Seekor Burung Akan Terbang Bersama Gerombolan Yang Sejenis

0
534

Seekor Burung Akan Terbang Bersama Gerombolan Yang Sejenis

Saudaraku…, pernahkah engkau mendapati dan memperhatikan gerak dan tingkah laku segerombolan burung? Cobalah sesekali jika bertemu mereka, luangkan sedikit waktumu untuk mengambil sebuah pelajaran darinya. Cobalah memperhatikan burung-burung itu dengan jenis-jenisnya, lalu hubungkan dengan manusia dan semua tabi’atnya.

Setelah engkau memperhatikan, cobalah hubungkan dengan tabi’at manusia. Maka akan kita dapati manusia itu semacam segerombolan burung terbang yang saling menyerupai antara burung yang satu dengan burung yang lainnya. Demikianlah bahwa seekor burung itu akan terbang bersama dengan burung yang sejenis. Maksudnya begitulah kira-kira sifat dan tabi’at manusia dalam kehidupan yang fana ini, yang seorang teman bagi manusia akan mempunyai kesamaan dengan temannya, (الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ). Sebagaimana tabi’at orang tua itu bisa menurun kepada anaknya, maka demikian pula halnya dengan akhlak yang jelek pun sangat besar pengaruhya, karena tabi’at orang itu cepat menular. Begitupun tentang akhlak seseorang juga akan cepat dipengaruhi dengan siapa ia berteman.

Oleh karena itu, marilah kita hindari dari bergaul dengan mereka yang buruk perangainya, karena itu bisa menjadi sebuah bahaya besar, mencegah itu lebih mudah dari pada mengobati. Marilah kita pilih teman dan pergaulan yang bisa membantu kita untuk mencapai cita-cita kita, dan bisa mendekatkan diri kita kepada Allah ﷻ serta yang searah dengan kita dalam tujuan dan cita-cita kita yang mulia, dan marilah kita mempertimbangkan masak-masak dalam memilih teman. Rabbuna Yaftah Alaina…

Uraian di atas sesuai dengan apa yang di permisalkan oleh Rasulullah ﷺ, bahwa:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ لَا يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi, Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekedar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap”.1

Maka wajib bagi kita memilih teman yang shalih yang bisa menunjukkan kita dan menjelaskan kita kepada kebaikan serta menganjurkan kita untuk melaksanakannya, juga bisa menjelaskan kepada kita tentang kejelekan dan mengingatkan kita untuk tidak melakukannya. Jangan kita berteman dengan orang yang jelek, karena seseorang itu tergantung agama temannya. Betapa banyak manusia yang baik namun karena dia berteman dengan syaitan dari jenis manusia, maka akhirnya bisa menghalanginya dari kebaikan, namun betapa banyak orang jahat bisa menjadi baik karena berteman dengan orang yang baik.

Dari sini maka kami nasehatkan pada diri kami dan kepadamu wahai saudaraku, jikalaupun ada sebab-sebab tertentu untuk berteman dengan orang yang fasiq, misalnya kita ingin menunjukkannya pada jalan kebenaran, maka tidak mengapa kita berteman dengannya, untuk kita mengajaknya ke rumah kita misalnya, atau kita yang datang ke rumahnya, atau mungkin bisa juga dengan keluar bersama untuk jalan-jalan, dengan catatan kalau hal itu tidak mengurangi harga diri kita di hadapan manusia lainnya. Karena betapa banyak orang yang asalnya fasiq akhirnya diberi hidayah oleh Allah karena berteman dengan orang yang baik.

Sekali lagi ingatlah wahai saudaraku bahwa “seekor burung itu akan terbang bersama burung yang sejenis”. Dan manusia itu adalah seperti segerombolan burung terbang yang saling menyerupai antara burung yang satu dengan burung yang lainnya. Begitulah nasehat syeikh Utsaimin dalam karya beliau, bahwa:

2النّاسُ كأسرابِِ القَطا مَجبُولون على تشبُّهِ بعضِهم ببعضٍِ

Allahu A’lam bishawaab…

_____________
Daftar Pustaka:

1. Shahih Bukhari: 3/63/2101, Shahih Muslim: 4/2026/2628, (Maktabah Asy-Syamilah).

2. Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh Hilyah thaalib al-‘ilm, hal. 157.

Tinggalkan Balasan