Zaman Now, Generasi Micin (Bolehkah?)

0
263

Zaman Now, Generasi Micin (Bolehkah?)

Banyak yang terlalu naif menyebut perkara perkara buruk ala anak muda dengan menyandingkannya dengan “micin” alias penyedap rasa. Menurut mitos yang beredar, micin dapat membuat orang menjadi bodoh dan dungu.

Hingga munculah sindiran yang diviralkan padahal hal tersebut membuat kawula muda menjadi buta fakta bahkan menjadi budaya latah mereka. Apakah boleh demikian?

Islam Melarang kita tidak boleh mencela Makanan

Jika disebut makanan maka termasuk di dalamnya berupa bumbu seperti garam, micin, gula, kunyit, dan sejenisnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemuji makanan. Terdapat suatu riwayat, beliau bertanya kepada keluarganya tentang lauk yang tersedia. Keluarga beliau menjawab:

مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ وَيَقُولُ

“Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali cuka,” maka beliau meminta untuk disediakan dan mulai menyantapnya. Lantas berkata:

نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ

“Sebaik-baik lauk adalah cuka. Sebaik-baik lauk adalah cuka.” [HR Muslim].

Lihatlah, di rumah Rasulullah shalaAllahu alaihi wasallam hanya ada cuka, beliau pun memuji cuka itu padahal rasanya hanya asam dan tajam di mulut. Ini menunjukkan bahwa makanan apapun yang lebih dari cuka hendaknya tidak dicela bahkan dipuji.

Micin atau vetsin adalah bumbu masakan yang halal jika terbuat dari barang halal

Dan secara ilmiyah dan penelitian dibuktikan pula bahwa mengonsumsi micin dalam jumlah sesuai takaran maka aman bagi tubuh. Artinya tidak perlu berlebihan. Karena apapun yang berlebihan pasti mendatangkan penyakit.

Sesungguhnya micin dan madu itu SAMA berbahaya jika dikonsumsi satu ember sekali makan dan bisa membuat orang mati.

Orang yang bersenda gurau menggunakan micin sangat naif, kenapa?

Ia menghina orang lain dengan micin, lalu ia sendiri berkeluh kesah dengan koki yang memasak masakan tanpa micin. Padahal micin itu menambah cita rasa umami, yaitu antara asin dan manis. Sehingga membuat masakan lebih gurih dan lezat.

Membuat orang tertawa boleh, jika hal itu benar dan nyata

Namun berlebihan dalam canda, akan menghilangkan wibawa dan kehormatan anda sendiriserta mematikan hati. Bahkan jika dusta alias hoax maka ancamannya akan mendatangkan laknat dari Allah.

Sebagai seorang Muslim, apalagi penuntut ilmu hendaknya kita tidak ikut-ikutan orang awam dalam hal hal seperti ini

Karena kelucuan seperti ini terlalu naif dan seakan akan orang tersebut 100% terbebas dari micin dan tidak pernah mengonsumsinya. Negara asal micin yaitu Jepang, penduduk di sana rata-rata bisa membaca dan menulis dibanding negara yang menjadikannya anekdot.

Yang salah itu bukan micinnya, tapi kemalasan, tidak punya tujuan, serta mau hidup semrawut yang membuat orang orang menjadi bodoh dan tidak maju-maju. Jika anda minum madu se-ember, maka keburukannya sama dengan makan micin seember pula. Ingatlah!

Bahkan kurma pun berbahaya jika dikonsumsi berlebihan……

Dalam suatu kisah disebutkan dalam biografi Imam Muslim bahwa beliau wafat karena keasyikan meneliti riwayat hadits sambil memakan kurma satu keranjang yang diberikan tetangganya. Beliau tidak sadar karena terlalu sibuk belajar, setelah selesai beliau terkejut karena kurmanya habis satu keranjang. Setelah beberapa hari beliau pun wafat –rahimahullah-

Tinggalkan Balasan