Baca Yasin Malam Jum’at kok Dilarang ?

0
694

Baca Yasin Malam Jum’at kok Dilarang ?

Surah Yasin merupakan salah satu surat dari 114 surat dalam Al Quran, dan membaca Al Quran merupakan suatu amal yang akan diganjar kebaikan (diberi pahala) dengan 1 pahala setiap hurufnya, sebagaimana sabda nabi :

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Siapa saja yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al Qur’an) maka ia akan mendapatkan satu kebaikan karenanya dan sepuluh kebaikan yang serupa dengannya (dilipat gandakan sepuluh kali lipat). Aku tidak mengatakan bahwa alif laam miim ( الم ) itu satu huruf, akan tetapi aliif ( ا ) satu huruf, laam ( ل ) satu huruf, dan miim ( م ) satu huruf” (HR Tirmidzi).

Namun perlu diperhatikan, dalam beribadah perlu mengikuti suri tauladan kita (yaitu nabi Muhammad), adapun suri tauladan kita ketika malam jum’at (atau siang hari Jum’at) menganjurkan untuk membaca surah Al Kahfi (bukan surah Yasin).

Sehingga membaca surah Yasin pada malam Jum’at bukanlah ibadah yang disyariatkan. Namun adapun kalau ketika hari Jum’at kita kebetulan ingin membaca surah Yasin, maka ini tidak masalah. Permasalahannya adalah ketika kita mengkhususkan membaca surah Yasin disetiap malam Jum’at, sehingga kita meninggalkan sunnah nabi (yaitu membaca surah Al Kahfi) dan menggantinya sesuatu yang baru (muhdats).

Dalam kaidah ushul fiqih, hukum suatu ibadah pada dasarnya adalah dilarang, hingga ada dalil yang memerintahkan, sehingga kita tidak bisa menentuan suatu ibadah dengan kemauan kita sendiri, meskipun menurut kita hal itu baik.

Jika kita menggunakan akal sehat kita, bisa kita bayangkan, ketika nabi memerintahkan : “Bacalah surah Al Kahfi…” namun anda menjawab : “Tidak yaa nabi, saya ingin surah Yasin”. Atau juga ketika nabi bersabda : “Sholatlah sebagaimana kalian melihat aku sholat” (kita ambil contoh kecil, ‘nabi sholat fardhu Subuh 2 rakat’) namun anda menjawab : “Ya rasulullah, itu terlalu ringan. Saya akan sholat 5 rakaat supaya mendapatkan lebih banyak kebaikan.” Na’udzubillah, nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Ambillah apa saja yang aku tinggalkan untuk kalian, karena orang-orang sebelum kalian binasa karena mereka gemar bertanya dan menyelisihi nabi mereka, jika aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah, dan apabila aku perintahkan kalian dengan sesuatu maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR Bukhari)

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amal yang tidak termasuk amalan agama kami, maka sesungguhnya amalan itu tertolak.” (HR Muslim)

Tentunya niat baik saja tidaklah cukum untuk beribadah, karena syarat diterimanya ibadah adalah ikhlash karena Allah & mengikuti suri tauladan kita (yaitu nabi Muhammad). Bagaimana bisa disebut pengikut setia nabi Muhammad, sementara ketika nabi memerintahkan untuk melakukan “A”, namun kita tidak mau melaksanakannya, dan menggantinya dengan “B”, dengan dalih “Ini kan baik”. Padahal siapakah yang lebih baik, nabi ataukah kita ? (tentu saja nabi jauh lebih baik).

Coba kita bayangkan, jika ada beberapa orang yang bekerja dalam sebuah perusahaan, lalu pimpinan perusahaan itu memerintahkan kepada semua pegawai : “Besok baju putih celana hitam”, lalu ketika esok hari pegawai X, A dan B malah memakai baju & celana biru. Lalu pimpinan perusahan bertanya : “Kenapa tidak sesuai perintah saya ?”

Si X menjawab : “Maaf pak, saya kurang suka warna putih & hitam, saya lebih suka baju biru, yang penting inikan bagus & rapih”. Kira – kira apa respon pemimpin perusahaan ? tentunya marah & kesal, karena sudah tau perintahnya dengan jelas namun si X malah menolak dan beranggapan “Inikan bagus…”

Dan si A menjawab : “Maaf pak, saya tidak tau kalau hari ini haru pakai seragam putih hitam.” Mungkin pemimpin perusahaan akan memaafkan, atau mungkin memarahi si A karena tidak mau mencari tau.

Dan si B menjawab : “Maaf pak, baju putih & celana hitamnya ketumpahan cat tadi pagi jadi saya pake baju yang lain.” Pemimpin perusahaan mungkin akan menegur si B karena ia tidak hati – hati, namun pemimpin perusahaan tidak akan sampai memarahinya karena sebuah kecelakaan.

Mungkin begitu analogi antara :
– Ahli bid’ah, yaitu sudah tau apa yang benar namun tidak menerima kebenaran itu dan menganti dengan sesuatu yang baru (pegawai X),
– Orang yang malas mencari ilmu agama sehingga ia sering salah karena ketidaktahuannya (pegawai A)
– Orang yang sudah tau namun tidak hati – hati, sehingga terkadang / sering salah (pegawai B)

Setiap ummatnya nabi Muhammad insyaallah pasti masuk surga, sebagaimana yang telah nabi Shollallahu’alaihi wa sallam sampaikan :

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى

“Setiap umatku masuk surga, kecuali yang tidak mau, ” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas siapa yang tidak mau?”

Tentunya semua orang mau masuk surga, tidak ada orang yang berkeyakinan “Tidak, saya tidak mau ke surga, saya mau ke neraka saja”, namun nabi telah menyebutkan “Kecuali yang tidak mau,” sehingga para sahabat bertanya, “Siapakah yang tidak mau itu ?”

قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku masuk surga dan siapa yang tidak mematuhi aku berarti ia tidak mau surga.” (HR Bukhari)

 

Wabillahi taufiq wal hidayah

Tinggalkan Balasan