MUI Sumbar : Pelarangan Cadar Untuk Mahasiwi dan Dosen Dasarnya Ilmu Atau Nafsu?

0
128

MUI Sumbar : Pelarangan Cadar Untuk Mahasiwi dan Dosen Dasarnya Ilmu Atau Nafsu ?

Larangan bercadar bagi mahasiswi dan dosen wanita di Indonesia justru terjadi perguruan tinggi Islam. Awal tahun 2018, setidaknya ada dua perguruan tinggi Islam yang membuat kebijakan ironi tersebut (melarang bercadar), yakni Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

Larangan menggunakan cadar di UIN Suka akhirnya dicabut setelah mendapat kecaman keras dari berbagai pihak. Sedangkan kebijakan larangan bercadar di IAIN Bukittinggi masih diberlakukan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat menilai kebijakan IAIN Bukittinggi melarang mahasiswi dan dosen bercadar, merupakan langkah keliru. Ketua MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar mengatakan, alasan administratif yang dikemukanan pihak kampus sama sekali tidak ilmiah.

Gusrizal melihat kekhawatiran pihak kampus bahwa pemakaian cadar akan membatasi komunikasi antara dosen dan mahasiswa bisa dipatahkan. Menurutnya, pembinaan tidak menuntut seseorang harus melihat wajah mahasiswinya, kecuali bagi mereka yang gemar memandang wajah perempuan yang bukan mahramnya.

”Apakah teori pembinaan hari ini menuntut pandang-memandang seperti itu? Saya tidak tahu, apakah ini pernyataan yang keluar dari akal yang berisi ilmu atau akal yang dikuasai nafsu,” katanya, Rabu (14/3).

Gusrizal menambahkan, paling tidak ada dua alasan mengapa cadar tidak bisa dilarang di kampus, apalagi institusi yang mengusung agama Islam. Alasan pertama, lanjutnya, bahwa penggunaan cadar adalah hak muslimah. Sedangkan alasan kedua, bahwa pemakaian cadar adalah bagian dari pilihan menjalankan pandangan dan anjuran ulama.

”Bercadar itu diri Rasulullah. Istri-istri beliau, sahabat perempuan semasa beliau, banyak yang mengenakan cadar. Kita umat Nabi Muhammad, tapi kok melarang bercadar. Di kampus Islami pula,” tegasnya.

Gusrizal juga mengingatkan, pandangan ulama terhadap penggunaan cadar berbeda-beda. Meski begitu, dia menilai, bahwa khilafiah-nya bukan persoalan boleh atau tidaknya. Tapi, tentang tingkatan pensyariatannya. ”Apakah wajib, sunat atau sebatas mubah,” ujar Buya Gusrizal.

Tinggalkan Balasan