri sendiri sebagai paling suci atau baik; karena taqwa itu tempatnya adalah hati, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia lah lebih mengetahui dengan orang yang mendapat prediket taqwa dari-Nya, dan memuji diri sendiri adalah sebab ujub (berbangga dengannya), dan sebab riya’ yang bisa menggugurkan amalan.

Seorang mukmin sebesar apapun zuhudnya berbuat baik dan menjauhi maksiat, maka dia selalu dihitung sebagai orang yang lalai dan zalim terhadap dirinya. Ketika Abu Bakr meminta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar mengajarkannya sebuah do’a, lalu Nabi mengajarkannya :

Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku atas kezaliman yang besar, tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah aku keampunan dari sisi-Mu,.. (HR. Bukhari).

Lalu bagaimana dengan kita yang berada dibawahnya?!

Ketika Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bertanya tentang firman Allah Ta’ala :

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. (QS. Al-Mukminun : 60)

Ia berkata :

‘Apakah mereka ini orang-orang yang meminum khamar dan mencuri?’ Nabi menjawab : “Tidak wahai putri ash-Shiddiq, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat dan bersedekah, namun mereka takut kalau amalan mereka tidak diterima disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Tirmizi. Di shahihkan oleh Syeikh Albany).

  • Mengenal diri

Diantara yang diharuskan pada bab pensucian diri adalah : Mengenal hakikat diri ini, mengetahui sifat-sifatnya, agar mudah menjaga dan memeliharanya, dan mengobatinya dari wabah-wabah yang sedang merasukinya.

Allah Ta’ala mensifatkan diri manusia kepada tiga sifat :

  • 1. Nafsu al-Muthmainnah

Yaitu jiwa yang tenang dan tentram dengan keimanan, dzikrullah, ibadah dan baik dalam menghadap kepada Allah Ta’ala, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. (QS. Ar-Ra’du : 28)

Dan firman-Nya :

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hambaKu. Masuklah kedalam surga-Ku. (QS. Al-Fajr : 27-30)

  • 2. Nafsu Lawwamah

Yaitu nafsu yang mencela pemiliknya terhadap perbuatan dosa atau kelalaiannya dari kewajiban Agama ataupun lalai berbuat taat, seperti firman Allah Ta’ala :

Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (QS. Al-Qiyamah : 2)

  • 3. Nafsu Al-Ammaratu Bissu’

Yaitu nafsu yang mendorong pemiliknya melakukan perbuatan haram, mengerjakan dosa, dan menggiringnya ke tempat-tempat jelek, dan mendorongnya melakukan perbuatan hina.

Sebagaimana terdapat didalam Surat Yusuf :

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku,… (QS. Yusuf : 53)

Maka bagi setiap manusia mengenal dirinya (lewat yang tiga diatas) sehingga memudahkannya melatih dirinya agar baik dan suci.

Tinggalkan Balasan