Tawassul yang Dilarang dan Kaidah-Kaidah Pentingnya

0
118

Tawassul (membuat perantara) memiliki makna menjadikan sesuatu sebagai perantara agar suatu doa dan permohonan yang dimaksudkan terkabul. Adapun tidak semua tawassul dibenarkan secara syariat (tawassul dengan wasilah /perantara yang dibolehkan di dalam syariat), karena ada tawassul yang tidak dibolehkan yakni yang tidak dijelaskan di dalam syariat.

Inilah yang akan dipaparkan dalam tulisan ini, yakni tawassul yang tidak dibolehkan beserta kaidah-kaidah penting mengenai tawassul. Adapun mengenai tawassul yang disyariatkan, dilain waktu akan dibahas tersendiri beserta dalil-dalil yang menyertainya, karena ketika mengetahui yang tidak diperbolehkan, in syaa Allah selain ibadah permohonan kita tidak sia-sia, kita akan selamat dan terhindar dari dosa besar berupa kesyirikan, karena ibadah satu ini sangat rentan bersentuhan dengan kesyirikan.

Tawassul yang mengandung Kesyirikan dan Tawassul Bid’ah

Tawassul yang tidak diperbolehkan dibedakan dalam dua bagian yaitu tawassul yang mengandung kesyirikan dan tawassul bid’ah. Tawassul yang mengandung kesyirikan yaitu tawassul dengan ibadah atau doa kepada selain Allah subhanawata’ala. Misalnya, seseorang yang mendatangi kuburan Nabi atau wali atau kuburan lainnya dan berdoa kepadanya, “Wahai tuanku Fulan, tolonglah aku berilah syafa’at, penuhilah hajatku, binasakan musuhku”. Dan juga termasuk tawassul syirik, menyembelih hewan untuk penghuni kuburan dan tawaf di sekitarnya dan semisalnya.

Inilah bentuk kesyirikan kaum musyrikin Arab zaman dahulu. Mereka berdoa dan bertaqarrub kepada sembahan mereka dan mengatakan bahwa kami menyembah sembahan itu agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah subhanawata’ala dan agar mereka memberikan syafaat untuk kami di sisiNya. Kaum musyrikin terdahulu tidak meyakini bahwa tuhan yang mereka sembah tersebut dapat menciptakan, memberi rezki dan mengatur alam semesta. Akan tetapi, mereka menyembahnya agar sembahan itu memberi syafaat bagi mereka di hadapan Allah subhanawata’ala. Perbuatan ini termasuk syirik akbar (kesyirikan yang besar). Semoga Allah subhanawata’ala melindungi kita semua darinya. Allah subhanawata’ala berfirman, “Kaum muayrikin yang mengaku memiliki sembahan sebagai penolong selain Allah berkata ; “Kami hanya menyembah mereka agar mereka mendekatkan kami dengan syafaat yang akan mereka berikan kepada kami di hadapan Allah. Sesungguhnya Allah akan memutuskan hukum di antara mereka (tentang perkara tauhid dan syirik) yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak akan menunjukkan kebenaran kepada orang yang pendusta lagi kafir.” (QS. Az Zumar: 3).

Sedangkan Tawassul bid’ah yaitu tawassul dengan cara yang tidak pernah diamalkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula oleh segenap sahabat nabi radhiyallahu ‘anhum. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang mengada-adakan suatu amalan dalam urusan agama yang tidak ada tuntutannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak (tidak diterima). (H. R. Bukhari). Misalnya, seseorang mendatangi kuburan kemudian berdoa kepada Allah subhanawata’ala semata. Akan tetapi dia meyakini bahwa berdoa di kuburan seorang wali akan mudah dikabulkan atau dia mengkhususkan tempat tertentu (sebagai tempat berdoa dan beribadah) yang tidak pernah dianjurkan oleh syariat yang mulia ini.

Dan yang juga termasuk bagian tawassul bid’ah adalah bertawassul kepada Allah subhanawata’ala dengan hak Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam atau dengan hak, kedudukan, serta keberkahan seorang wali atau hak orang-orang yang berdoa, orang-orang yang beriman dan yang semisalnya.

