Hai Kamu Iya Kamu, Dari Sini Ia Bermula Bedah Penyakit Syirik Cinta

0
316

Hai Kamu Iya Kamu, Dari Sini Ia Bermula
Bedah Penyakit Syirik Cinta

Berawal dari pandangan mata. Wanita cantik memesona atau pria tampan rupawan itu membuatmu jatuh cinta. Lalu kamu ingin memilikinya. Hal yang lumrah terjadi pada siapa saja. Asalkan engkau segera mengabaikan, semua akan baik-baik saja. Sibukkan diri dengan cinta kepada-Nya. Dan mencintai apa yang dicintai-Nya.

Namun, jika engkau biarkan benih cinta itu akan menumbuhkan semacam reseptor sensitif di hatimu yang siap menangkap setiap sinyal yang datang dari kekasih.

Saat bayangannya berkelebat, reseptor itu merespon dan menyalakan sinyal. Hatimu berguncang. Saat namanya disebut, reseptor itu kembali bergerak dan menyalakan sinyal. Hatimu kembali tidak tenang. Lagi-lagi, segera carilah kesibukan positif. Kembali tenggelamkan hatimu dalam cinta kepada-Nya.

Sebentar. Saya ingin menyela dulu. Apakah selalu cinta berawal dari pandangan mata? Tidak semua. Kadang-kadang yang menjadi biang keroknya adalah telinga. Mendengar hal-hal hebat tentang dia yang membuatmu jatuh cinta.

Jika cinta dibiarkan melawati dua fase pertama, ia akan tumbuh semakin besar. Semakin kuat. Muncullah bunga-bunga kerinduan. Saat engkau tidak lagi di dekatnya, pikiranmu terbang mengawan, mengangkasa. Jauh mencari di mana gerangan ia, kekasih pujaan. Indah terbayang dalam pikiran, andai dirimu dengannya selalu berdekatan.

Cinta semakin kuat dan berubah semacam lem perekat. Melekatkan perhatianmu kepadanya. Tidak sekejap pun engkau bisa melepaskan perhatian darinya. Bagaimana kabar beritanya? Ke mana ia pergi? Sedang apa dia sekarang? Apakah ia bahagia di sana? Apakah ia memikirkanku? Tidak pernah kendur perhatian ini, seperti tukang kredit yang selalu mengawasi gerak-gerik nasabahnya. Tidak ada sedikit pun yang berhubungan dengannya, kecuali pasti menjadi perhatian. Sampai di sini, harus ada yang membunyikan alarm tanda bahaya. Bangun, siaga! Bahaya besar sedang mengancam. Bahaya yang lebih dahsyat dari tiupan wedhus gembel dari gunung merapi.

Sekarang, penyakit sudah memasuki stadium lima. Ia sudah menyerang akal sehatmu. Membuatmu mabuk kepayang. Pada stadium ini, semua sensor yang membaca keburukan kekasih mati dan tak berfungsi dalam otakmu. Apa pun hal buruk padanya tidak lagi kaurasakan. Bahkan engkau merasakan sebaliknya. Senyum kecutnya terasa lebih pahit madu. Sikap kasarnya terasa lebih lembut daripada sutera. Menderita bersamanya serasa bahagia dihembus angin surga. Bius cinta telah membuatmu hanya merasakan satu bersamanya, bahagia. Tidak ada lainnya. Kasihan dirimu, kamu hidup seperti manusia paling sengsara, tapi merasa dirimu paling bahagia.

Tahap berikutnya, cinta menguasai pusat hati. Menyebar ke seluruh tubuh tanpa kecuali. Menggerakkan semua anggota badan agar memburu kekasih. Dengan cara apa pun. Tak peduli akan halangan apa pun. Tidak peduli lagi jika engkau melakukan hal-hal yang di luar kewajaran. Tidak ada lagi hal memalukan. Layaknya Zulaikha yang dirasuki cinta kepada Yusuf. Lupa bahwa dirinya isteri Raja. Lupa bahwa Yusuf hanyalah budaknya. Karena getaran cinta telah terasa di mana-mana.

Dan pada stadium akhir. Di puncak sakitnya. Cinta telah menjelma menjadi perbudakan. Karena cinta engkau sanggup menjadikan dirimu budak bagi kekasihmu. Mematuhi semua perintahnya. Meninggalkan semua larangannya. Membenci semua yang dibencinya. Menyukai semua yang disukainya. Marah karenanya. Senang karenanya. Mengorbankan apa saja, yang murah atau yang mahal demi dia.

Itulah tahap demi tahap bencana cinta kepada selain Allah, bukan karena Allah. Atau cinta kepada selain Allah bersama cinta kepada Allah.

Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, awal kesengsaraan manusia adalah ketika ia mencintai selain Allah bukan karena Allah. Atau mencintai selain Allah bersama cinta kepada Allah. Simaklah firman Allah, Kekasihmu yang sebenarnya. Satu-satunya Dzat yang layak kau cintai.

ومن الناس من يتخذ من دون الله يحبونهم كحب الله. والذين آمنوا أشد حبا لله.

“ Di antara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintai tandingan-tandingan itu seperti cintanya kepada Allah. Sedangkan orang-orang beriman lebih besar cintanya kepada Allah.” ( Al-Baqarah [2]: 165 )

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu, dan kecintaan kepada apa yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan