Apakah Bebas Berbuat Dosa setelah Puasa Arafah ?

0
145

Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) merupakan salah satu amalan yang dianjurkan (bagi yang sedang tidak berhaji), mengingat fadhillah (keutamaan) puasa ini sangat besar, yaitu sebagai kaffarah (penebus) dosa pada satu tahu yang lalu & yang akan mendatang. berdasarkan hadits :

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

Puasa pada hari Arafah, aku memohon pada Allah agar puasa itu bisa menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya (hadits riwayat Muslim).

Imam Nawawi dalam menjelaskan hadits ini, bahwa yang dihapus adalah dosa – dosa kecil.

Berikut juga penjelasan dari Syaikh AbdulMuhsin al ‘Abbad tentang puasa Arafah : “Maknanya, selama dosa besar tidak dijauhi atau masih terus-menerus dilakukan, maka dosa-dosa kecil ini belum diampuni.”

Maka perlu diperhatikan, tidaklah benar jika kita berbuat dosa kecil secara terus menerus, dengan dalih & keyakinan bahwa dosanya telah diampuni. Bisa jadi karena kita sering mengulang – ulang dosa kecil itu, dan dilakukan tanpa rasa penyesalan, tanpa rasa bersalah & tanpa beristigfar (memohon ampunan), maka dosa kecil itu menjadi dosa yang besar. Sebagai perkataan Ibnu Abbas :

لا كبيرة مع الاستغفار، ولا صغيرة مع الإصرار

Tidak dianggap dosa besar jika beristighfar, dan tidak dianggap dosa kecil jika dilakukan terus – menerus.

Sehingga tidaklah benar jika setelah berpuasa Arafah kita merasa terbebas dari dosa. Kita tetap harus menjauhi perbuatan dosa & sering – sering beristigfar, sebagaimana nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam yang sering beristigfar walaupun dosa – dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang telah dihapus. Maka tentunya kita yang banyak sekali dosanya lebih patut untuk sering – sering beristigfar.

Jika tidak melaksanakan puasa Arafah, adakah amalan selain puasa Arafah yang bisa menghapus dosa ?

Janganlah berputus asa dari ampunan Allah hanya karena tidak berpuasa Arafah. Karena sesungguhnya setiap amal kebaikan dapat menghapuskan dosa, hal ini berdasarkan surah Hud ayat 114 dijelaskan bahwa :

…إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ…

Sesungguhnya kebaikan – kebaikan itu menghapuskan dosa – dosa.

Dan juga hadits :

…وأتبع السيئة الحسنة تمحها…

…Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena bisa menghapusnya… (Hadits riwayat Tirmidzi, hasan shahih).

Banyak amalan harian rutin yang kita kerjakan dan dapat menghapuskan dosa, seperti :

– Berwudhu lalu berangkat kemasjid

مَنْ تَوَضَأَ لِلصَّلَاةِ فَأَسْبَغَ الوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلَاةِ المَكْتُوبَةِ فَصَلَّاهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الجَمَاعَةِ أَوْ فِي المَسْجِدِ غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوبَهُ

Barangsiapa berwudhu untuk shalat dan dia menyempurnakan wudhunya, kemudian dia berjalan untuk melakukan shalat fardhu bersama orang-orang atau secara berjamaah di masjid, maka Allah mengampuni dosa-dosanya (Shahih Muslim, kitab Wudhu)

 

– Melaksanakan Sholat

الصَّلَواتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ. و في رواية: (وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke shalat Jum’at berikutnya menjadi pelebur dosa di antara shalat-shalat itu selama tidak melakukan dosa besar. Puasa Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya menjadi pelebur dosa antara keduanya apabila meninggalkan dosa besar. (Shahih Muslim, kitab Sholat)

 

– Berdzikir setelah sholat

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Barang siapa mengucapkan Subhanallah sebanyak 33 kali, bertahmid {Alhamdulillah} 33 kali dan bertakbir {Allahu Akbar} 33 kali yang seluruhnya berjumlah 99, disempurnakan menjadi 100 dengan bacaan Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, wa lahul hamdu, wa huwa alaa kulli syai’in qadiir. ” {Tiada Tuhan selain Allah, Dialah satu-satunya. Tiada sekutu bagi-Nya. Kerajaan alam dan segala puji bagi-Nya dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu}, maka dosanya akan diampuni, meskipun sebanyak buih lautan. (Shahih Muslim, kitab Sholat). Dan amal sholih lainnnya.

Namun perlu diingatkan kembali, janganlah merasa bersih dari dosa atau meremehkan suatu perbuatan dosa, mari simak hadits berikut :

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya seperti ia duduk di pangkal gunung, ia khawatir gunung itu akan menimpanya, sedangkan orang fajir (selalu berbuat dosa) melihat dosa – dosanya seperti lalat yang menempel di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang… (Shahih Bukhari, kitab Do’a).

Maka tentunya kita sebagai seorang mukmin khawatir akan tertimpa akibat buruk yang besar dari dosa – dosa kita.

Tinggalkan Balasan