Niat Yang Ikhlas Adalah Dasar Diterimanya Amal

0
281

Niat Yang Ikhlas Adalah Dasar Diterimanya Amal

Keberadaan niat harus disertai dengan menghilangkan segala keburukan, nafsu dan keduniaan. Niat itu harus ikhlas kerana Allah dalam setian amal agar amal itu diterima di sisi-Nya. Sebab, setiap amal shalih mempunyai dua syarat yang tidak akan diterima kecuali dengan keduanya, yaitu:

  1. Niat yang ikhlas dan benar.
  2. Sesuai dengan Sunnah, yaitu mengikuti contoh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan syarat pertama, kebenaran batin aka terwujud dan dengan syarat kedua kebenaran lahir akan terwujud.

Tentang syarat pertama, telah disebutkan dalam sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

(( .بِالنِّيَّاتِ الأَعْمَالُ إِنَّمَا ))

”Sesungguhnya amal-amal itu hanya tergantung pada niatnya.”

Inilah yang menjadi timbangan amalan batin. Sedangkan syarat kedua disebutkan dalam sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

(( .مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ))

“Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”1

Allah subhana wa ta’ala telah menyebutkan dua syarat ini dalam beberapa ayat, di antaranya yang artinya:

“Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Rabbnya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” ( QS. Al-Baqarah [2]: 112 )

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ ))
((
…حَنِيفًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus…” ( QS. An-Nisa’ [4]: 125 )

Menyerahkan diri kepada Allah artinya mengikhlaskan amal kepada Allah azza wa jalla, sehingga dia beramal dengan didasari iman dan mengharapkan ganjaran dari Allah. Sedangkan berbuat baik artinya mengikuti apa yang disyari’atkan Allah dalam beramal dan apa yang dibawa oleh Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam berupa petunjuk dan agama yang haq.

Apabila salah satu dari syarat ini tidak terpenuhi, maka amalan tersebut tidak sah. Jadi, harus ikhlas dan benar. Ikhlas karena Allah subhana wa ta’ala dan benar mengikuti petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Zhahir (amalan)nya ittiba’ dan batin ikhlas. Apabila salah satu syarat ini hilang, maka amalan tersebut rusak. Apabila hilang keikhlasan, maka orang itu akan menjadi munafiq dan riya’ kepada manusia. Sedangkan jika hilang ittiba’-nya—artinya tidak mengikuti contoh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam— maka orang itu tersesat dan jahil (bodoh).2

Dari uraian diatas, menjadi jelaslah tentang pentingnya peran niat dalam amal. Niat menuntut keikhlasan dan keikhalasan semata tidak cukup menjamin diterimanya amal selagi tidak sesuai dengan ketetapan syari’at dan dibenarkan oleh Sunnah. Sebagaimana amal yang dilakukan sesuai dengan ketentuan syari’at tidak akan diterima selagi tidak disertai dengan keikhlasan, tidak ada bobotnya sama sekali dalam timbangan amal.

Semoga bermanfaat.

  1. Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 2697), Muslim (no. 1718 [18]), Abu Dawud (no. 4606), dan Ibnu Majah (no. 14) dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anhu
  2. Lihat Tafsir Ibni Katsir (II/423), cet. Dar Thayyibah.

Dikutip dari buku Syarah Arba’in An-Nawawi: Memuat 42 Hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam Tentang Fondasi Ajaran Islam dan Faedah-Faedahnya. Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas: Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i. Cetakan ketiga: 2015 (hlm. 30-32)

Facebook Comments
Bagi para pembaca yang Ingin Berdonasi untuk kemajuan dakwah kami

Bisa transfer ke rekening BNI Syariah kantor cabang Surakarta 0454-730-654  

Mohon konfirmasi setelahnya ke  Facebook.com/KamusIslam

LEAVE A REPLY