Adab-Adab Majelis Ilmu dan Penghalang-Penghalang Keberkahannya

0
225

 

*Ringkasan Kajian Rutin Ahad Pagi*

๐Ÿ•Œ Masjid Asy-syuhada’
๐Ÿ‘ค Ustadz Andri Abdul Halim Lc. _Hafidzohullahu ta’ala_
๐Ÿ“– Adab-Adab Majelis Ilmu dan Penghalang-Penghalang Keberkahannya.

A. Muqoddimah (pendahuluan)

1. Setiap muslim hendaknya tidak berhenti di dalam meminta hidayah dan rahmat Allah agar selalu berada di dalam ketaatan kepada-Nya.

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŽ ุชูู‚ูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู…ููˆุชูู†ู‘ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู†ูŽ

โ€œHai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.โ€ (QS. Ali Imran: 102)

2. Salah satu ibadah yang agung adalah duduk dalam satu majelis untuk menuntut ilmu.

3. Dan salah satu nikmat Allah yang lain adalah dimudahkannya seseorang untuk bermajelis ilmu. Dan ini merupakan tanda kebaikan seseorang.

ู…ูŽู†ู’ ูŠูุฑูุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจูู‡ู ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ูŠูููŽู‚ูู‘ู‡ู’ู‡ู ููู‰ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู

โ€œBarangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.โ€ (HR. Bukhari dan Muslim)

B. Materi

1. Keutamaan majelis ilmu :

A. Majelis ilmu adalah cara terbaik di dalam mendapakan ilmu
B. Majelis ilmu adalah jalan menuju surga.
C. Majelis ilmu adalah sebab datangnya ketenangan serta rahmat Allah.
D. Majelis ilmu adalah salah satu taman dari taman-taman surga.

ุฅูุฐูŽุง ู…ูŽุฑูŽุฑู’ุชูู…ู’ ุจูุฑููŠูŽุงุถู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ููŽุงุฑู’ุชูŽุนููˆุง ู‚ูŽุงู„ููˆุง ูˆูŽู…ูŽุง ุฑููŠูŽุงุถู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูู„ูŽู‚ู ุงู„ุฐู‘ููƒู’ุฑู

โ€Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.โ€ Para sahabat bertanya,โ€Apakah taman-taman surga itu?โ€ Beliau menjawab,; โ€Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.โ€

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, โ€Barangsiapa ingin menempati taman-taman surga di dunia, hendaklah dia menempati majlis-majlis dzikir (salah satunya majlis ilmu) ; karena ia adalah taman-taman surga.โ€

2. Adab-adab Majelis Ilmu :

1). Mengikhlaskan niat karena Allah dan bukan tujuan dunia.

ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุนูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูู„ู’ู…ู‹ุง ู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูุจู’ุชูŽุบูŽู‰ ุจูู‡ู ูˆูŽุฌู’ู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽุชูŽุนูŽู„ู‘ูŽู…ูู‡ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู„ููŠูุตููŠุจูŽ ุจูู‡ู ุนูŽุฑูŽุถู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฌูุฏู’ ุนูŽุฑู’ููŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู

โ€œBarangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.โ€(HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

2). Berniat menghilangkan kebodohan dari diri sendiri dan orang lain.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan:

ุงู„ุนูู„ู’ู…ู ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ุฏูู„ูู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ู„ูู…ูŽู†ู’ ุตูŽุญู‘ูŽุชู’ ู†ููŠู‘ูŽุชูู‡ู

โ€œIlmu itu tidak dapat ditandingi oleh amalan apa pun bagi orang yang niatnya benar.โ€
Orang-orang bertanya, โ€œBagaimana niat yang benar itu, wahai Abu โ€˜Abdillah?โ€
Beliau menjawab:

ูŠูŽู†ู’ูˆููŠ ุฑูŽูู’ุนูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู‡ู’ู„ู ุนูŽู†ู’ ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู

โ€œSeorang meniatkan untuk mengangkat kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.โ€

3). Bersemangat menghadiri majelis ilmu.
4). Bersegera datang ke majelis ilmu dan tidak terlambat.
5). Jika majelis ilmu di masjid, maka hendaknya memperhatikan adab-adab di masjid (doa, sholat tahiyatul masjid dll).
6). Jika pintu satu tempat dan sempit maka didahulukan yang sepuh (orang tua) dan yang paling kanan.
7). Duduk dengan sopan, dan wibawa.
8). Jika tempat sempit maka agar melonggarkannya kepada yang baru datang.