Kaidah-Kaidah Penting Perkara Tawassul

Kaidah pertama: Memahami Alqur’an hadist sebagaimana dipahami oleh para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum, karena merekalah yang menyaksikan langsung turunnya ayat-ayat Al Qur’an dan mereka pula yang mengetahui sebab-sebab ayat tersebut diturunkan. Mereka pula yang mengetahui maksud nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan makna sabda-sabda beliau, termasuk diantaranya adalah hadist tentang bertawassul dengan doa orang sholeh. Anas bin malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa ketika Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam sedang menyampaikan khutbah jum’at, tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri, seraya berkata “Wahai Rasulullah, hewan-hewan (kuda/unta) telah binasa dan kambing telah binasa pula (kehidupan menjadi sulit), maka berdoalah kepada Allah agar diturunkan hujan untuk kami, lalu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menengadahkan kedua tangannya dan berdoa.” (H.R. Bukhari).

Ini adalah bentuk tawassul para sahabat melalui doa Rasul shollallahu ‘alaihi wa salam semasa beliau hidup. Adapun setelah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam wafat, para sahabat Nabi tidak pernah bertawassul melalui beliau sebagaimana yang mereka lakukan semasa hidup beliau. Akan tetapi mereka bertawassul dengan doa orang shaleh yang masih hidup, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadist shahih dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau menuturkan bahwa, apabila terjadi kemarau panjang, Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu bertawassul dengan do’a Al Abbas bin Abdul Muththalib radiyallahu ‘anhu, seraya berdoa, “Ya Allah, kami telah bertawassul kepadaMu dengan do’a NabiMu, maka engkau turunkan hujan bagi kami. Dan sekarang kami bertawassul dengan doa paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami. Anas berkata, “Maka saat itu, turunlah hujan kepada kami.” (HR. Al Bukhari).

Dalam hadist ini, para sahabat meminta kepada Al Abbas radhiyallahu ‘anhu agar beliau mendoakan mereka sebagaimana mereka pernah meminta Nabi shollallahu ‘alaihi wa salam semasa hidupnya agar mendoakan mereka. Seandainya bertawassul melalui orang shalih yang telah meninggal diperbolehkan, niscaya para sahabat tidak akan mendatangi sahabat Nabi Al ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dan meninggalkan manusia terbaik Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Kaidah kedua; Diwajibkan menggabungkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan hadist yang berhubungan dengan sebuah perkara agar bisa menentukan hukum perkara tersebut secara benar. Adapun sengaja mengamalkan sebagian dalil dan meninggalkan sebagian dalil lainnya, maka ini termasuk cara kelompok sesat dan dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang suka mengikuti ayat-ayat mutasyaabih, sedangkan Allah subhanawata’ala melarang perbuatan tersebut. Allah subhanawata’ala berfirman, “Dialah yang menurunkan al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat (jelas maknanya). Itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihat (samar maknanya). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya.” (QS. Al Imran: 7)

Kaidah ketiga: Seluruh dalil tentang perkara tawassul yang dijadikan tuntunan oleh orang-orang yang menyimpang dari akidah yang benar di dalam masalah tawassul ini, sebagiannya ada yang shahih (benar), akan tetapi maknanya tidak jelas, seperti firman Allah subhanawata’ala, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Dan carilah wasilah (ketaatan) yang dapat mendekatkan kalian kepadaNya dan berjihadlah di jalan Allah agar kalian memperoleh keberuntungan.” (QS. Al Maidah:35)

Ini adalah dalil tentang tawassul yang qath’i (tidak diperselisihkan) dari sisi tsubut (keshahihannya). Akan tetapi dalil ini tidak tegas menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh orang-orang yang menyelisihi kebenaran dalam perkara tawassul ini, berupa tawassul yang bathil dan terlarang. Bahkan ayat ini merupakan dalil bertawassul yang disyariatkan, seperti tawassul dengan amal shalih, sebagaimana penafsiran para sahabat radhiyallahu ‘anhum, diantara mereka adalah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau menafsirkan kata al wasillah diatas dengan ketaatan. Begitu pula dengan penafsiran murid beliau Qatadah, al wasillah yakni mendekatkan diri kepada Allah subhanawata’ala dengan segala bentuk ketaatan dan amal shalih.

Dan ada pula dalil yang tegas yang dijadikan sandaran oleh orang-orang yang menyelisihi kebenaran dalam masalah tawassul ini, akan tetapi tidak shahih, seperti hadist tentang bertawassul dengan hak dan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa saja yang keluar dari rumahnya menuju masjid untuk menunaikan shalat kemudian berdoa, “Ya Allah aku memohon kepada-Mu dengan hak orang-orang yang meminta kepada-Mu dan aku memohon kepada-Mu dengan berkat perjalananku ini… “(al-Hadist). Hadist ini tidak benar apabila dinisbatkan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama hadist telah mendhaifkan hadist ini, diantara mereka adalah Imam Nawawi dan Haitsamiy.

Waallahu’a’lam bishshawaab

Tinggalkan Balasan