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฅูุฐูŽุง ู‚ููŠู„ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽููŽุณู‘ูŽุญููˆุง ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุฌูŽุงู„ูุณู ููŽุงูู’ุณูŽุญููˆุง ูŠูŽูู’ุณูŽุญู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูƒูู…ู’

โ€œWahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepada kalian lapangkanlah/renggangkanlah majelis kalian, maka renggangkanlah/lapangkanlah majelis kalian, niscaya Allฤh akan beri kelapangan pada kalian.โ€ (Al-Mujadilah: 11)

ู„ูŽุง ูŠูู‚ููŠู…ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ูŽ ู…ูู†ู’ ู…ูŽุฌู’ู„ูุณูู‡ู, ุซูู…ูŽู‘ ูŠูŽุฌู’ู„ูุณู ูููŠู‡ู, ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ุชูŽููŽุณูŽู‘ุญููˆุง, ูˆูŽุชูŽูˆูŽุณูŽู‘ุนููˆุงยป. ู…ูุชูŽู‘ููŽู‚ูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู.

โ€œJanganlah seseorang duduk mengusir orang lain dari tempat duduknya, kemudian ia duduk di tempat tersebut, namun ucapkanlah berilah kelonggaran dan keluasan.โ€ (Muttafaqun โ€˜alaih)

9). Duduk mendekat kepada pengajar atau ustadz.
10). Tidak boleh membangunkan orang lain agar pindah dan mempersilahkan orang lain duduk ditempat tersebut.
11). Tidak boleh duduk di tempat orang yang sudah mendudukinya terdahulu.
12). Tidak boleh duduk di antara dua orang kecuali dengan izin keduanya.

ู„ุง ูŠูุฌู’ู„ูุณู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŽูŠู’ู†ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูุฅุฐู’ู†ูู‡ูู…ูŽุง

โ€˜โ€œJanganlah seseorang duduk di antara dua orang, kecuali dengan izin keduanya.โ€

13). Duduk di tempat yang longgar.
14). Tidak berpencar duduknya.
15). Tidak ngobrol sendiri atau mengangkat suara.
Usamah bin Syarikย radhiallahu โ€˜anhuย memberitakan,

ูƒูู†ู‘ูŽุงย ุฌูู„ููˆู’ุณู‹ุงย ุนูู†ู’ุฏูŽย ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠูู‘ย ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู…ูŽุงย ุนูŽู„ูŽู‰ย ุฑูุคููˆู’ุณูู†ุงูŽย ุงู„ุทู‘ูŽูŠู’ุฑูุŒย ู…ูŽุงูŠูŽุชูŽูƒูŽู„ู‘ูŽู…ูย ู…ูู†ู‘ูŽุงย ู…ูุชูŽูƒูŽู„ู‘ูู…ูŒ…”

โ€œKami tengah duduk-duduk di sisi Nabiย shallallahu โ€˜alaihi wa salam, seakan-akan di atas kepala-kepala kami ada burung yang hinggap. Tidak ada seorang pun dari kami yang berbicara…โ€ย (HR. Ath-Thabarani).

16). Tidak boleh bisik-bisik sendiri.
17). Mencatat ilmu.
Imam Asy Syafiโ€™iย rahimahullahย berkata,

ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุตูŽูŠู’ุฏูŒ ูˆูŽุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽุฉู ู‚ูŽูŠู’ุฏูู‡ู ู‚ูŽูŠู‘ูุฏู’ ุตููŠููˆู’ุฏูŽูƒูŽ ุจูุงู„ู’ุญูุจูŽุงู„ู ุงู„ู’ูˆูŽุงุซูู‚ูŽู‡ู’
ููŽู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ูŽุงู‚ูŽุฉู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุตููŠู’ุฏูŽ ุบูŽุฒูŽุงู„ูŽุฉู‹ ูˆูŽุชูŽุชู’ุฑููƒูŽู‡ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽู„ุงูŽุฆูู‚ู ุทูŽุงู„ูู‚ูŽู‡ู’

” Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja “.

18). Berusaha mempelajari ilmu yang tidak bisa dihadiri.
19). Memperhatikan kebersihan dan menghilangkan bau yang tidak sedap.
20). Tidak boleh putus asa di dalam menuntut ilmu.
21). Tidak boleh memotong pembicaraan penceramah.
22). Beradab dan sopan saat bertanya.
23). Memperhatikan dan meniru akhlak yang baik dari sang pembicara atau ustadz.

3. Penghalang-penghalang keberkahan ilmu :

1). Ilmu tidak diamalkan.
2). Ilmu tidak disampaikan kepada orang lain.
3). Niat yang salah dalam menuntut ilmu (tidak ikhlas).
4). Menuntut ilmu hanya untuk wawasan saja dan bukan untuk diamalkan.
5). Kurang atau tidak memiliki adab dalam menuntut ilmu.
6). Jarang atau tidak pernah menghadiri ilmu.
7). Tidak istiqomah dalam menuntut ilmu.

โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”
_Ahmad Imron Al Fanghoni_
(Ahad, 17 Maret 2019 M / 10 Rojab 1440 H)

Tinggalkan Balasan